Jumat, 29 April 2011

William Sang Penakluk (1027-1087)


 Pada tahun 1066, Pangeran William dari Normandia hanya dengan beberapa ribu tentara di belakangnya menyeberangi Terusan Inggris yang memisahkan daratan Benua Eropa dengan Inggris, berusaha menjadi penguasa Inggris. Keberaniannya mengupayakan keberhasilan - akhirnya kekuatan asing berhasil menaklukkan Inggris. Dalam Buku Michael H Hart (2005) merupakan Urutan ke-68 dari 100 Tokoh.


Penaklukan orang  Normandia ini lebih dari sekadar merebut mahkota Kerajaan Inggris bagi William dan keturunannya. Ini membawa pengaruh yang mendalam pada seluruh sejarah Inggris selanjutnya dalam berbagai segi dan jenisnya yang tak terbayangkan oleh William sendiri.
William dilahirkan sekitar tahun 1027 di Falaise, sebuah kota di Normandia Francis.  Satu-satunya putra Robert I, Pangeran Normandia.  Robert I meninggal dunia pada tahun 1035 ketika dalam perjalanan pulang berziarah dari Yerusalem.  Sebelum keberangkatannya dia sudah menunjuk William sebagai ahli warisnya. Jadi, pada umur delapan tahun, William sudah menjadi Pangeran Normandia.
Jauh dari jaminan baginya mendapatkan kedudukan yang nyaman dan mewah, justru pengangkatan membuat kedudukan William berbahaya. Dia tak lebih dari anak kecil yang haras mengepalai baron-baron (bangsawan) yang jelas sudah berumur. Tidak mengherankan jika ambisi sang baron lebih menonjol daripada kesetiaannya. Akibat-akibat selanjutnya terjadilah situasi anarki, tiga pengawal William dibunuh dengan kejam, bahkan guru pribadinya pun terbunuh. Dengan bantuan Raja Francis, Henry I (raja yang sebetulnya tak lebih dari namanya saja) William beruntung bisa terus bertahan.
Pada tahun 1042, ketika William menginjak usia pertengahan belasan tahun, dia diangkat menjadi perwira militer kehormatan. Sesudah itu, dia punya peranan pribadi dalam peristiwa-peristiwa politik. Kemudian pecahlah serangkaian pertempuran melawan baron-baron feodal Normandia yang pada akhirnya dapat dimenangkan William yang memantapkan kedudukannya. (Tak terelakkan lagi, status anak tak resmi yang ada pada diri William merupakan rintangan politis sehingga sering kali lawan-lawannya menyebutnya "anak haram").  Pada tahun 1063, dia berhasil menaklukkan Maine, provinsi tetangganya dan pada tahun 1064, dia juga berhasil diakui sebagai penguasa Britania, juga provinsi tetangga yang lainnya.
Dari tahun 1042 hingga 1066, Raja Inggris adalah Edward "Sang Penerima akuan." Karena Edward tak berputra satu pun, banyak rencana gerakan untuk menggantikan kedudukan kerajaan Inggris. Dari sudut hubungan darah, tuntutan William menggantikan Edward adalah lemah; ibu Edward adalah adik perempuan kakek William.  Namun, pada tahun 1051, barangkali dipengaruhi oleh cara William menunjukkant dia punya kesanggupan, Edward menjanjikan William untuk menjadi penggantinya.
Pada tahun 1064, Pangeran Harold Goldwin yang paling kuat di Inggris dan sahabat karib serta ipar Edward masuk dalam genggaman William. William memperlakukan Harold dengan baik, tetapi menahannya sampai dia bersumpah mendukung tuntutan William mendapat mahkota Kerajaan Inggris. Banyak orang beranggapan sumpah model todongan semacam ini tak punya kekuatan hukum dan ikatan moral, dan memang Harold sendiri tidak menganggap begitu. Ketika Edward meninggal pada tahun 1066, Harold. Goldwin menuntut mahkota Kerajaan Inggris bagi dirinya sendiri dan sebuah badan yang bernama "Witan" (badan yang beranggotakan para bangsawan yang lazim ambil bagian dalam pengambilan keputusan siapa-siapa yang menjadi pemegang mahkota kerajaan) memilihnya menjadi raja baru. William, yang ambisius memperluas kerajaan,  murka kepada Harold yang melanggar sumpah, memutuskan menyerbu Inggris untuk merebut takhta dengan kekerasan.
William menghimpun armada dan angkatan bersenjata di Pantai Prancis, dan pada awal Agustus 1066, dia sudah siap berlayar. Namun, ekspedisi itu ditunda beberapa minggu menunggu meredanya angin buruk dari utara. Sementara itu, Raja norwegia, Harald Hardraade melancarkan serangan terpisah terhadap Inggris melintasi lau utarai Harold Godwin menyiagakan pasukannya di sebelah selatan Inggris, siap menghadapi serangan William. Dengan demikian, dia harus mengerahkan pasukannya ke sebelah utara Inggris untuk menghadang serangan orang-orang Norwegia. Pada tanggal 25 September, dalam pertempuran di Stamford Bridge raja Norwegia tewas dan tentaranya berantakan.
Hanya dua hari kemudian, angin berubah di Terusan Inggris dan William bergegas mengerahkan pasukannya ke Inggris. Mungkin, sebaiknya Harold membiarkan William bergerak menuju arahnya atau sedikitnya mengistirahatkan prajuritnya secukupnya sebelum terjun ke medan pertempuran. Namun, yang dilakukannya justru kebalikannya. Dia terlalu cepat menggerakkan pasukannya kembali ke selatan menghadapi William.  Kedua angkatan bersenjata bertemu pada tanggal 14 Oktober 1066 dalam sebuah pertempuran terkenal di Hastings. Di hari itu juga pasukan berkuda dan pemanah William sudah mampu memorak-porandakan kekuatan Anglo-Saxon. Menjelang malam, Raja Harold sendiri terbunuh. Dua saudaranya sudah terbunuh lebih dahulu dalam pertempuran itu dan tak ada pemimpin Inggris tersisa yang punya kuasa dan wibawa membentuk pasukan baru atau melawan tuntutan William atas mahkota kerajaan. William dinobatkan di London pada hari Natal.
Setelah lima tahun, pecah beberapa pemberontakan yang terpencar-pencar, tetapi  William sanggup mengatasi mereka semua. William menggunakan dalih pemberontakan ini sebagai alasan menyita semua tanah di Inggris dan memaklumkan bahwa semua tanah miliknya pribadi. Banyak dan tanah-tanah itu kemudian dibagi-bagikan kepada pengikut-|pengikut orang Normandianya yang menguasai tanah itu dalam kondisi feodal selaku pengikutnya. Akibatnya, seluruh aristokrasi Anglo-Saxon ditanggalkan, diganti oleh orang-orang Normandia: (Betapa pun terdengar dramatis, hanya beberapa ribu orang saja yang secara langsung terlibat dengan perpindahan kekuasaan ini. Bagi para petani penggarap masalahnya tak lebih dari pertukaran majikan belaka).
William selalu merasa bahwa dialah Raja Inggris yang sah dan selama masa hidupnya sebagian besar lembaga-lembaga Inggris dipertahankan sebagaimana adanya tanpa perubahan. Karena William berkepentingan mendapat informasi menyangkut apa yang menjadi miliknya, dia memerintahkan dilaksanakannya sensus- terperinci mengenai penduduk i harta benda. Hasil sensus itu dicatat dalam sebuah buku besar yang disebut "Domesday Book", yang merupakan sumber informasi historis amat berharga. (Naskah aslinya masih ada hingga kini, disimpan di Kantor Pencatatan Umum di London).
William menikah dan punya empat putra dan lima putri. Dia meninggal pada tahun 1087 di kota Rouen, Francis Utara. Sejak saat itu, setiap raja di Inggris merupakan keturunannya langsung. Anehnya, meskipun William sang Penakluk ini mungkin merupakan  raja terpenting di Inggris, dia sendiri bukanlah orang Inggris, melainkan Francis. Dia dilahirkan di Francis dan meninggal di Francis, menghabiskan sebagian besar masa hidupnya di sana dan hanya bisa berbahasa Francis. (Dia kebetulan seorang buta huruf).
Dalam hal menilai arti penting pengaruh William atas sejarah satu hal yang paling diingat adalah tak akan terjadi penaklukan orang Normandia atas Inggris tanpa adanya William. William bukanlah pengganti mahkota Kerajaan Inggris semestinya. Kalau saja dia tidak mempunyai ambisi pribadi dan kemampuan, tak akan ada alasan sejarah perlunya orang Normandia melakukan penyerbuan. Inggris tak pernah mendapat serbuan Francis sejak penaklukan Romawi 1.000 tahun sebelumnya. Tak pernah terjadi penaklukan yang berhasil dari Francis (atau dari mana pun) selama sembilan abad kecuali oleh William.
Pertanyaan yang muncul adalah : seberapa jauhkah akibat yang ditimbulkan oleh penaklukan Norman itu? Para penakluk Normandia sebenarnya berjumlah relatif kecil, tetapi dia punya pengaruh besar bagi sejarah Inggris. Dalam lima atau enam abad sebelum penaklukan itu, Inggris sudah berulang kali diserbu oleh bangsa Anglo-Saxon dan Skandinavia dan dasar budayanya adalah Teutonik. Orang-orang Normandia sendiri merupakan keturunan Viking, tetapi bahasa dan budaya mereka Francis. Oleh karena itu, penaklukan oleh orang Normandia mengakibatkan mendekatnya kebudayaan Inggris dan Francis. (Kini tampaknya hal seperti itu hal yang wajar, tetapi pada abad-abad sebelum zaman William sang Penakluk, umumnya hubungan kultural Inggris bukannya dengan Prancis, melainkan dengan Eropa belahan utara). Apa yang dialami Inggris adalah pembauran dengan budaya Francis dan Anglo-Saxon yang tak akan pernah terjadi tanpa adanya penyerbuan itu.
William memperkenalkan Inggris suatu bentuk feodalisme yang lebih maju. Raja-raja Normandia, tak seperti Anglo-Saxon pendahulunya, membawahi ribuan pendekar-pendekar bersenjata, satu angkatan bersenjata yang tangguh menurut ukuran abad pertengahan. Orang-orang Normandia punya keterampilan pemerintahan dan administrasi sehingga pemerintahan Inggris menjadi salah satu dari pemerintahan yang kuat dan efektif di Eropa.
Akibat menarik berikutnya dari penaklukan orang Normandia adalah berkembangnya bahasa Inggris baru. Hal itu menyebabkan terjadi penambahan kata-kata baru ke dalam bahasa Inggris, begitu banyaknya penambahan yang terjadi sehingga kamus Inggris  modern memuat kata-kata berasal dari Francis dan Latin, melebihi kata-kata yang berasal dari Anglo-Saxon. Lebih dari itu, selama tiga atau empat abad segera sesudah penaklukan Normandia, tata bahasa Inggris berubah dengan sangat cepatnya, sebagian besarnya cenderung ke arah penyederhanaan. Kalau saja tak terjadi penaklukan itu, bisa saja bahasa Inggris sekarang hanya sedikit berbeda dengan bahasa Jerman dan Belanda sederhana. Ini satu-satunya contoh betapa bahasa besar tidak akan terjelma sebagaimana bentuknya yang kita kenal sekarang ini tanpa melalui peranan usaha seseorang atau pribadi. (Perlu dicatat, bahasa Inggris sekarang jelas sekali merupakan bahasa yang terkemuka di dunia). Orang juga bisa menyebutkan akibat lain dari penaklukan Norman terhadap Francis sendiri. Sekitar empat abad sesudahnya, terjadi serangkaian pertempuran antara raja-raja Inggris (yang karena berasal dari orang Normandia, memiliki tanah-tanah di Francis) dengan raja-raja Francis. Pertempuran ini merupakan rangkaian nyata dari penaklukan lormandia; sebelum tahun 1066 tak ada rangkaian peperangan antara Inggris dan Prancis.
Dalam banyak hal, pada dasarnya Inggris berbeda dengan semua negara-negara atan benua Eropa. Baik atas dorongan gairahnya sebagai kerajaan besar dan karena lembaga-lembaga demokratisnya, Inggris telah memberi pengaruh mendalam terhadap bagian-bagian dunia lain, terlepas sama sekali dari ukuran luas negerinya sendiri. Sarapai seberapa jauhkah aspek sejarah politik Inggris yang disebabkan oleh tindakan William?
Para sejarawan tidak sependapat hanya pada masalah mengapa demokrasi modern lahir di Inggris dan bukannya, katakanlah, di Jerman. Namun, budaya dan lembaga-lembaga Inggris merupakan campuran dari Anglo-Saxon dan Normandia dan percampuran ini dihasilkan sebagai akibat penaklukan orang Normandia. Di lain pihak, rasanya agak sulit bagi saya secara wajar memberikan penilaian berlebihan atas kekejaman William dalam kaitan dengan pertumbuhan demokrasi Inggris pada masa-masa selanjutnya. Tentu, ada harganya demokrasi di Inggris pada abad sesudah ditaklukkan William.
Dilihat dari ukuran Kerajaan Inggris, pengaruh William bisa terlihat lebih jelas. Sebelum tahun 1066, Inggris berulang kali mengalami berbagai penyerbuan. Sesudah tahun 1066, kedudukan dan peranannya justru terbalik. Berkat pemerintahan terpusat yang mapan dan kuat yang didirikan William dan yang terus dipertahankan oleh para pengganti sesudahnya, begitu pula berkat sumber dana militer yang dikuasai oleh pemerintahannya, Inggris tak pernah lagi diserang orang. Bahkan, pada gilirannya negara ini tak henti-hentinya terlibat dalam operasi militer ke negara lain. Karena itu wajar jika kekuatan Eropa meluas ke negara-negara lain dan wajar jika Inggris berkemampuan punya lebih banyak daerah jajahan dibandingkan negara-negara Eropa lain mana pun.
Tentu saja, orang tidak bisa mengatakan semata-mata berkat William sang Penakluk terjadinya semua perkembangan pesat Inggris dalam sejarah. Namun, yang sudah pasti dan tak perlu diragukan lagi, penaklukan orang Normandia merupakan faktor tak langsung dari segala kejadian yang muncul sesudahnya. Pengaruh jangka panjang William dengan sendirinya sangatlah besar.

Keterangan gambar : sebagai ilustrasi yang diambil dari internet
Sumber : 100 Tokoh Paling Berpengaruh Sepanjang Masa (Michael H Hart , 2005)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar