Senin, 02 Mei 2011

Penyanyi Legendaris Pria (2) : Rahmat Kartolo, Alvian dan Onny Surjono,


Ketiga penyanyi ini sempat berjaya dimulai dari awal 1960-an sampai dengan 1970-an.  Namun meskipun begitu lagu-lagunya tetap saja diingat sampai sekarang dan cukup mudah untuk di-karoke-kan. 


Rachmat Kartolo

Lahir di Jakarta. Pendidikan: SLA, ATNI (1957). Ketika sebuah majalah minta foto kedua orang tuanya pada 1958, Rachmat Kartolo mengambil dompet dan mengeluarkan foto adegan film "Roekihati" (1940), dimana nampak ayah dan ibunya, Kartolo dan Roekiah.
Walau menghormati orang tuanya yang sudah almarhum,namun pada saat itu Rachmat masih belum tertarik untuk memasuki dunia film,meski sudah membentuk band kecil bersama abang dan adiknya Iman dan Jusuf.
Namun 6 tahun kemudian Rachmat tampil juga di layar putih lewat "Kunanti Djawabanmu" (1964), yang judulnya diambil dari lagu yang sedang populer dan dinyanyikan olehnya.   Selanjutnya menjadi penyanyi terkenal dengan lagu-lagu "cengeng"nya, antara lain "Patah Hati" ciptaan abangnya Iman.
Pernah terpilih sebagai penyanyi populer 1964, actor, sutradara film, dan juga pernah jadi Direktur Perwakilan PH. Irama di Malaysia (Kualalumpur, 1968) dan Direktur P.T.Mafin Films.  Rekaman waktu menggunakan piringan hitam dan casset.
Lagu Pusara Cinta pernah melambung di tahun 1960-an oleh aktor terkenal Rahmat Kartolo, disamping lagu Kasih Kembalilah dan Kukan Kembali yang didendangkan bersama penyanyi Louise. Pusara Cinta mengisahkan bagaimana sengsaranya ditinggal pergi sang kekasih untuk selama-lamanya dan kini hanya tinggal pusara.
Lagu-lagu : Pusara Cinta, Kasih Kembalilah, Kukan Kembali, Patah Hati

Alfian (1943-1992)
Lahir di Binjai - Sumatera Utara pada tanggal 27 April 1943 dari pasangan Siti Chodijah Nasution dan Zaenal Abidin Harahap.  Mulai menunjukkan bakat nyanyi pada usia 20 tahun. Ia kerap mencontoh gaya Elvis Presley, Cliff Richard, dan Pat Bone, yang digandrungi anak-anak muda pada 1960-an.
Pada usia 20-an tahun Alfian sudah menulis lagu seperti 'Terkenang Ibu', 'Relakan', 'Di Mana Kasih'. Bermodalkan kemampuan olah vokal dan menulis lagu, pada 1964 Alfian merantau ke Jakarta. Lalu merekam suara emasnya di PT Remaco, perusahaan rekaman [label] terkenal masa itu.
Debut perdananya dengan album 'Senja di Kaimana' [ciptaan Surni Warkiman] sangat sukses. Lagu lain 'Sebiduk di Sungai Musi', 'Senja di Pantai Sanur'. Setahun kemudian, 1965, Alfian meraih beberapa penghargaan, termasuk dari Radio Republik Indonesia [RRI]. Pihak Remaco kian bersemangat merekam suara Alfian. Masuk lagi di studio rekaman, Alfian secara spontan menulis lagu Semalam di Cianjur. Dia tulis apa adanya di studio. Eh, justru lagu inilah yang mengangkat namanya di Indonesia serta negara-negara tetangga. Pihak Singapura, Philips, menawari Alfian bikin album bareng Tety Kadi.
Di puncak kepopuleran, Alfian menikahi Endang Irawati pada 1968. Mereka dikaruniai empat anak, yakni Tonny, Alfian, Yanti, Erry, Alfiriza.
Pada awal 1970-an musik pop Indonesia dikuasai grup-grup band baru macam Koes Bersaudara (Koes Plus), Panbers, D'Lloyd... yang menawarkan warna baru, maka penyanyi-penyanyi solo, termasuk Alfian meredup.
Alfian memilih lengser dari studio rekaman dan dunia nyanyi dan bekerja di PT Bonded Warehouse Indonesia di kawasan Tanjungpriok – Jakarta, menjadi pengawas bongkar muat kapal yang masuk. Karena pekerjaan ini tidak mengenal waktu praktis tidak bisa menyisihkan waktu untuk menyanyi.
Alfian wafat pada tanggal 11 Januari 1992 karena penyakit jantung dan diabetes.
Tonny Alfian, anak sulung almarhum, kemudian berupaya meneruskan jejak ayahnya di blantika musik Indonesia dengan memperkenalkan 'The Best of Alfian'.
Lagu-lagu : Semalam di Cianjur,  Sebiduk di Sungai Musi, Hadiah Ulang Tahun, Senja di Kaimana, Yang Ditinggalkan, Semalam di Kota Bogor.

Onny Surjono
Lagu-lagu Onny Suryono  pada masanya disenangi para penggemarnya, sedangkan media yang marak di masyarakat pada waktu itu (tahun 1960-1970-an) adalah radio dimana yang bisa sampai ke pelosok-pelosok adalah siaran dari RRI, untuk stasiun swasta hanya tertangkap di kota-kota besar saja, apalagi televisi (TV) yang ada hanya TVRI , sedangkan yang memiliki TV pada waktu (tahun 1970-an) hanya satu atau 2 orang saja.   Biasanya masyarakat rame-rame menonton TVpada tempat terbuka  (antara lain dekat pos jaga kantor) dari pesawat yang disediakan oleh sebuah perkantoran atau yang disediakan oleh Departemen Penerangan, hitam putih dengan stasiun pemancar hanya TVRI.
Data mengenai Onny Suryono perlu dilengkapi lagi, sedangkan lagu-lagunya
Antara lain Tjintamu Hanja Untukmu dari Onny Suryono dengan jawaban lagu Kasih Tak Sampai yang dibawakan oleh isrinya Tuty Subardjo.

Keterangan gambar : sebagai ilustrasi yang diambil dari internet
Sumber :  filmindonesia.or.id dan hurek.blogspot.com  11/6/2007

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar