Jumat, 06 September 2013

Situs Gunung Padang (1) : Merupakan Bangunan Mahakarya


Disusun oleh : Isamas54
Situs Gunung Padang yang terletak di Cianjur Jawa Barat adalah merupakan bangunan besar buatan manusia yang disusun dengan materi batu columnar joint dengan sistim perekat berupa semen purba.


Keadaan umum dan lokasi
Gunung Padang merupakan sebuah bukit yang terletak Cianjur, Jawa Barat.  Bagian atas bukit sejak tahun 1979 telah diketahui oleh masyarakat umum dan kemudian menjadi objek wisata, yang terletak di ketinggian 995 meter di atas permukaan air laut (mdpl). 
Struktur batu di bagian atas bukit membentuk undakan sebanyak 5 teras. 
Setelah hasil dieskavasi terus-menerus, termasuk sekeliling bukit yang sebelumnya masih tertutup hutan dan semak belukar, para arkeolog dari tim terpadu Mandiri menemukan bangunan besar itu bukan hanya sekedar batu-batu yang berserakan saja.
Penelitian

Para arkeolog yang terpadu dalam Tim Terpadu Riset Mandiri telah melakukan riset/penelitian dan eskavasi di Situs Gunung Padang, Cianjur-Jawa Barat ini Mei 2012.  Dalam perkembangannya semakin membuktikan bahwa di dalam tanah Gunung Padang masih banyak struktur batu yang disusun oleh manusia, yang sekaligus menunjukkan keahlian dalam pembangun Gunung Padang.
Struktur batu bagian atas bukit (yang selama ini sebagai obyek wisata di puncak bukit) di ketinggian 995 mdpl membentuk undakan sebanyak 5 teras, tetapi setelah penelitian pada ketinggian 885 mdpl ditemukan terasering yang kemungkinan merupakan kaki bangunan (sebelum penelitian masih tertutup hutan dan semak belukar).  Bangunan tersebut telah dianggap sebagai monumental yang dibuat dari batuan columnar joint (batu-batu panjang berpenampang segilima).
Situs Gunung Padang membutuhkan penanganan segera, jangan sampai situs bersejarah ini terbengkalai, apalagi penelitian awal diperoleh temuan bahwa Gunung Padang berusia 500 tahun SM.

Bentuk situs (manmade)
"Survei arkeologi Tim Terpadu Riset Mandiri telah berhasil menemukan sisi utara, timur, dan barat situs, sisi selatan situs Gunung Padang Cianjur.  Penemuan ini, semakin memperkuat kesimpulan tim bahwa luas situs itu minimal 15 hektar.  Jika dibandingkan dengan Candi Borobudur, maka bangunan Gunung Padang minimal 10 kali luas Candi Borobudur” arkeolog Ali Akbar, pengajar di jurusan Arkeologi UI, sebagai Ketua Masyarakat Arkeologi Indonesia/ MARI (30/3/2013).
Melalui riset sepanjang tahun 2012 sampai sekarang, Tim Terpadu Riset Mandiri, setelah membersihkan semak belukar :
(a).  Menemukan banyak struktur di bagian badan dan kaki bukit,  adanya indikasi teras 6 di sisi utara, di sisi selatan disusun dengan batuan columnar joint dengan jarak yang cukup rapat.
(c).  Berbeda dengan sisi lainnya di sisi selatan belum ditemukan adanya tangga naik, atau kemungkinan memang tidak ada tangga di sisi ini mengingat kemiringannya sangat curam dan di bagian bawah langsung berbatasan dengan sungai.
(d).  Diduga ada bangunan dengan tinggi mencapai 110 meter di area itu, atau tidak kalah dengan bangunan piramida di Mesir dengan situs yang tertinggi kurang lebih 132 meter. Merupakan sebuah bukit setinggi 995 meter di atas permukaan air laut (mdpl) dan pada ketinggian 885 mdpl ditemukan terasering yang kemungkinan merupakan kaki bangunan.

Struktur bangunan

Di tengah ekskavasi Gunung Padang yang masih berlangsung, menurut Ali, telah membuktikan adanya bangunan besar buatan manusia :
(a).  Batu-batu panjang yang disusun manusia 
Di kedalaman lebih dari 4 meter sampai kedalaman 18 meter ditemukan susunan batu-batu panjang berpenampang segilima (columnar joint) yang disusun manusia.  Orientasi struktur batu di lereng timur adalah rebah (horisontal) Timur-Barat, sementara itu struktur batu di lereng utara adalah rebah utara-selatan.  Secara alami, columnar joint di dalam tanah posisinya berdiri (vertikal) sedangkan jika columnar joint secara alami rebah maka orientasinya akan seragam misalnya seluruhnya mengarah ke utara.   Kuat indikasinya bahwa bebatuan yang tersusun di lereng adalah hasil dari penataan nenek moyang kita dulu.
(b).  Adanya semen purba
Pengeboran tersebut di kedalaman 4 meter menemukan semacam semen purba di antara columnar joint yang berfungsi sebagai perekat sehingga struktur bangunan menjadi sangat kokoh.   Berfungsi untuk menyambung patahan-patahan batu tersebut, berdasarkan analisis menyatakan bahwa pada semen tersebut terdapat mono cristallin quartz, iron-magnesium oxides dan clay. Oxide mengandung hematite, magnetite, dan unsur lainnya yang jelas bukan berasal dari pelapukan batu columnar joint.
(c).   Logam terak besi buatan manusia
Ditemukan logam berupa terak besi buatan manusia di antara struktur batuan di lereng timur, yang menurut hasil analisis Laboratorium Uji Departemen Teknik Metalurgi dan Mineral UI menunjukkan kadar besi dan carbon yang tinggi. Artinya, masyarakat yang membuat situs Gunung Padang telah mengenal pembakaran, pengolahan, dan pemurnian logam.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, jelas kiranya bahwa di bawah tanah Gunung Padang pernah terdapat aktivitas masyarakat masa lalu yang antara lain membuat struktur bangunan (manmade). Lapisan alami Gunung Padang jika mengacu pada hasil pengeboran kemungkinan besar terdapat pada kedalaman 18 meter dari permukaan tanah sekarang.

Mahakarya dengan arsitek ulung

Diperoleh bukti bahwa konstruksi bangunan Gunung Padang dirancang oleh arsitek ulung dengan teknologi yang tergolong luar biasa, menurut Ali Akbar (25/3/2013) seperti berikut :
(a). Pada teras 1 menggunakan bahan baku yakni batu columnar joint alami. Namun batu-batu panjang berpenampang segi lima tersebut terlebih dahulu dipotong-potong oleh masyarakat masa lalu.
(b).  Potongan-potongan itu lalu disusun di bukit agar dinding bukit semakin kuat dan tidak longsor.  Pada sisi utara bukit, potongan batu disusun sedemikian rupa sehingga seperti paku atau pasak yang menancap di bukit dengan posisi utara-selatan, sedangkan di sisi timur bukit dengan arah timur barat. Hasilnya adalah semacam bangunan perbentengan dengan dinding yang sangat kuat.  Di lereng timur pada kedalaman 1 meter memperoleh potongan-potongan batu seperti yang terlihat di teras 1. Dapat disimpulkan bahwa di dalam tanah masih banyak struktur bangunan yang masih terpendam.
Bangunan prasejarah
Para ahli sudah menghitung pembangunan situs tersebut sehingga dianggap merupakan sebuah bangunan mahakarya yang dibangun pada masa prasejarah. Menurut Dr. Ir. Budianto Ontowirjo, anggota tim yang merupakan pakar teknik sipil konstruksi bangunan modern dan purbakala dari BPPT (8/4/2013), telah memperkirakan jumlah batu dan sumber daya orang yang mengerjakan, serta berapa lama Gunung Padang itu di bangun, seperti berikut.
 (a).  Luas punden berundak 5 teras, sekitar 44 m x 128 m x tingginya 50 m (asumsi).  Kalau tiap batu kekar andesit (columnar joint) penyusunnya ukurannya 0.3 x 0.3 x 1.5 m diperlukan 2.085.926 batu columnar joint.
(b).  Misalnya ada 6.000 warga dari 3 desa yang bekerja sama membangun situs. Setiap 6 orang mengangkat 1 batu andesit dari lokasi pembuatan sampai ke puncak situs, tiap angkat lamanya 6 jam karena bukitnya sangat curam, satu hari 12 jam kerja, berarti tiap hari ada 6000/6x12/6 = 2000 batu yang terangkat.  Jumlah hari yang diperlukan untuk membangunnya 2.085.926/2000 = 1.043 hari atau 2,8 tahun.
(c).    Berapa berat 1 batu columnar joint?  Kalau tiap batu itu berat jenisnya 2.5 dimensi 0.3 x 0.3 x 1.5 itu kira-kiran 300 Kg. 
Proses ekskavasi Arkeologi dalam beberapa hari terakhir memperlihatkan tenaga angkat 6 orang mampu memindahkan 1 batu columnar joint yang beratnya 300 Kg untuk jarak 10 m selama 1 jam. Maka apabila bekerja 6 jam mampu mengangkat batu sejauh 60 M.

Kesimpulannya bangunan semegah punden berundak 5 teras gunung Padang bisa dibangun oleh tenaga sebanyak 6.000 orang dari warga 3 desa (Cikuta, Cipanggulaan, dan Karyamukti Cempaka) pada  zaman prasejarah yang membutuhkan waktu kurang lebih 5 tahun.

Dilanjutkan ke bagian 2

Keterangan gambar : diambil dari internet
Sumber editing bacaan : news.detik.com/read (2013/03/25 & 30; 2013/04/08)

Bacaan Terkait:
Bagian 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar