Minggu, 06 Maret 2011

Memasuki Perguruan Tinggi di Indonesia (Bagian 1)


Setelah lulus SLTA dan apabila akan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi maka sebaiknya mengetahui dulu sejarah dan perkembangan keadaan perguruan tinggi di Indonesia, minimal sebagai bahan orientasi yaitu melalui media informasi (koran, majalah, televisi, internet dsb.) maupun lisan atau pesan singkat informasi dari kawan atau sumber lain.  Hal tersebut bagi yang akan sekolah di dalam maupun luar negeri, juga bagi orang tua yang mendorong dari belakang (termasuk biaya), tidak salahnya untuk mengetahui minimal sebagai bahan sumbang saran.

Sejarah Perguruan Tinggi di Indonesia
Dimulai sejak pemerintah Hindia Belanda memberlakukan Politik Etis, yang salah satu programnya adalah pendidikan. Program pendidikan mendorong timbulnya sekolah-sekolah yang semula hanya sekolah dasar untuk belajar membaca, menulis, dan menghitung, kemudian diperluas pada sekolah menengah dan perguruan tinggi. Perguruan tinggi ini yang kemudian menjadi cikal bakal berkembangnya Universitas dan Fakultas di Jakarta, Bandung dan Surabaya.
Awalnya rintisan perguruan tinggi perintisan ini hanya di bidang kesehatan saja. Pada tahun 1902 di Batavia didirikan School tot Opleiding van Inlandsche Artseri (School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen atau dikenal sebagai Sekolah Dokter Bumi Putera) kemudian NIAS (Nerderlandsch Indische Artsen School) tahun 1913 di Surabaya . Ketika STOVIA tidak menerima murid lagi, didirikanlah sekolah tabib tinggi GHS (Geneeskundige Hooge School) pada tahun 1927. Perguruan inilah yang sebenarnya merupakan embrio fakultas kedokteran.

Di Bandung tahun 1920 didirikan Technische Hooge School (THS) yang pada tahun itu juga dijadikan perguruan tinggi negeri. THS ini adalah embrio ITB.
Pada tahun 1922 kemudian berdiri sekolah hukum (Rechts School) yang kemudian ditingkatkan menjadi sekolah tinggi hukum (Recht hooge School) pada tahun 1924. Sekolah tinggi inilah embrio Fakultas Hukum di Indonesia. Di Jakarta tahun 1940 didirikan Faculteit de Letterenen Wijsbegeste yang kemudian menjadi Fakultas Sastra dan Filsafat di Indonesia.
Di Bogor didirikan sekolah tinggi pertanian (Landsbouwkundige Faculteit) pada tahun 1941 yang sekarang disebut Institut Pertanian Bogor (IPB).
Pada zaman Jepang sampai awal kemerdekaan, GHS ditutup dan atas inisiatif  pemerintahan militer, GHS dan NIAS dijadikan satu dan diberikan nama Ika Dai Gakko (Sekolah Tinggi Kedokteran). Dua hari setelah proklamasi, tanggal 19 Agustus 1945, pemerintah Indonesia mendirikan Balai Pergoeroean Tinggi RI yang memiliki Pergoeroean Tinggi Kedokteran. Sekolah tinggi ini dibuka secara resmi pada tanggal 1 Oktober 1945.
Di masa perjuangan revolusi fisik melawan Belanda (1946-1949) Pergoeroean Tinggi Kedokteran mengungsi ke Jawa Tengah dan Jawa Timur, (Klaten dan Malang). Sementara itu pemerintah RI di Yogyakarta bekerja sama dengan Yayasan Balai Perguruan Tinggi Gajah Mada pada tanggal 19 Desember 1949 mendirikan Universitas Gajah Mada. Pada awalnya hanya ada 2 Fakultas, yaitu Hukum dan Kesusasteraan yang bertempat di pagelaran dan baru kemudian berangsur-angsur pindah ke kampus Bulak Sumur.
Pada zaman pendudukan, di Batavia pihak Belanda mengusahakan dibukanya kembali GHS. Maka bukan hal yang aneh ketika penyerahan kedaulatan, tahun 1949 timbul gagasan untuk menjunjung tinggi ilmu pengetahuan tanpa membedakan warna kulit dan asal keturunan. Kedua lembaga pendidikan bekas Belanda dan bekas Republik dijadikan satu menjadi Universiteit Indonesia, Fakulteit Kedokteran, tanggal 2 Februari 1950, yang saat ini dikenal dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)
Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta yang berdiri tahun 1948 merupakan perguruan tinggi swasta pertama dan paling tua di Indonesia.

Seleksi Masuk Perguruan Tinggi
Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri atau biasa disingkat SNM PTN dulu dengan nama-Seleksi tinggi negeri, selain program mandiri (melalui ujian mandiri) dan penyaluran minat dan bakat melalui seketeh-sekolah (PMDK). Ujian ini dilaksanakan selama dua hari dalam setiap tahunnya secara serentak di seluruh Indonesia, biasanya dilaksonakan pada awal bulan Juli.
Sejarah
Sebelum 1970-an setiap universi­tas negeri menyelenggarakan program ujian masuk sendiri-sendiri. Pada saat itu, seorang calon mahasiswa yang ingin mendaftar di UI sekaligus ke UGM harus ikut tes di Jakarta dan Yogyakarta.  Dengan cara seperti itu, tentu saja banyak biaya yang harus dikeluarkan. Sekretaris Eksekutif Kantor Pusat UMPTN Soeamalijah Soewondo adalah salah satu mantan peserta ujian yang harus mengikuti-tes di Yogyakarta dan Jakarta.  

Kuliah tempo dulu

Untuk mengatasi kendala geografis dan juga menghemat biaya pada tahun 1976 5 perguruan tinggi negeri di Jawa melakukan koordinasi penerimaan mahasiswa baru dengan membentuk Sekretarist Kerja Sama Antarlima Universitas (Skalu).  Perguruan tinggi itu adalah Universitas Indonesia (UI), Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Bandung ((ITB), Universitas Gadjab Mada (UGM), dan Uniyersitas Erlangga (Unair).  Untuk pertama kalinya 5 universitas tersebut memberi soal yang sama dan semua hasilnya diproses di Pusat Komputer UI.  Dengan cara ini, seorang yang ingin mendaftar di UGM tidak perlu harus ikut tes di Yogyakarta tapi bisa melaksanakannya di Bogor atau kota lain yang PTN-nya tergabung dalam Skalu.  Cara ini ternyata masih menyimpan kelemahan. Beberapa kali didapat kursi kosong karena calon mahasiswa bisa diterima di 2 jurusan. Tahun berikutnya, perbaikan dilakukan dengan sistem pilihan pertama dan kedua.
Pada 1977, sistem SKALU diperbaiki dengan mengharuskan mahasiswa memilih program studinya dan bukanhanya perguruan tinggi yang ingin dimasukinya. Atas pertimbangan jumlah PTN, standar dan lokasi,  Keberhasilan Skalu membuat Dirjen Pendidikan Tinggi mengundang tujuh perguruan tinggi negeri lainnya yaitu Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Brawijaya (Unibraw), (Institiut Sepuluh November (ITS), Universitas Sumatra Utara (USU), dan Universitas Hassanuddin (Unhas). 
Pada 1979 sistem ini dikembangkan dengan melibatkan lebih banyak perguruan tinggi negeri, yang dibagi ke dalam tiga kategori. Mereka akhirnya bergabung dalam sistem penerimaan mahasiswa baru pada 1979, tapi Unhas menolak karena merasa belum siap.  Sistem 10 perguruan tinggi ini kemudian dikenal sebagai Proyek Perntis I (PP I). Sementara itu, 4 universitas lain yaitu IPB, UI, ITB, dan UGM juga menggunakan sistem penerimaan yang telah dipakai IPB sejak 1971 Dengan sistem ini, para siswa sekolah menengah yang cerdas dari kawasan terpencil diterima tanpa tes. Proyek ini disebut PP II.
Sisa universitas lain dari luar Jawa - kecuali USU yang bergabung dalam PP I membentuk sistem penerimaan bersama dan dikenal sebagai PP III.  Sementara 10 IKIP membentuk sistem penerimaan yang dinamai PP IV.
Proyek Perintis 1 melibatkan 10 perguruan tinggi, yaitu kelima perguruan tinggi di atas ditambah dengan Universitas Padjadjaran di Bandung, Universitas Diponegoro Semarang, Universitas Brawijaya Malang, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, dan Universitas Sumatera Utara di Medan.  Di masyarakat luas, Proyek Perintis 1 ini lebih dikenal dengan nama SKASU (Sekretariat Kerja sama Antar Sepuluh Universitas). Dalam sistem ini, mahasiswa diizinkan memilih tiga program studi di tiga perguruan tinggi.
Perintis 2 : setelah kategori pertama, IPB, UI, ITB, dan UGM menyelenggarakan penerimaan mahasiswa baru tanpa ujian
Perintis 3 yaitu 23 perguruan tinggi negeri lainnya mengembangkan system yang mirip Proyek Perintis 1
Perintis 4 : system penerimaan yang dilakukan 10 IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan)
Tahun 1983, Depdikbud memutuskan mengadopsi sistem Proyek Perintis 1 dan 2 secara nasional dengan menghapus Proyek Perintis 3 dan 4.  Saat itu Ditjen Pendidikan Tinggi memutuskan untuk menjalankan sistem PP I dan PP II untuk semua perguruan tinggi negeri. Dalam sistem ini, PP berubah nama menjadi Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru) dan PP II berubah menjadi sistem Penelusuran Minat dan Bakat (PMDK).  PMDK sedikit berbeda dengan PP II karena melibatkan seluruh sekolah menengah di Indonesia sementara PP II hanya sejumlah sekolah menengah saja.

Para peserta SNM PTN
Tahun 1989, Sipenmaru berubah nama menjadi Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN), sedangkan PMDK dihapus dalam arti pelaksanaannya diserahkan pada masing-masing PTN. Perbedaan paling mencolok antara UMPTN dan Sipenmaru adalah sifat independen panitia.  Sampai saat ini UMPTN dianggap lebih unggul dan efektif untuk menangkal kemungkinan bocornya soal ujian. Salah satu kesuksesan panitia adalah menjaga kerahasiaan soal dengan 'misteri' struktur organisasi kepanitian. Orang-orang yang duduk di struktur panitia UMPTN, terang Soesmalijah, harus lulus? and pro­per test dan dikenal memiliki kredibilitas tinggi, "Bahkan anggota panitia mungkin tidak mengetahui siapa penanggung jawab tertinggi pada struktur organisasi kami," katanya.
Tahun 1989 PMDK dihapus dan Sipenmaru berubah menjadi UMPTN dan sistim ini bertahan sampai 2001.  Selanjutnya dikeluarkan SK mendiknas No. 173/U/2001 dan berubah nama menjadi SPMB, dan pada tahun 2008 berubah nama menjadi SN MPTN.

Peserta
Peserta adalah lulusan IP A, IPS atau Bahasa dari SMA atau sederajat dan telah lulus ujian nasional pada tahun yang sama (hingga dua tahun sebelumnya) dengan penyelenggaraan SNMPTN. Misalnya pada tahun 2009, SNMPTN boleh diikuti lulusan IP A, IPS atau Bahasa dari SMA atau sederajat yang telah lulus ujian nasional pada tahun 2009, 2008 atau 2007. Peserta terbagi atas peserta jurusan IP A, IPS dan IPC. Masing-masing peserta IPA dan IPS mengikuti ujian hari kedua sesuai jurusannya, sementara peserta IPC harus mengikuti ujian kemampuan IPA dan IPS.
Biasanya calon peserta lulusan IPA dan ingin memilih jurusan perkuliahan yang noneksakta, maka calon peserta itu mengikuti ujian jurusan IPC. Padahal tidaklah harus demikian karena calon peserta itu dapat langsung memilih ujian jurusan IPS. Ini bergantung kepada pilihan-pilihan jurusan perkuliahan yang dipilih.

Penyelenggaraan Tahun 2010
Pendaftaran SNMPTN tahun 2010 dimulai tanggal 2 Mei hingga 31 Mei 2010 bagi yang lulus ujian nasional utama 2010 dan lulus ujian nasional tahun 2008 dan 2009 dan tanggal 10 Juni hingga 12 Juni bagi yang lulus ujian nasional ulangan.
Ujian tertulis SNMPTN dilaksanakan pada tanggal 16 Juni hingga tanggal 17 Juni 2010 dan ujian keterampilan
pada tanggal 18 Juni hingga 19 Juni 2010.
Jumlah peserta sebanyak 447.107 orang memperebutkan daya tampung 80.000 kursi di 54 Perguruan Tinggi Negeri nasional. Dari peserta sebanyak itu, 142.710 orang mengikuti seleksi lewat jurusan IPA, 169.499 orang IPS, dan 134.898 orang lewat jalur IPC.
Pengumuman hasil SNMPTN yaitu pada tanggal 17 Juli 2010.

Keterangan Gambar : sebagai ilustrasi yang diambil dari internet
Sumber editing bacaan : Harian Kompas tanggal  7 Agustus 2000 dan id.wikipedia.org

Bersambung ke Bagian 2 (masih menunggu)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar