Sabtu, 11 Agustus 2012

Menjadi bangsa Mandiri Lewat Inovasi

Untuk mewujudkan kemandirian bangsa dibutuhkan inovasi-inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Menguasai iptek akan memberi nilai tambah.
Oleh : Siswantini Suryandari

Sepuluh Agustus, 17 tahun yang lalu, tercatat sebuah peristiwa bersejarah yang menjadi penanda lahirnya karya teknologi anak bangsa di Kota Bandung, Jawa Barat.  Saat itu dicanangkan penerbangan perdana pesawat terbang N-250 Gatotkaca, yang dibuat anak bangsa.
Pesawat tersebut merupakan produksi Industri Pesawat Ter­bang Nusantara (IPTN), yang kini menjadi PT Dirgantara Indonesia. Hal menarik dari pesawat Gatotkaca N-250 itu ialah menggunakan teknologi fly by wire yang cukup canggih dan belum pernah ada di kelasnya saat itu.
IPTN yang didirikan pada 1976 telah membuat pesawat dan helikopter dengan lisensi dari perusahaan pesawat lainnya, yakni C-212 yang merupakan pesawat lisensi dari CASA Spanyol. Kemudian ada NC-212 yang merupakan pengembangan dari pesawat tersebut.
IPTN terus memproduksi pesawat komersial lainnya yang lebih besar, seperti CN-235 yang diberi nama Tetuko. RancangbangunTetuko merupakan hasil kerja sama dengan CASA Spanyol.
Perlu diketahui pula pesa­wat produk dalam negeri itu telah mendapat sertifikat uji keselamatan dan keamanan penerbangan internasional. Artinya, pesawat-pesawat ter­sebut diakui dunia interna­sional atas keamanan dan keselamatan penerbangan. Peristiwa bersejarah pada 10 Agustus 1995 tersebut awalnya ditujukan sebagai kado ulang tahun emas (ke-50) kemerdekaan Indonesia.
Namun, dalam perjalanannya, dengan adanya respons politik dan dukungan masyarakat yang cukup besar, 10 Agustus dijadikan seba­gai tonggak penting perjalanan ilmu pengetahuan dan teknologi bangsa Indonesia. Presiden Republik Indone­sia melalui Keppres Nomor 71 Tahun 1995 menetapkan 10 Agustus sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas). BJ Habibie merupakan sang maestro pesawat buatan dalam negeri tersebut.  Proyek high tech itu akhirnya kandas berbarengan de­ngan krisis ekonomi yang melanda Indonesia.
Namun, tidak hanya teknologi canggih seperti pesawat yang tersingkir. Dalam beberapa minggu ini saja masyarakat diresahkan dengan hilangnya tempe sebagai makanan rakyat yang bergizi dan murah meriah.  Penyebabnya, Amerika Serikat sebagai negara penghasil kedelai tengah dilanda kekeringan. Gagal panen menyebabkan impor kedelai ke Indonesia terganggu.Sebelumnya juga marak diberitakan soal impor daging, gula, beras, garam, dan sebagainya. Padahal sumber daya alam Indonesia cukup lengkap. Meski begitu, ketergantungan akan impor masih tinggi.
Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-17 tahun ini mengambil tema Inovasi untuk kemandirian bangsa. Menteri Riset dan Teknologi, Gusti M Hatta, menjelaskan tema ter­sebut untuk mengajak masya­rakat Indonesia agar bangkit dan membangun Indonesia yang mandiri.
"Saya inginnya pangan, energi, dan lainnya bisa disediakan anak bangsa, tidak tergantung dari negara lain. Arahnya memang ke sana, menciptakan kemandirian bangsa. Misalnya untuk mencukupi bahan pangan nasional seperti kedelai, jagung, beras, dan sorgum dari lumbung nasional, bukan impor," kata Gusti.

Bangkit dan mandiri
Untuk mewujudkan ke­mandirian bangsa dibutuh­kan inovasi-inovasi iptek. Menguasai iptek, lanjut Menristek, akan memberi nilai tambah. Dia mencontohkan selama ini Indonesia dikenal sebagai penghasil kelapa sawit nomor satu di dunia. Sayang­nya, ekspor sawit Indonesia masih berupa bahan mentah, belum diolah menjadi produk turunannya.  Sebut saja harga ikan gabus yang dijual di Makassar Rp7.000 per kilogram. Namun, ketika diolah menjadi produk lain, harganya naik menjadi Rp300 ribu.
Menurutnya, seharusnya semua produk sudah diolah dari hulu ke hilir sebelum diekspor ataupun dipasarkan. "Sekarang ini pemerintah memiliki program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Inilah kesempatan untuk para peneliti melakukan inovasi-inovasi. Lewat MP3EI ini daerah punya kesempatan membentuk pusat-pusat unggulan," tambah Menristek.
Adapun untuk bidang akademik, riset-riset di pusat unggulan harus menghasilkan paten, muncul di publikasi jurnal in­ternasional, dan sebagainya.
" Kita harus optimistis bahwa itu bisa dilakukan. Jadi, calon-calon pusat unggulan itu harus dibina. Di Indone­sia baru ada pusat unggulan, yakni ke­lapa sawit di Sumatra Utara. Rencananya nanti ada pusat unggulan penyakit tropis di Universitas Airlangga, pusat unggulan tanaman tropis di IPB, dan sebagainya," lanjut Gusti.
Akibat keterbatasan dana, Kemenristek melakukan jemput bola untuk mewujudkan pusat unggulan itu. "Langsung didatangi di daerah-daerah yang berpotensi memiliki pusat unggulan. Mimpi saya ini setiap daerah bisa memi­liki satu pusat unggulan. Bila susah dicapai bisa kita gerak-kan Sistem Inovasi Daerah (Sida)."
Sida merupakan program yang diarahkan pada penelitian unggulan di daerah agar menghasilkan produk berkualitas. Hasil risetnya kemudian diterapkan para pengusaha di daerah.
Gusti mengaku kesuksesan atau output program pusat unggulan tersebut belum diukur. Saat ini, yang terukur baru sebatas input. Namun, lanjutnya, sudah ada bebera­pa hasil iptek yang memiliki gambaran hasil positif. Pelaksanaan e-government di Kabupaten Pekalongan, misalnya, mampu berhemat hingga Rpl4 miliar. Demikian juga Univer­sitas Sebelas Maret Surakarta mampu berhemat Rp200 juta.
Dukungan Sida belakangan ini semakin menguat setelah lahirnya Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dengan Menteri Riset dan Teknologi Nomor 36/2012 dan Nomor, 03/2012.
Dalam peraturan itu, badan litbang daerah sema­kin diperkuat karena akan menjadi ujung tombak da­lam kebijakan pembangunan daerah. Selama ini badan litbang daerah menginduk ke Kementerian Dalam Negeri, tetapi secara teknis mereka wajib melaporkan ha­sil litbang daerah kepada Kemen­ristek.

Keterangan gambar : sebagai ilustrasi (tambahan) yang diambil dari internet.
Sumber bacaan : artikel pada Media Indonesia tgl. 8 Agustus 2012.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar