Sabtu, 19 Maret 2011

Gempa Bumi dan Tsunami di Jepang (Bagian 3)


Negara Jepang ditimpa tiga musibah sekaligus, yaitu gempa bumi berkekuatan 8,9 SR, tsunami setinggi 10 meter yang menerjang beberapa bagian wilayahnya, dan yang berikutnya yaitu ancaman bahaya radiasi nuklir, akibat PLTN yang meledak.



Pemerintah Jepang memperingatkan adanya kenaikan tingkat radioaktif di sekitar pembangkit listrik tenaga nuklir setelah terjadi ledakan baru di dua reaktor pada hari Selasa (15/3/2011).  Sekitar 110.000 orang dalam radius 20 km dari komplek Daiichi dievakuasi. 

Ledakan PLTN Fukushima
Adapun kronologis ledakan (waktu lokal)
Jumat 11/3/2011 (19.46):
Pemerintah Jepang mengumumkan adanya masalah pada sistem pendingin di pembangkit Daiichi.
Sabtu 12/3/2011 (17,47):
Ledakan dan kebocoran radiasi di reaktor 1 dikonfirmasi oleh pemerintah. beton penutup reaktor 1 hancur,  menyebabkan tujuh pekerja luka dan lebih 22 orang terkontaminasi.
Minggu, 13/3/2011  (23.37):
Air laut disuntikkan ke dalam reaktor 1 dan 3.
Senin, 14/3/2011  (11.15) :
Ledakan di reaktor 3 (bangunan beton hancur, tetapi teras reaktor masih utuh). Air laut dipompa ke dalam reaktor 2.  Televisi merilis gambar asap pekat membubung ke udara dan mengatakan telah terjadi ledakan di Unit 3 dan 11 pekerja terluka
Selasa, 15/3/2011  (06.20) :
Ledakan di reaktor 2 (dilaporkan adanya ledakan, aluran bahan bakar terbuka. Ini dikhawatiran dapat menyebabkan kehancuran.). Reaktor 4 terbakar (bangunan terbakar, tingkat radiasi di daerah yang rusak)

PLTN Fukushima
PLTN Fukushima Daiichi merupakan salah satu dari sekitar 40 PLTN yang berada di Honshu pulau utama di Jepang.  Total PLTN di Jepang ada 56 yang memasok 33 persen listrik untuk negeri itu.
PLTN yang meledak pada Jumat tergolong pembangkit generasi awal dari tipe boiling wa­ter reactor (BWR), yaitu reaktor yang menggunakan uap air un­tuk menggerakkan turbin.
Pembangunannya selesai tahun 1970-an dengan masa pakai 40 tahun (sekarang tahun akhir penggunaan).  Meski tergolong tua tapi memiliki tingkat dan sistem pengamanan yang mo­dern. Ketahanan terhadap akselerasi pergerakan tanah akibat gempa, pembangkit ini memiliki skala 500 gal.   
Sebagai perbandingan, PLTN di kawasan rawan gempa di negara lain umumnya berkisar 150 gal. Dengan kekuatan setinggi itu, PLTN Fukushima telah dirancang untuk menahan gempa berskala hingga 9 SR.
Berdasarkan sejarah kegempaan di kawasan itu, gempa tektonik di atas 8 SR berpotensi terjadi di sana dalam periode 140 tahun.
Menggunakan sistem BWR

Sistem PLTN
Sistem BWR dikembangkan di AS pada pertengahan 1950-an.  Selain BWR, dunia juga mengenal dua tipe lain yaitu pres­surized water reactor (PWR) yang menggunakan air tekanan tinggi untuk menggerakkan turbin serta pressurized heavy wa­ter reactor (PHWR). 
Di Jepang, penggunaan tipe reaktor umumnya PWR dan BWR dengan jumlah berimbang. Sementara di dunia, jika dilihat dari jumlah PLTN yang beroperasi, PWR tergolong yang terbesar, mencapai 70 persen dari total PLTN.
Tiga tipe reaktor itu kini dikembangkan hingga generasi kedua dan ketiga. Bahkan, PWR memiliki generasi III plus (secara otomatis melakukan pengamanan secara komprehensif dan terpadu)
Desain BWR terbaru adalah advanced boiling water reactor (ABWR), yang dikembangkan akhir 1980 yang me­miliki sistem kontrol komputer, sistem proses otomatis dan probabilitas kerusakan inti reaktor sangat rendah.

Jumlah Pembangkit Tenaga Nuklir
PLTN di Jepang terdapat 17 lokasi yang terdiri dari 55 unit, dengan rincian :
Tomari  (2 unit) kapasitas 1.158 MW, Highasi-Dhori  (1 unit) kapasitas 1.100 MW, Onagawa  (3 unit) kapasitas 2.174 MW, Fukushima Daiichi  (6 unit) kapasitas 4.696 MW, Fukushima Daiichi  (4 unit) kapasitas 4.400 MW, Tokai Daiichi  (1 unit) kapasitas 1.100 MW, Hamaoka  (5 unit) kapasitas 4.884 MW, Ikata  (3 unit) kapasitas 2.022 MW, Sendai   (2 unit) kapasitas 1.780 MW, Genkai  (4 unit) kapasitas 3.478 MW, Shimane  (2 unit) kapasitas 1.280 MW, Takahama  (4 unit) kapasitas 3.392 MW, Ohi  (4 unit) kapasitas 4.710 MW, Mihama  (3 unit) kapasitas 6.376 MW, Tsuruga (2 unit) kapasitas 1.517 MW, Shika  (2 unit) kapasitas 1.898 MW, dan Kashiwazaki Kariwa  (7 unit) kapasitas 8.212 MW

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Dunia
Negara, Beroperasi  (Jumlah dan Kapasitas) dan Dalam pembangunan  (Jumlah dan Kapasitas)
Amerika Serikat                   (104) 100.747 MW             (1) 1.165 MW
Perancis                                 (58) 63.130 MW               (1) 1.600 MW
Korea Selatan                      (21) 18.665 MW                 (5) 5.560 MW
Rusia                                      (32) 22.693 MW               (11) 9.155 MW
India                                      (20) 4.391 MW                  (5) 3.564 MW
Lainnya                                 (207) 165332 MW              (42) 41.820 MW
Total                                      (442) 374.958 MW            (65) 62.862 MW
Sumber: Litbang Kompas, diolah dari The Federation of Electric Power Companies of Japan (FEPC) dan European Nuclear Society (ENS)

Ledakan, bahaya radiasi dan antisipasi
Ketika gempa besar mengguncang Prefektur Fukushima, reaksi nuklir dalam inti reaktor di PLTN yang berada di dekat pantai itu otomatis berhenti. Ini sesuai dengan prosedur operasi standar yang dirancang.


Namun, dengan terhentinya reaksi fisi itu, teras tempat berlangsungnya proses tidak langsung mendingin. Bangunan te­ras yang terendam air masih bersuhu tinggi. Karena itu, ada prosedur lain yang harus dilaksanakan, yaitu pendinginan ha­rus terus dilakukan dengan mengalirkan air ke teras. De­ngan berhentinya aliran listrik akibat gempa, ada mesin genset yang akan bekerja menggantikannya.
Ada tiga mesin diesel yang bekerja memompa air.


Sayangnya, tiga mesin itu gagal beroperasi. Skenario terakhir ada­lah menggunakan baterai cadangan yang dapat bekerja selama 8 jam. Namun, ini tidak cukup berarti dalam mendinginkan teras.
Berdasarkan kasus ini diperlukan perbaikan sistem cadangan pendingin­an, namun meski dilakukan pendingin­an, suhu di dalam reaktor masih di atas 1.000 derajat Celsius.
Kondisi ini menyebabkan terjadinya reaksi antara zirkonium dan air menghasilkan gas hidrogen hingga tekanan dalam ruang reaktor naik, hal ini mendorong dibukanya saluran keluar. Le­dakan terjadi karena gas hidrogen dari dalam reaktor bertemu dengan oksigen di luar.
Pembukaan saluran telah mempertimbangkan arah angin yang mengarah ke laut. Hasil pengukuran radiasi di se­kitar PLTN yang dilakukan Ba­dan Pengawas Nuklir Jepang (NISA) menunjukkan, tidak terpantau emisi radiasi nuklir ke udara.

Beragam tanggapan dan antisipasi
Beragam reaksi internasional  menanggapi ledakan kedua, yang juga disertai hilangnya kemampuan pendingin di Unit2. Hal itu mengindikasikan bahaya nuklir bisa semakin nyata mengancam keselamatan. AS telah menarik kapal induk USS Ronald Reagan dari lepas pantai Jepang karena takut terpapar reaksi nuklir.
Kapal induk yang sedang berlabuh di 160 kilometer lepas pan­tai Jepang itu mendeteksi adanya radiasi dari PLTN Fukushima, Petugas AS mengatakan, paparannya mungkin setara dengan sebulan paparan radiasi alam. Karena itu, kapal ditarik lebih jauh keluar.
Pesawat AS yang sedang terbang mengangkut bahan bantuan ke daerah bencana Jepang pun ditarik tidak lama setelah ledakan, Ar­mada VII. AS menarik kapal dan pesawatnya menjauh.
Pemerintah Perancis bertindak lebih tegas lagi. Warganya, diimbau segera keluar dari Je­pang dalam beberapa hari ke depan jika mereka tidak punya alasan khusus untuk bertahan. Pe­rancis juga memperingatkan, jika reaktor nuklir meledak, debu radioaktif bisa mencapai Tokyo dalam beberapa jam.
Austria juga memperingatkan warganya untuk meninggalkan Jepang. "Sepertiga, staf kami sudah pergi dari Tokyo  kata pejabat Uni Eropa di Jepang, Stefan Huber. Sejumlah eksekutif perusahaan Jerman, seperti Bosch, Daimler, dan BMW, mengevakuasi keluarganya.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Senin, menyatakan, pemerintah dan rakyat Indonesia menyampaikan belasungkawa dan simpati mendalam kepada pemerintah dan rakyat Jepang.

Tidak berbahaya
NISA mengatakan, tidak ada kemungkihan krisis nuklir mirip Chernobyl di PLTN Fukushima menyusul ledakan hidrogen tersebut. Menteri Strategi Nasional Jepang Koichiro Genba kepada Jiji Press mengatakan, tak akan alami kasus seperti Chernobyl.
Sekretaris Kabinet Yukio Edano mengatakan telah menerima laporan ledakan kedua itu, tetapi itu ledakan hidrogen dan tidak merusak reaktornya. Gangguan di PLTN masih dalam batas aman, tak berbahaya.  Pihak NISA menegaskan, lapisan pelindung reaktor masih utuh, tidak ada ba­haya radiasi, kontaminasi dan ledakan di dalam reaktor. "Ti­dak ada risiko ledakan hidrogen karena tidak ada oksigen di dalam lapisan pelindung. Selama warga mengungsi seperti diperintahkan, tak akan ada efek terhadap kesehatan manusia," demikian pernyataan NISA.
Tingkat radiasi yang diukur di dekat reaktor, Senin pukul 13.12, sebesar 34,2 microsievert per jam. Sebagai perbandingan, tingkat radiasi pemeriksaan rontgen perut dengan sinar-X di rumah sakit mencapai 600 microsievert. Seseorang yang melakukan perjalanan pergi-pulang naik pesawat dari Jepang ke Pantai Timur AS akan menerima radiasi sesbesar 200 microsievert.
Tingkat radiasi yang terukur di reaktor Unit 1 yang meledak Sabtu pekan lalu. Pengukuran tingkat radiasi di pagar bangunan reactor Senin dini hari menunjukkan angka 680 microsievert per jam (Kompas 15/3/2011). 

Pemerintah Jepang mengambil langkah antisipasi dini terhadap ancaman radiasi, yaitu rnengevakuasi 170.000 penduduk yang berdiam di dalam radius 20 kilometer dari PLTN.

Keterangan Gambar : diambil dari internet
Sumber editing bacaan :  Harian Kompas tanggal 14, 15 dan 16 Maret 2001

Bacaan sebelumnya : Bagian 2 >> Bacaan selanjutnya : Bagian 4

Bacaan terkait :  Radiasi Ada di Sekitar Kita

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar