Kamis, 03 Februari 2011

Anak Bagian 3 : Anak Dengan TV, Komputer, Internet atau Ponsel

 Dikemas oleh Isamas54
Tantangan orang tua kini untuk mendidik anak mereka tampak telah bertambah dengan muncul dan maraknya teknologi media elektronik berupa TV, computer, internet dan ponsel. Sebenarnya keberadaan ke-empat jenis media tersebut sangat dibutuhkan oleh seorang anak dalam perkembangannya baik untuk kebutuhan dirinya maupun untuk pengenalan lingkungannya.  Namun tentu saja segala sesuatu ada baik dan buruknya terutama untuk perkembangan kejiwaan, sehingga seharusnya sebagai orang tua bisa mengarahkan dan mengawasinya.

(1).  TV atau Televisi 
Media TV ini lebih dulu marak keberadaannya di masyarakat  dibandingkan dengan ke-tiga media lainnya (computer, internet dan ponsel).

Jangan membiarkan anak-anak terlalu lama di depan layar karena kebiasaan ini dapat menimbulkan risiko lebih besar bagi kejiwaan anak-anak (selain pengaruh secara fisik terhadap mata).  Ini adalah peringatan bagi para orangtua yang terlalu bebas dan longgar memberi waktu kepada anak-anak menonton televisi (TV).

Kebiasaan menonton
Menurut hasil kajian sebuah riset para ahli dari Universitas Bristol  di Inggris terhadap sekitar 1.000 anak umur 10 s/d 11 tahun, pemantauan selama lebih dari 7 hari terhadap intensitas waktu yang dihabiskan di depan televisi atau computer (Banjarmasinpost.co.id - 13 Oktober 2010), menunjukkan :
(1).  Kebiasaan anak nongkrong di depan TV atau main komputer lebih dari dua jam sehari akan menimbulkan efek negatif pada kesehatan psikologis mereka, sekitar 60 persen lebih tinggi dibanding mereka yang menghabiskan waktu lebih sedikit, selisih itu menjadi dua kali lipat bila anak-anak melakukan kedua-duanya (menonton TV dan main komputer) serta menghabiskan waktu lebih dari dua jam untuk tiap-tiap layar tersebut selama sehari.
(2). Ada beberapa bukti bahwa menonton layar itu mengakibatkan perilaku negative, namun, masih belum jelas apakah tingkat aktivitas fisik dapat "menetralkan" tingginya intensitas  menonton layar itu bagi anak," ujar dr Angie Page kepada Reuters Health.
(3). Problem psikologis terus meningkat jika anak-anak kehilangan waktu untuk berolahraga secara teratur minimal satu jam sehari akibat  meningkatnya intensitas tontonan atau permainan komputer.

Jenis tayangan TV
Adapun pengaruh TV terhadap anak  yaitu :
(1).  Keberadaan tayangan televise dewasa ini ditengarai sebagai media hiburan yang tidak mendidik, bahkan sebaliknya, menjadi salah satu pemicu anak-anak berperilaku menyimpang.
(2).  Sekitar 60 % tayangan televise maupun media lainnya telah membangun dan menciptakan perilaku kekerasan. Orang tua harus menyuarakan ini dan lebih acuh dengan persoalan perilaku anak dan masa depan anak. Jika tidak maka bisa-bisa -anak akan jadi korban tayangan televisi,
(3).  Menurut laporan Departemen Komunikasi dan Informatika, 30 persen dari tayangan berisi sinetron dan 39 persen iklan.
(4).  Seto Mulyadi yang dikenal sebagai Kak Seto, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) tidak punya gigi untuk mengontrol tayangan televise, dimana tayangan televise minim unsure pendidikan, yang berdasarkan laporan Departemen Kominfo bahwa tayangan unsure pendidikan tak sampai 1 persen atau hanya 0,07 %.  Sehingga apabila bicara mengenai pendidikan, jangan nonton televise.
(5).  Orang tua banyak yang menganggap baik jika anaknya duduk manis menonton televise, padaha dari situlah kekerasan diajarkan terhadap anak lewat sinetron.
(6).  Dalam catatan laporan akhir tahun Komnas Perlindungan Anak, menunjukkan bahwa secara nasional jumlah kekerasan terhadap anak mencapai 72.000 kasus dimana penyimpangan perilaku tersebut tidak hanya berupa tindak kekerasan, tetapi juga kata-kata kasar yang tidak pantas.

(2).  Komputer
Komputer adalah merupakan bagian lain dari kehidupan kebanyakan anak-anak sekarang yang dapat mendidik dan informatif, tapi bisa juga menimbulkan resiko dan mengancam keamanan anak-anak jika digunakan secara tidak benar.  Orangtua sebaiknya mendampingi anak saat menggunakan internet dan terbiasa dengan internet yaitu guna menetapkan peraturan dan memantau penggunaan komputer oleh anak.  Untuk hal ini tentunya orang tua secara bijaksana mendampingi anaknya tetapi sedapat mungkin si anak supaya tidak merasa diawasi secara ketat, tentunya hal ini membutuhkan ‘seni’ dari orang tua. 


Berdasarkan laporan hasil survei para peneliti di Universitas Southern California (sekitar minggu ke-3 Desember 2010) yaitu survei dari DSC Annenberg Center untuk Masa Depan Digital, sebagai berikut :
(1). Sikap orang tua untuk kedua media (termasuk TV), yaitu dengan cara yang sama mencari cara untuk membatasi akses anak mereka.   
(2).  2/3 orang tua membatasi akses anak mereka ke TV sebagai hukuman, dimana porsi itu hampir tidak beranjak selama 10 tahun terakhir.  
(3). Yang mengejutkan, adalah persentase orang tua yang membatasi akses internet sebagai bentuk hukuman telah melonjak hampir dua kali lipat dalam satu dekade terakhir.

(3).  Internet
Dampak internet bagi anak bisa berbahaya antara lain : (a).  adanya situs porno, anak menjadi malas, lebih sering di depan komputer dari pada mengembangkan kecerdasan interpersonalnya dan anak jarang berinteraksi dengan masyarakat. (b).  alasan lain yaitu tentang kesehatan terutama kesehatan mata dikarenakan terlalu sering duduk di depan komputer.  


Tetapi sebenarnya Internet tak selamanya berdampak buruk bagi anak, yaitu dengan batasan-batasan tertentu internet akan membuat anak memiliki wawasan yang lebih luas.

Sikap orang tua mengenai internet
Menurut Norton Online Living Report, yaitu :
(1).  Rata-rata hanya sepertiga dari para orang tua di seluruh dunia yang menetapkan kontrol orang tua atau memantau penggunaan internet anak-anak mereka. 
(2).  Banyak orang tidak sadari adalah bahwa komunikasi dengan orang lain secara online tersedia dimana-mana. Bahkan game online dipadukan dengan pesan singkat (instant messaging) dan chat (obrolan online) - begitu cepat sehingga kebanyakan orang tua tidak menyadari anak-anak mereka sedang berinteraksi dengan semua orang yang tidak dikenal.
Sedangkan menurut Symantec (sebuah perusahaan internet security), meyakini para orang tua tidak tahu menahu tentang apa yang dilakukan anak-anak mereka secara online, dan bahwa ada pembagi digital yang jelas antara para orang tua dan 'kecerdasan dunia maya' anak-anak mereka.

Sikap pengawasan dari orang tua
Dalam menyikapi pengaruh negative internet terhadap kejiwaan anak , menurut Fabiola P Setiawan,  seorang psikolog anak lulusan Universitas Atmajaya Jakarta (sumber : artikel okezone.com), mengatakan :


(1). Setiap anak boleh bermain internet, tetapi harus atas izin dari orangtua, karena internet itu untuk membuka cakrawala dunia. Selain itu sebelum anak-anak asyik berjam-jam main internet, orangtua pun harus menerapkan “do and dont to do”, atau sebelum orangtua mengizinkan, harus ada peraturannya terlebih dahulu.
(2). Tidak ada batasan umur bagi anak-anak yang boleh mengakses internet, karena jika dilihat dari fungsinya bahwa anak-anak juga butuh internet, seperti mengerjakan tugas, menambah pengetahuan, atau membuka permainan komputer.
(3). Anak-anak sekarang jam sekolahnya padat dan pulang dibekali dengan tugas yang menumpuk. Di sini internet bisa memperingan dan memudahkan dalam mengerjakan tugas.

Tahap pengenalan internet
Sedangkan pengamat dari Konsultan komunikasi anak, Agus Faizal, dalam acara Smart Parents Conference, yang diadakan Frisian Flag Indonesia, di Jakarta, mengatakan : 
(1).  Dalam masa pertumbuhan balita, orang tua harus memperkenalkan dengan lingkungannya, sekaligus lingkungan dunia digital seperti orangtua memperkenalkan warna, bentuk, dan hubungan social.   Jika perlu, berikan 'pelatihan' internet pada balita, dimana melalui pelatihan ini orangtua mulai mengenalkan bagian-bagian komputer yang sederhana dan kasatmata, seperti mouse, layar monitor, CPU. Tahap berikutnya, orangtua bisa memulainya dengan membuka browser internet dan browsing.
(2).  Di sisi lain, perangkat komputer ini juga dapat menjadi medium untuk belajar beberapa keterampilan dasar, seperti identifikasi bentuk, huruf yang cocok, sampai pada fungsi navigasi kibor yang nanti akan menjadi "habit" dunia digital mereka.
(3).  Yang juga menjadi penting bagi orangtua, adalah mengajarkan dan membiasakan balita untuk mengetahui adanya perangkat teknologi komunikasi yang canggih. Pemahaman yang benar akan mengantarkan mereka memasuki dunia digitalnya secara sehat dan cerdas.

Pencegahan  Dampak Negatif
(1). Untuk anak-anak yang ingin mengakses internet sebaiknya dilakukan di bawah pengawasan orangtua, baik dalam mengerjakan tugas sekolah maupun hanya bermain game di rumah.  Jika anak sedang berinternet maka harus ada yang mendampingi yaitu orangtua, kakak atau pengasuh di rumah,
(2). Saat anak berinternet pun, orangtua diperkenankan untuk menunjukkan rasa ketertarikannya, misalnya bertanya, apa yang tadi anak buka, apa saja yang mereka lihat sehingga dari sini anak menjadi terbuka dan tidak menyembunyikan apa saja yang mereka dapat di internet.
(3). Orangtua jangan lupa untuk mengunci situs- situs tertentu yang berhubungan dengan situs orang dewasa, mendampingi mereka, dan mengingatkan anak untuk boleh membuka situs yang diperlukan saja.
(4). Melalui pendampingan dan pembelajaran yang intensif, orangtua tidak menjadi makhluk asing bahkan terasingkan bagi dunia digital mereka kelak. Komunikasi merupakan sarana yang paling efektif untuk saling belajar dan memahami pada perbedaan pandangan dalam kehidupan dunia digital dimana anak dapat belajar internet dengan nyaman dan memperluas wawasannya tanpa ada perasaan tertekan.
(5). Menurut Roslina Verauli, MPsi - Psikolog anak yang berpraktik di Empati Development Center-, anak yang memasuki usia remaja memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi, oleh karena itu apabila saat ini marak penyebaran video atau foto berbau pornografi maka bisa saja ikut penasaran untuk mencari tahu, bahkan ingin melihat seperti apa video atau foto yang banyak dicari dan dibicarakan banyak orang. 
(6). Menurut  Roy Suryo (Anggota DPR), para orang tua harus bisa internetan supaya mengetahui dampak negatifnya dan selanjutnya mengawasi anaknya guna memastikan tidak terkena dampak negative dari teknologi internet.
(10). Untuk membantu memastikan bahwa anak-anak masih aman saat menjelajah internet, pastikan mereka mengikuti aturan-aturan berikut : (a).  Jaga kerahasiaan informasi pribadi (b). Tolak permintaan pertemanan dari orang yang belum mereka kenal (c). Waspadai orang yang tak dikenal yang ingin bertemu secara pribadi (d). Laporkan perilaku apapun yang mencurigakan ke anda, ke website, dan polisi, bila perlu.

(4).  Ponsel
Media elektronik yang satu ini punya kelebihan tersendiri dibandingkan dengan ke-tiga media lain yang diuraikan di atas yaitu “bisa ada TV-nya, Komputer-nya, Internet-nya, bisa dibawa kemana-mana, kapan saja, siapa saja, dimana saja dan …. Dapat di masukan ke dalam saku”.
Telepon seluler (ponsel) yang akhir-akhir ini bukan merupakan hanya ‘pegangan orang tua’ saja,  efek penggunaanya terhadap perilaku anak hampir sama dengan ketiga media elektronik yang telah diuraikan terdahulu, karena alat ini bisa dengan bebasnya mengakses informasi yang bisa menguntungkan maupun efek negative terhadap kejiwaan anak. 
Untuk hal ini dituntut peran orang tua untuk membimbing dan mengarahkannya, selain kejiwaan juga perlu diketahui dan diwaspadai antara lain efek dari radiasi ponsel, seperti uraian berikut.
Penelitian terbaru menemukan radiasi yang dipancarkan ponsel bisa memengaruhi perilaku anak. Ibu yang kerap menggunakan telepon seluler saat hamil berpotensi melahirkan anak yang mengalami gangguan perilaku.
Penelitian dilakukan terhadap 100 ribu ibu hamil pada 1996-2002. Penelitian mencatat seluruh rekam jejak kesehatan anak-anak mereka setelah dilahirkan. Saat anak-anak berusia tujuh tahun, para ibu kembali diwawancarai soal kesehatan dan perilaku anak. Hasilnya, sekitar 50% anak yang kerap terekspos radiasi ponsel saat dalam kandungan, setelah di­lahirkan mengalami gangguan perilaku, seperti hiperaktif dan sulit berkonsentrasi.

Sebagai catatan (boleh dibaca boleh tidak).
(1).  Ke-empat media (TV, computer, internet dan ponsel) tersebut - 'belum marak' seperti sekarang ketika si orang tua masih balita - mempunyai efek yang sangat dibutuhkan untuk perkembangan jiwa anak dalam pertumbuhannya, tetapi perlu diperhatikan juga efek negatifnya sehingga di sini diperlukan bimbingan dan arahan dari orang tua (tetapi tidak lupa terhadap jenis media lainnya juga).
(2).  Istilah anak dalam tulisan ini mungkin bisa diperluas sehingga tidak terbatas hanya balita dan anak tanggung (ABG), tetapi juga terhadap remaja-remaja kita, atau bahkan terhadap diri kita sendiri sebagai orang tua, atau …  atau terhadap orang yang paling dekat dengan kita … yaitu istri atau suami …. yang tentunya dengan cara dan seni tersendiri (tidak keterlaluan).
(3).  Maaf … tulisannya belum habis, … adapun  “cara dan seni tersendiri” tersebut yang paling tepat adalah … dimulai dari kontrol dan kesadaran yang muncul dari diri sendiri.
Thks. 
 Keterangan Gambar : sebagai ilustrasi yang diambil dari internet

Bacaan sebelumnya Bagian 2 >> Bersambung ke Bagian 4, 
 
Sumber editing bacaan a.l :
Harian Media Indonesia tgl 20 Desember 2010 dan 4 Januari 2011.
http:  ilmupsikologi.wordpress.com/2010/02/10, news.id.msn.com/okezone, erabaru.net/iptek, dan banjarmasinpost.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar