Rabu, 05 Desember 2012

Potensi Kelautan dan Perikanan Indonesia


Dikemas oleh : Isamas54
Indonesia merupakan negara kepulauan terluas di dunia yang diibaratkan ‘zamrud khatulistiwa’ yang memiliki ‘emas biru’ atau harta karun berupa kekayaan laut.


Data umum 


(a).  Potensi wilayah perikanan,, secara geografis wilayah Indonesia sangat strategis karena merupakan jalur pelayaran internasional, baik melalui Selat Malaka maupun Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), terdiri dari :  seluas 5,8 juta km2 laut, ± 81.000 pulau,  dan ± 81.000 km garis pantai  atau mendekati 25% panjang pantai di dunia
(b). Pelabuhan perikanan samudra, ada 5 yaitu : Muara Baru, Belawan (Sumatera Utara), Jakarta (DKI Jakarta), Cilacap (Jawa Tengah), dan Bungus (Sumbar).  Pelabuhan tipe ini dibangun secara terintegrasi dengan pabrik dari mulai pengolahan ikan sampai pengepakannya sehingga bisa langsung diekspor dari pelabuhan. Bandingkan dengan Jepang dengan panjang pantai jauh lebih pendek dari Indonesia memiliki 5.000 pelabuhan samudra.
(c).  ±60% penduduk Indonesia hidup dan tinggal di pantai, yaitu ada sekitar 9.261 desa pantai dari 64.439 desa yang ada di Indonesia. Se­bagian besar penduduknya ada­lah nelayan yang menggantungkan hidupnya hanya pada kekayaan lautan.  Nelayan ini sangat tergantung pada keadaan cuaca dan kebanyakan mereka ha­nya bisa melaut selama 6 bulan dalam setahun. (Kompas, 4/9/1993)
(d). Konsumsi ikan oleh rakyat Indonesia yaitu satu orang hanya 4,71 gram/hari (data tahun 1993).
(e).  Pencurian kekayaan laut, banyak dicuri pihak lain dan kurang memiliki perangkat (lunak dan keras) yang cukup memadai untuk mencegahnya.

Pemanfaatan laut lainnya
Pemanfaatan secara optimal mengenai potensi wilayah kelautan kita dapat memberi kontribusi ekonomi yang besar bagi pembangunan bangsa Indonesia.
(a).   Bahan bioaktif
Berbagai bahan bioaktif terkandung dalam biota perairan laut seperti Omega-3 hormon, protein dan vitamin memiliki potensi yang sangat besar bagi penyediaai bahan baku industn farmasi dan kosmetik ± 35.000 species biota laut memiliki potens sebagai penghasil obat-obatan yang dimanfaatkan baru 5.000 species beberapa oba atau vitamin yang diekstrak dari laut misalnya minyak dari hati ikan sebagai sumber vitamin A+D, insulin diekstrak dan ikan paus dan tuna, obat cacing dari alga merah.
(b).    Minyak dan gas bumi
Ada 60 cekungan (40 cekungan di lepas pantai, 14 di pesisir) dapat menghasilkan ± 84,48 miliar barel minyak (baru 9,8 miliar yang diketahui dengan pasti, 74,68 milyar barel belum dapat dimanfatkan).
Walaupun cukup besar potensmya tetapi relatif terisolir dan jauh dari pusat konsumen sehingga perlu intensifikasi eksplorasi dan eksploitasi ladang-ladang minyak, penambangan sumber minyak serta penguasaan teknologi penambangan lepas pantai perlu ditingkatkan.
(c).  Energi kelautan
Merupakan energi non konvensional dan termasuk sumberdaya kelautan (SDK), non hayati yang dapat diperbaharui dan memiliki potensi untuk dikembangkan di kawasan pesisir dan lautan Indonesia. Sumber daya ini di masa yad semakin signifikan manakala sumber energi berasal dari BBM (bahan bakar minyak) makin tipis. Jenis energi kelautan yang berpeluang dikembangkan adalah Ocea Thermal Conversions (OTEC), energi kinetik dan gelombang pasang surut dan arus, konversi energi dan perbedaan salinitas (kadar garam).
Energi OTEC dimungkinkan untuk dikembangkan karena didasari atas perbedaan suhu air laut permukaan dengan suhu air kedalaman 1 km minimal 20°C. Hal ini terlihat dan banyak air laut teluk serta seiat yang cukup dalam di Indonesi memiliki potensi yang sangat besar bagi pengembangan OTEC. Salah satunya adalah pilot plans OTEC di pantai utara Puiau Bali. 
Perbedaan pasang surut. Energi berasal dan perbedaan pasang surut dan enerj yang berasal dari gelombang. Mempunyai potensi untuk dikembangkan. Kajia untuk pengembangan dilakukan oleh BPPT kerjasarna dengan Norwegia di Pantai Baron Yogyakarta. Energi pasang surut di 2 lokasi yaitu Bagan Siapi-api da Merauke karena kisaran pasang surut mencapai 6 m.
(d).   Jasa lingkungan
Pemanfaatan   SDK   secara   berkelanjutan   dapat   dilakukan   terhadap   jenis-jenis lingkungan terutama untuk pengembangan pariwisata (wisata bahari) dan pelayaran.
(e).   Kepariwisataan bahari adalah upaya pemgembangan dan pemanfaatan obyek dan daya tarik wisata bahan yang terdapat di seluruh pesisir dan lautan Indonesia yang merupakan bentuk kekayaan alam yang indah (pantai), keragaman flora da fauna seperti terumbu karang dan berbagai jenis ikan hias yang diperkirakan sekitar 300-an jenis. Tahun 2002 panwisata bahari menyumbang 4,5 milyar dolar AS atau menurun 16,5% dari tahun 2001. Penurunan ini disebabkan kondisi stabilitas nasional Indonesia terutama setelah ledakan Bom Bali tanggal 1 Oktober 2002. Untuk hal ini perlu upaya serius untuk menciptakan kenyamanan dan ketenangan seluruh Indonesia. Selain itu perlu memperhatikan kekhasan nilai jual dan peningkatan mutu komoditi pariwisata sehingga dapat meningkatkan masyarakat mternasional untuk berkunjung ke Indonesia.
(f).   Jasa transportasi laut (perhubungan laut)
Baik antar pulau maupun antar negara masih dikuasai oleh armada niaga berbendera asing. Berdasarkan data yang ada maka hampir 80% proses perpindahan barang-barang antar pulau menggunakan jasa perhubungan laut.

Sejarah
(a).  Telah ada Hukum Pelayaran dan Perdagangan Amanna Gappa (lihat buku Tata Lautan Nusantara dalam Hukum dan Sejarahnya oleh Prof Mr St Munadjat Danusaputro, SH) - warisan hukum laut Indonesia dari daerah Wajo, Tanah Bugis, Su­lawesi Selatan. Dari sana terungkap berbagai aspek bidang kelautan bangsa Indonesia (berorientasi kelautan) sejak zaman kuno, diantaranya sudah ada tata penyelenggaraan kewenangan di laut, tata penyelenggaraan kemiakmuran, tata kehidupan sosial dan kebudayaan, serta tata penyelenggaraan pertahanan dan keamanan. Kesadaran akan entitas sebagai sebuah negara kepulauan terpicu ketika terjadi ketegangan dengan Belanda yang bereaksi keras karena perusahaan-perusahaan Belanda dinasionalisasi Pemerintah Indonesia
(b). Tanggal 13 Desember 1957 keluarlah Deklarasi Juanda yang menegaskan "asas negara kepulauan" - dengan menghubungkan titik-titik terluar da­ri pulau-pulau terluar Indonesia sehingga kepulauan Indonesia menjadi satu unit yang utuh bulat.  Untuk hal ini Indonesia ditentang keras oleh negara-negara besar seperti AS, Perancis, Inggris, Belanda, Australia, dan Selandia Baru.
(c).  Dekrit Presiden 5 Juli 1958 diikuti dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (PPPU) Perairan Indonesia pada 18 Februari 1960, yang merupakan reaksi Indonesia atas tentangan tersebut yang merombak tata kelautan dengan menerapkan batas tiga mil dari setiap pulau.
(d).  Pembentukan "negara kepulauan" ini telah melampaui perjuangan panjang dan berat yang tercermin dalam semboyan Angkatan Laut Republik Indonesia "Jalesveya Jayamahe"— "di laut kita jaya".
(e).  Departemen Kelautan dan Perikanan baru muncul saat pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid.

Peraturan
(a).  Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2006 tentang subsidi bahan bakar minyak untuk nelayan dan usaha budidaya
(b).  Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (PPPU) Perairan Indonesia pada 18 Februari 1960, telah merombak tata kelautan kolonial yang menerapkan batas tiga mil dari setiap pulau.
(untuk peraturan pokok mengenai perikanan ini mungkin ada yang terbaru)

Potensi wilayah
Kawasan ekosistem laut wilayah Indonesia memiliki 12 jenis padang kawasan seagrass -jenis ekosistem perairan yang penting untuk tempat mencari makan binatang laut seperti penyu- dan memiliki 555 jenis rumput laut dan baru 56 yang dimanfaatkan.  Selain hutan mangrove yang penuh dengan bakau, ada juga rawa non-bakau, di antaranya penuh dengan pohon nipah di daerah pasang surut di muara sungai-sungai besar di Kalimantan, Irian Jaya, Sumatera maupun di Sulawesi.  (Kompas, 4/9/1993)
Mempunyai perairan karang seluas 6.800 km2 yang membentang sepanjang 17.500 km, ekosistem ini mempunyai fungsi yang sangat penting yaitu sebagai tempat memijah, mencari makan, daerah asuhan dari berbagai biota laut, dan sebagai sumber plasma nutfah.  Di sini hidup ± 263 jenis ikan laut.
Perikanan laut, yang berhubungan langsung dengan pemanfaatan sumber daya alam lautan, kontribusinya masih kecil sekali, hanya 4,3%. Maximum sustainable yield perikanan laut Indonesia diperkirakan sebesar 6,7 juta ton per tahun. Potensi sebesar itu baru sekitar 32% yang telah dieksploitasi. (Kompas, 4/9/1993)

Sumberdaya perikanan
Sumber perikanan yaitu perikanan tangkap dan perikanan budidaya (termasuk di darat).
(a).  Perikanan tangkap. 
Potensi ikan laut : 6,4 juta ton per tahun, terdiri dari : ikan pelagis besar 1,65     juta ton,  ikan pelagis kecil 3,6 juta ton, ikan demersal 1,36 juta ton, ikan karang 145 ribu ton, udang peneid 94,8 ribu ton, lobster 4,8 ribu ton,  cumi-cumi  28,25
(b).  Perikanan budidaya
a.  Budidaya laut (marine kultur). 
Potensi : dihitung 5 km garis pantai ke arah laut yaitu sekitar 2453 juta ha.
Jenis  : ikan kakap, kerapu, tiram, kerang darah, teripang, kerang mutiara, abalon dan rumput laut.
Tahun 2000 kegiatan mencapai 994,962 ton dengan mlai Rp 1,36 trilyun.
(c). Budidaya tambak
Potensi   :  Perkiraan  potensi   lahan  tambak  : 913.000   ha,  sedangkan   tingkat  pemanfaatan 344,759 ha (40%) total potensi.
Jenis    : udang besar terutama pada lahan di daerah hutan bakau. Adapun komodita potential yang dapat dibudidayakan adalah : udang windu, udang putili udang api-api, udang cendana, ikan bandeng, baronang, belanak dan ikai nila.
Tahun 2000 budadaya tambak baru mencapai 430.017 ton (24 % potensi lahan tersedia yaitu apabila setiap 1 ha lahan menghasilkan produksi 2 ton dengan nilai produksi Rp  7,46 trilyun.

Permasalahan dan tantangan
(a).  Selama 22 tahun, 1983-2005; pelabuhan milik perusahaan Pelayaran In­donesia (Pelindo) menyusut dari 103 buah menjadi 68 buah
(b).  Setiap terjadi gejolak harga bahan bakar minyak (biasanya kenaikan yang jadi permasalahan).
(c).  Posisi Indonesia secara geografis rentan terletak di persilangan darat dan laut, yaitu Benua Asia-Benua Australia (darat), serta Samudra Indonesia-Samudra Pasifik (laut), tapi tingkat pengamanan laut kita amat rendah
(d).  Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) kelautan Indonesia amat tertinggal, tidak seperti negara lain yang telah maju dengan kondisi dan permasalahan kelautannya a.l Jepang dan Rusia.
(e).  Era teknologi satelit, sering diungkapkan bahwa peta perikanan laut Indonesia sudah dikuasai Jepang.
(f).  Dalih untuk dapat menyejahterakan kehidupan nelayan malahan semakin berorientasi ke darat (a.l tambak) dalam proses pembangunannya. 
(g). Pencurian sumber daya laut atau penangkapan yang tidak sesuai dengan aturan.
(h).  Permasalahan karena perilaku masyarakat
(1).  Polusi perairan seperti akibat sampah padat dan sampah cair. Sejumlah taman bawah laut yang indah sebagian telah rusak antara lain disebabkan cara penangkapan ikan yang tidak benar, yang akan meru­sak terumbu karang, adalah menggunakan bahan peledak, seperti terjadi di kawasan NTB.
(2).  Usaha "budidaya", yang kenyataannya hanya pembesaran ikan kecil hingga mencapai ukuran komersil, tidak ada usaha pengusaha untuk melepaskan sebagian hasil pembesarannya ke alam untuk menambah populasi di alam.
(3).  Kehidupan nelayan yang masih kurang memadai. 


Solusi pemanfaatan
Potensi dan keadaan wilayah kelautan Indonesia saat ini belum dikelola dan digunakan secara optimal untuk dasar pola pikir maupun pembangunan, disamping itu diperlukan  pengawasan dan pengamanan laut yang harus ditingkatkan secara terus menerus.  

Solusi untuk pemanfaatan potensi kelautan yang relatif  luas dan berpotensi ini tentunya harus dilakukan melalui pengembangan iptek (penelitian dan peningkatan sumberdaya manusia), keamanan dan kenyamanan, serta tekad dan kesadaran dari masyarakat untuk memelihara (dari polusi) dan meningkatkan kekayaan sumberdaya berupa lautan.

Keterangan gambar : sebagai ilustrasi yang diambil dari internet
Sumber a.l :  tulisan pada  Republika tgl. 18 Maret 2004

Bacaan terkait :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar