Sabtu, 20 Juli 2013

Jumlah Lansia di Dunia yang Semakin Meningkat


Dikemas oleh Isamas54
Seorang lansia yang tetap sehat di hari tuanya, akan mampu mengembangkan keterampilannya dan tidak banyak bergantung pada orang lain.


Data dan batasan umum
Penduduk lanjut usia atau lansia (60 tahun ke atas) dinilai mandiri dan produktif apabila dia masih tetap dapat melakukan aktivitas positif sehingga mampu mengembangkan keterampilannya dan tidak banyak bergantung pada orang lain, seperti merawat cucu, membuat kerajinan tangan, atau bahkan masih mampu menjadi tenaga pengajar di suatu universitas dan lain sebagainya.

Data
Proporsi lansia di dunia diperkirakan mencapai 22 persen dari penduduk dunia atau sekitar 2 miliar pada tahun 2020, sekitar 80% lansia hidup di negara berkembang.
Rata-rata usia harapan hidup di negara-negara kawasan Asia Tenggara adalah 70 tahun, sedangkan di Indonesia termasuk cukup tinggi yaitu 71 tahun (Profil Data Kesehatan Indonesia tahun, 2011).
Jumlah penduduk di 11 negara anggota WHO kawasan Asia Tenggara yang berusia di atas 60 tahun berjumlah 142 juta orang dan diperkirakan akan terus meningkat hingga 3 kali lipat di tahun 2050.  Sedangkan Jumlah lansia di seluruh dunia dapat mencapai jumlah 1 miliar orang dalam kurun 10 tahun mendatang (Dana Kependudukan PBB, 6/2013 ).
Pertumbuhan penduduk usia lanjut (lansia) di dunia yang semakin meningkat (ledakan) tersebut diperkirakan akan menjadi masalah baru bagi dunia kesehatan, untuk hal ini maka WHO telah mencanangkan program peningkatan kesehatan agar seseorang memiliki usia yang lebih panjang dan tetap produktif.
Indonesia
Di Indonesia proporsi penduduk berusia lanjut terus membesar.  Indonesia termasuk lima besar negara dengan jumlah penduduk lanjut usia terbanyak di dunia yakni mencapai 18,1 juta jiwa pada 2010 atau 9,6% dari jumlah penduduk (Sensus Penduduk, 2010).  Tahun 1970 baru ada 2 juta orang, sedangkan di tahun 2011 sekitar 24 juta jiwa (hampir 10% jumlah penduduk).   Penduduk lansia ini diproyeksikan menjadi 28,8 juta jiwa (11, 34 persen) dari total penduduk Indonesia pada tahun 2020, atau menurut proyeksi Bappenas, jumlah penduduk lansia 60 tahun akan menjadi dua kali lipat (36 juta) pada 2025.
Selama 40 tahun, pertambahan jumlah lansia 10 kali lipat, sedangkan jumlah penduduk hanya bertambah 2 kali lipat.
Setiap tahun, jumlah lansia bertambah rata-rata 450.000 orang, maka pada tahun 2050 diperkirakan berjumlah 60 juta lansia, atau setara gabungan penduduk Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten kini.
Lonjakan jumlah kelahiran (baby boom) pada 1960-1970  (usia 70 tahun pada tahun 2010) akan memicu ledakan jumlah lansia dalam 10-20 tahun mendatang, dimana dalam 5 tahun ke depan diperkirakan ada 2 juta pegawai negeri sipil pensiun.

Permasalahan
Umur Harapan Hidup (UHH) manusia Indonesia semakin meningkat dimana pada RPJMN Kemkes tahun 2014 diharapkan terjadi peningkatan UHH dari 70,6 tahun pada 2010 menjadi 72 tahun pada 2014 yang akan menyebabkan terjadinya perubahan struktur usia penduduk.
Pada Hari Kesehatan Sedunia tanggal 7 April 2012, WHO mengajak negara-negara untuk menjadikan penuaan sebagai prioritas penting mulai dari sekarang.
Jika semua lansia dapat lebih produktif di usia tuanya, masalah kesehatan terkait dengan penumpukan jumlah lansia yang sakit-sakitan akan berkurang, sehingga suatu negara tidak akan menghadapi dampak negatif dari pertumbuhan jumlah lansia yang besar di kemudian hari.
"Program ini dikatakan berhasil jika para lansia masih tetap mandiri dan produktif di usia tuanya. Idealnya, seseorang yang telah mencapai usia lanjut harus tetap menjadi teladan bagi orang lain baik itu sehat secara fisik maupun mental, seperti lebih bijaksana, berperilaku positif dan dapat menempatkan diri sebagai orang yang patut dicontoh," kata Dr. Samlee Plianbangchang, Direktor Regional WHO kawasan Asia Tenggara (10/9/2012).

Penyakit Lansia
Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 menunjukkan pola penyakit pada lansia yang terbanyak adalah gangguan sendi kemudian diikuti oleh hipertensi, katarak, stroke, gangguan mental emosional, penyakit jantung dan diabetes mellitus.
Kekhawatiran atas penyakit tersebut, menurut Dirjen WHO Margaret Chan terkait Hari Kesehatan Sedunia (4/2012) yang mengambil tema ”Ageing and Health (Penuaan dan Kesehatan)”,  yaitu:
(a).  Penyakit menahun.  ”Masalah kesehatan utama yang dihadapi para lansia (>60) adalah penyakit tidak menular menahun, seperti jantung, penyakit hati, stroke, kanker, diabetes, dan penyakit paru. Padahal, penyakit-penyakit itu dapat dicegah dan diobati dengan lebih murah jika ditangani sedini mungkin.
(b).  Para warga senior di negara berpendapatan rendah dan menengah berisiko empat kali lebih besar meninggal atau lumpuh karena penyakit tidak menular dibandingkan negara berpendapatan tinggi.
(b).  Rawan penyakit.  Penduduk berusia lanjut umumnya rawan penyakit degeneratif, yakni akibat penurunan fungsi tubuh yang bersifat menahun dan menyandang lebih dari satu penyakit sehingga penanganannya lama serta membutuhkan biaya besar.
(c).  WHO menekankan perlunya negara-negara mengantisipasi dan mencegah penyakit-penyakit itu dengan memastikan adanya sistem dan pelayanan kesehatan yang memadai, contohnya : pengukuran tekanan darah yang merupakan faktor kunci untuk risiko penyakit jantung dan stroke dapat dilakukan dengan biaya relatif murah. Saat ini kurang dari 15% lansia di negara berpenghasilan rendah dan menengah yang membutuhkan monitoring tekanan darah, mendapatkan pelayanan itu.
(d).  Pencegahan penyakit-penyakit itu antara lain dengan perilaku hidup sehat, aktivitas fisik, konsumsi makanan sehat, tidak meminum alkohol, dan tidak menggunakan produk tembakau. Semakin dini masyarakat mengadopsi gaya hidup sehat tersebut, semakin besar kesempatan mereka menikmati masa tua yang sehat dan produktif.
Upaya pencegahan dengan menjalani gaya hidup sehat sedari muda sangat penting.
”Saat ini penyakit yang biasanya datang pada usia 60-an tahun sudah mulai diderita orang-orang berusia 30 tahun-40 tahun karena gaya hidup tidak sehat, seperti buruknya pola makan, kurang olahraga, dan kurang beristirahat,” ujar Nugroho Abikusno anggota tim pakar Komnas Lansia pada Hari Kesehatan Sedunia di Indonesia (2012).

Penyebab kematian
Penyebab kematian terbanyak pada umur 65 tahun ke atas (Riskesdas, 2007) :
Wanita
Stroke (24,4 persen), hipertensi (11,2 persen), NEC (9,6 persen), penyakit saluran pernafasan bawah kronik (6,6 persen), diabetes mellitus (6,0 persen), penyakit jantung iskemik (6,0 persen), penyakit jantung lain (5,9persen), TB (5,6 persen), pnemonia (3,0 persen) dan penyakit hati (2,2 persen).
Laki-laki
Stroke (20,6 persen), penyakit saluran nafas bawah kronik (10,5 persen), Tuberkulosis Paru (TB) (8,9 persen), hipertensi (7,7 persen), NEC (7,0 persen), penyakit jantung iskemik (6,9 persen), penyakit jantung lain (5,9 persen), diabetes mellitus (4,9 persen), penyakit hati (4,4 persen) dan pnemonia (3,8 persen).

Empat penyakit pembunuh kaum Lansia di Indonesia (2013) :
Wanita
Penyakit stroke ternyata menjadi penyebab kematian para lansia wanita wanita di atas usia 65 tahun, dan 24,4% meninggal karena penyakit itu, sedangkan lansia laki-laki hanya 20,6% (Kementerian Kesehatan, 2013).
Penyakit lain yang menyerang kaum lansia hawa adalah hipertensi (11,2%), penyakit NEC alias Necrotizing Enterocolitis  (9,6%), penyakit saluran pernafasan bawah kronik (6,6%), diabetes mellitus (6%), penyakit jantung iskemik (6%), penyakit jantung lain (5,9%), TB (5,6%), pneumonia (3,0%) dan penyakit hati (2,2%)
Laki-laki
Penyakit kaum lansia laki-laki yaitu : setelah stroke, kebanyakan lansia meninggal akibat penyakit saluran nafas bawah kronik (10,5%), Tuberkulosis Paru (TB) (8,9%), hipertensi (7,7%), NEC (7,0%), penyakit jantung iskemik (6,9%), penyakit jantung lain (5,9%), diabetes mellitus (4,9%), penyakit hati (4,4%), pnemonia (3,8%).

Keadaan di Indonesia
Dari aspek sebaran, 80% lansia berada di pedesaan.  Hal ini dianggap membahayakan program ketahanan pangan karena sektor pertanian didominasi lansia yang tenaganya jauh berkurang, dimana saat ini rata-rata umur petani 45 tahun. 
Karena angka usia harapan hidup yang tinggi tersebut, kemungkinan terjadinya peningkatan jumlah lansia suatu saat nanti akan semakin besar, dengan demikian maka hal tersebut harus diiringi dengan peningkatan kesehatan mulai dari sejak lahir agar tetap sehat dan produktif di usia tua.
Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi (21/3/2013)  mengakui bahwa saat ini tantangan yang dihadapi dalam upaya peningkatan kesehatan dan kesejahteraan lanjut usia ini adalah masih terbatasnya sarana dan prasarana pelayanan kesehatan yang memberikan layanan kesehatan yang ramah dan mudah diakses oleh lanjut usia.
Karena itu, Kementerian Kesehatan akan menambah jumlah puskesmas yang santun bagi lanjut usia karena bertambahnya jumlah penduduk lansia akibat meningkatnya umur harapan hidup menyebabkan pelayanan kesehatan yang ramah bagi kelompok tersebut semakin dibutuhkan.
"Tantangan yang kita hadapi dalam upaya peningkatan kesehatan dan kesejahteraan lanjut usia ini adalah masih terbatasnya sarana dan prasarana pelayanan kesehatan yang memberikan layanan kesehatan yang ramah dan mudah diakses oleh lanjut usia," kata Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi pada pembukaan Launching Pengembangan Program Peduli Lanjut Usia di Jakarta seperti dikutip Antara  (24/03/2013).
Di samping itu, Menkes juga mengakui bahwa Kementerian belum memiliki data yang memadai dan data terbaru tentang masalah kesehatan pada lanjut usia ini karena survei dan penelitian yang terkait dengan lanjut usia masih sangat terbatas.
Saat ini data yang masuk di Kementerian Kesehatan baru terdapat 437 Puskesmas Santun Lanjut Usia namun sudah ada kurang lebih 69.500 Posyandu lanjut usia yang tersebar di beberapa kabupaten/kota di Indonesia.
"Tujuan Program Kesehatan Lanjut Usia ini adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan lanjut usia agar tetap sehat, mandiri dan berdaya guna sehingga tidak menjadi beban bagi dirinya sendiri, keluarga maupun masyarakat," kata Menkes.

Keterangan gambar : sebagai ilustrasi yang diambil dari internet.
Sumber : menkokesra.go.id  2010/3/26, detik.com 2012/10/10, health.kompas.com (2012/02/03 & 2012/04/09 ), voaindonesia.com  2013/6/2013, tribunnews.com/2013/03/21.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar