Kamis, 14 November 2013

Bencana Hidrometeorologi : Cuaca Mengancam …



Musim bergeser siklusnya tak lagi ajek, petani kerap salah langkah. Banjir dan longsor meluas di musim hujan. Sebaliknya, kekeringan makin nyata di beberapa daerah. Puting beliung pun menggila. Sederet bencana yang dipicu cuaca ini diperkirakan akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang.
Oleh : Ahmad Arif

Sederet bencana, mulai dari banjir, longsor, cuaca ekstrem, kekeringan, dan puting beliung, merupakan jenis bencana hidrometeorologi. Bencana ini terutama dipengamhi oleh aspek cuaca, walaupun bisa dipicu oleh ulah manusia, atau kombinasi kedua faktor ini.


Dalam tiga dasawarsa terakhir, tren bencana hidromete­orologi di Indonesia meningkat drastis, baik intensitas, frekuensi, sebaran, maupun kekuatannya.
Berdasarkan Data dan Informasi Bencana Indonesia (DIBI) selama tahun 1815-2011 terdapat 11.910 kejadian benca­na yang menyebabkan 329.585 orang meninggal dan hilang serta lebih dari 15,8 juta orang mengungsi. Dari jumlah itu, 77% termasuk bencana hidrometeorologi, 3% benca­na geologi, sisanya bencana karena ulah manusia dan biologi.  Bencana banjir ada 2.712 ke­jadian (40%) total bencana di Indonesia. Selain banjir, puting beliung menunjukkan peningkatan paling pesat.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, dalam 10 tahun terakhir (2002-2011), puling beliung me­ningkat 28 kali lipat.
Ada 404 kabupaten/kota di Indonesia dengan jumlah penduduk 115 juta jiwa tinggal di daerah rawan puting beliung. Sebaran rawan tinggi puting be­liung ada di sepanjang barat Sumatera, pantura Jawa, NTT, dan selatan Sulawesi Selatan. "Wilayah yang dulu tidak pernah dilanda puting beliung kini kerap dilanda," kata Sutopo.

Tren global
Indikasi kenaikan bencana hidrometeorologi juga terjadi di seluruh dunia. Secara global, 76% bencana dalam kurun 1900-2011 adalah bencana hid­rometeorologi, dan menunjuk­kan tren meningkat.

Badan PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana (UNISDR) memperingatkan, bencana hidrometeorologi me­rupakan tantangan besar masyarakat dunia di masa mendatang. Hasil penelitian UNISDR de­ngan Louvain University Centre for Research on the Epidemi­ology of Disasters (CRED) menyebutkan, banjir merupakan bencana paling kerap terjadi di Asia sepanjang 2012, mencapai 44%. Bencana ini menimbulkan korban jiwa terbanyak dan kerugian ekonomi terbesar. Sebanyak 54% korban tewas di Asia akibat banjir dan 56% dari total kerugian eko­nomi di Asia disebabkan banjir.
Bencana hidrologi itu berpengaruh terhadap ekonomi dan kehidupan global. Banjir di Tha­iland tahun 2011 memerosotkan perekonomian negara itu. Banjir di Pakistan, Agustus 2010, menelan korban 1.700 jiwa dan kerusakan 9,7 miliar dollar AS.
Selain banjir, badai menjadi ancaman serius. Bahkan, tren bencana akibat siklon tropis meningkat 878% selama 1950-2010. Pekan lalu, di Filipina terjadi topan Bopha yang menewaskan lebih dari 1.000 orang. Tak hanya berdampak pada negara berkembang, ancaman bencana hidrometeorolo­gi juga melanda negara maju. Banjir di Australia dan topan Sandy di Amerika Scrikat pada Oktober 2012 menunjukkan negara-negara kaya pun tidak kebal terhadap risiko bencana ini.

Perubahan iklim
Guru Besar Hidrologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Sudibyakto mengatakan, kejadian bencana hidrometeorologi di­perkirakan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang. Hal ini sejalan dengan meningkatnya suhu Bumi akibat perubahan iklim global. "Bencana hidrometeorologi adalah bukti nya­ta bahwa perubahan iklim hadir di tengah kita," katanya.  Meningkatnya suhu Bumi, menurut Sudibyakto, menambah akumulasi awan, dan memicu sejumlah bencana hidro­meteorologi.
Kepala Pusat Perubahan Ik­lim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Edvin Aldrian juga menduga, naiknya suhu Bumi meningkatkan frekuensi bencana hidrometeorologi, khususnya puting beliung, sekalipun pembuktian langsung secara ilmiah masih sulit dilakukan.


Sutopo mengatakan, peru­bahan iklim meningkatkan ben­cana hidrometeorologi. Namun, untuk kasus banjir di Pulau Ja­wa, faktor antropogenik dinilai lebih berperan. Kesimpulan ini dibuat setelah menganalisis fre­kuensi dan curah hujan serta debit sungai di Jawa dalam 30 tahun terakhir.
"Data yang ada menunjukkan tren penurunan curah hujan. Data curah hujan maksimum tahunan juga stabil. Tetapi, kenapa banjir meningkat?" kata Sutopo. "Artinya, faktor antropo­genik, khususnya perubahan penggunaan lahan, lebih dominan memicu banjir di Jawa."
Sutopo menjelaskan, berkurangnya kawasan resapan air, koefisien limpasan permukaan meningkat. Sebagian besar hu­jan yang jatuh berpotensi men­jadi banjir. Kondisi ini diperparah dengan sungai-sungai yang semakin terdegradasi aki­bat sedimentasi dan okupasi bantaran sungai untuk hunian.
Dibandingkan bencana geolo­gi seperti letusan gunung api dan gempa, yang murni karena faktor alam, ada jejak manusia yang berperan meningkatkan bencana hidrometeorologi. Melihat tren kerusakan alam yang kian pesat, suhu Bumi yang me­ningkat, peringatan UNISDR bahwa bencana ini akan men­jadi masalah besar bagi umat manusia agaknya tak bisa diabaikan.

Keterangan gambar : sebagai ilustrasi yang diambil dari internet
Sumber : Kompas, 21 Desember 2012

Berita lainnya :
Tsunami Jepang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar