Selasa, 22 November 2011

Dunia Masih Membutuhkan Pensil

Di tengah krisis ekonomi yang melanda Eropa, Faber-Castell yang berasal dari Benua Biru tidak terpengaruh.

Oleh : Marchelo
Puluhan tahun lalu, orang-orang meramalkan seluruh kegiatan nantinya bisa dilakukan dengan perangkat digital. Hal itu tentunya seiring dengan perkembangan teknologi yang pesat. Di perkantoran misalnya, diperkirakan semua kegiatan kerja akan menggunakan komputer dan tidak akan lagi memakai kertas dan alat tulis.
Namun, sampai sekarang, anggapan itu tidak sepenuhnya terwujud. Pekerjaan kantor masih menggunakan kertas dan alat tulis walaupun kom-puter sudah berperan lebih banyak.
"Paperless office yang diimpikan semua orang 20 sampai 50 tahun lalu ternyata tidak terjadi saat ini. Misalnya, kita tetap menulis catatan kecil dengan pena," kata Chief Executive Officer (CEO) of Faber-Castell AG, Count Anton Wolfgang von Faber-Castell.
Saat mengemban tugas sebagai CEO of Faber-Castell sejak 1978, Anton sempat khawatir dengan kemajuan teknologi yang diramaikan akan membuat alat tulis tradisional, seperti pensil yang diproduksi perusahaannya, tidak akan dibutuhkan lagi.
"Sebelum Perang Dunia II, hanya ada dua jenis alat tulis, yaitu pena tinta dan pensil, termasuk pensil mekanik, belum ada pulpen. Setelahnya, baru ditemukan pulpen. Manajemen kami khawatir hal itu akan menganibal pensil," tuturnya.
Dengan melihat fenomena tersebut, banyak orang bertanya mengapa Faber-Castell terus memproduksi pensil? Mengapa tidak menyerah saja?  Ada yang bahkan bertanya bagaimana salah satu perusahaan tertua Jerman itu bisa bertahan ratusan tahun menghadapi kemajuan teknologi?
Kebimbangan semakin bertambah tatkala pria yang hobi bermain tenis itu harus menghadapi tantangan internal untuk meyakinkan para pekerjanya membuat produk-produk baru di tengah kemajuan teknologi.
"Sulit menjalankan perusahaan karena saya harus meyakinkan orang lain dan memikirkan perkembangan baru. Saya tidak dapat menjalankan perusahaan hanya dengan perintah," ucapnya.
Tapi, fakta berbicara lain. Ternyata apa yang diramaikan banyak orang tidak memengaruhi penggunaan pensil. Sebaliknya, dunia masih membutuhkan pensil dan kebutuhannya terus meningkat setiap tahun.
"Semua harus percaya, menulis atau menggambar dengan tangan sendiri menggunakan pensil akan terus dilakukan," tuturnya.
Menulis, sambungnya, terbukti dapat mengembangkan kemampuan tiap orang, mengembangkan otak, serta membantu meningkatkan saraf motorik. "Kita harus terbiasa menggunakan produk-produk kreatif. Kami bahkan bekerja dengan peneliti, kami harus memberi tahu para ibu dan guru bahwa menggunakan alat tulis tangan sangat penting bagi pertumbuhan anak-anak," ujarnya.
Dalam penelitian yang dilakukan Faber-Castell bersama profesor psikologi Boston College, Ellen Winner, belasan anak diminta menggambar dengan kertas serta menggambar dengan komputer. Hasilnya seperti yang diharapkan, anak-anak yang menggambar dengan kertas memiliki suasana hati (mood) yang lebih baik serta kepercayaan diri yang lebih tinggi terhadap hasil gambarnya daripada anak-anak yang menggambar dengan komputer.

Terus bertumbuh
Bila melihat perjalanan historisnya, sekitar 50 tahun lalu, Faber-Castell sebenarnya tidak terlalu kuat pada instrumen teknik menggambar. Saat itu, produsen alat tulis tertua di dunia tersebut lebih dikenal sebagai produsen terbesar peng-garis hitung {slide rule) dan memiliki departemen matema-tika dengan para ahli matematika untuk mengembangkan produk slide rule.
Seiring dengan perubahan kebutuhan dunia, pasar slide rule menghilang akibat munculnya kalkulator. Hilangnya slide rule tentu saja sangat memukul Faber-Castell.
Untungnya manajemen perusahaan tidak berlama-lama meratapi kesedihan itu.
Pada 1990-an, Faber-Castell mulai fokus pada instrumen teknik menggambar, khususnya pensil warna. Sampai-sampai salah satu produk Faber-Castell, yaitu Aquarela, menjadi sangat terkenal di Brasil sekaligus menjadikan negara itu sebagai salah satu pasar terbesarnya
"Pada 1994, kami meluncurkan kembali ragam produk pensil warna di seluruh dunia. Kami beruntung bisa berpindah lebih cepat kepada instrumen teknik menggambar sebelum segalanya digantikan komputer," tutur Anton.
Saat ini, pertumbuhan produk pensil warna Faber-Castell mencapai 5% sampai 10%, secara global.  Menurut Anton, pertumbuhan produk pensil warna ditopang permintaan yang besar di negara-negara berkembang. Untuk produk pensil hitam (grafit), pertumbuhannya tidak sebesar pensil warna di negara-negara berkembang dan bahkan cenderung stagnan di negara-negara maju.
"Selama populasi dunia bertumbuh, pendidikan tetap ada, kami dapat berkembang. Di pasar negara-negara berkembang seperti Indonesia, kami memiliki peluang karena kualitas produk dan distribusi kami. Jadi, industri manufaktur pensil warna masih atraktif untuk beberapa waktu, terutama di negara berkembang," jelas Anton.
Di tengah krisis ekonomi yang melanda Eropa, lanjutan, Faber-Castell yang berasal dari Benua Biru itu bahkan tidak terpengaruh.  Memang, pasar di Spanyol dan negara-negara Eropa Timur terkena dampak krisis, tetapi tidak dengan pasar di negara Amerika Latin dan Asia, serta di negara asal mereka, Jerman.

Keterangan gambar : sebagai ilustrasi (tambahan) yang diambil dari internet
Sumber : bataviase.co.id atau harian Media Indonesia tgl 21/11/201 

Bacaan terkait :
Pensil, Jenis dan Kode serta Penggunaannya 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar