Sabtu, 16 Februari 2013

Kematian Anak dan Ibu Melahirkan


Dikemas oleh : isamas54
Ketiadaan pertolongan tenaga kesehatan merupakan salah satu faktor risiko penyebab kematian ibu saat melahirkan, selain itu factor ekonomi dan tingkat pengetahuan juga meningkatkan kematian anak usia balita.

Istilah dan batasan
AKI/ MMR (angka kematian ibu), biasanya dinyatakan jumlah kematian ibu yang melahirkan per jumlah kelahiran hidup.  AKB/IMR (angka kematian bayi), biasanya dinyatakan jumlah kematian bayi  usia 0-11 bulan yang lahir per jumlah kelahiran hidup.
MDG`s  (Millenium Development Goal`s) :  adalah merupakan instrumen internasional yang tepat untuk pembangunan, bukan sebagai sebuah traktat, tidak bersifat mengikat dan tidak membutuhkan ratifikasi, serta tidak ada organisasi khusus yang melakukan implementasi sekaligus memonitor namun program ini diimplementasikan oleh hampir semua pemerintahan negara.  Diinisiasi oleh PBB pada 2000 yang memberikan kontribusi penting bagi peningkatan kesejahteraan nasional melalui pengurangan kemiskinan dan peningkatan kualitas kesehatan.  MDG`s akan selesai pada 2015, untuk hal ini Presiden SBY (2012/12/13) mengharapkan adanya program pengganti yang akan melanjutkan keberhasilan yang telah dicapai

Data 
Saat ini Indonesia memiliki 25 juta pasangan usia subur dimana mereka memi­liki potensi melahirkan 4 juta-7 juta bayi per tahun. Tanpa pengendalian, dalam rentang waktu 15 tahun ke depan bisa saja terjadi 100 juta kelahiran. Tingkat kelahiran di Indonesia masih tinggi, yaitu 2,6 yang artinya, rata-rata keluarga memiliki tiga anak atau lebih.
Diperkirakan 150.000 anak meninggal di Indonesia setiap tahun sebelum mereka mencapai ulang tahun kelima, dan hampir 10.000 wanita meninggal setiap tahun karena masalah kehamilan dan persalinan (UNICEF, 14/6/2012).   Kematian ibu dan anak di Indonesia ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara tetangga, yaitu tahun 2010 masih 228 per 100 ribu per kelahiran hidup, padahal MDGs menargetkan pada 2015 maksimal angka kematian ibu adalah 102 per 100 ribu kela­hiran hidup.
Diantara ibu yang berpendidikan menengah ke atas, 71%-nya melahirkan difasilitas kesehat­an sedangkan di kalangan ibu yang ti­dak berpendidikan hanya 15% yang melahirkan di fasilitas kesehatan.   Sebanyak 70% proses per­salinan ibu hamil tak didampingi oleh tenaga medis, akibatnya ketika proses kelahiran mengalami faktor penyulit dan menimbulkan perdarahan, sehingga risiko kematian ibu menjadi sangat tinggi. 
Di wilayah Indonesia : AKB telah menurun dari 68 per 1000 kelahiran hidup (1991), 35 per 1.000 kelahiran hidup (2004) menjadi 34 per 1.000 kelahiran hidup (2011).  AKI menurun dari 307 per 100.000 kelahiran hidup (2004) menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup (2011),  atau dua ibu melahirkan meninggal dunia hampir setiap satu jamnya.  Sedangkan target MDG sesuai kesepakatan yaitu AKB 24 per 1.000 kelahiran hidup dan AKI 102 per 100.000 kelahiran hidup pada 2015.
Penduduk miskin di Indonesia per Februari 2004 sebanyak 36,1 juta jiwa atau 16,6% dari total penduduk dan per Maret 2012, jumlahnya turun men­jadi 29,13 juta jiwa atau 11,96% dari total penduduk (BPS, 2012).  Rumah tangga miskin 71,3%-nya berada di pedesaan dan bekerja di sector pertanian.
Tingkat pendidikan dan pengangguran di Indonesia yaitu 60% penduduk tidak tamat SD sedankan angka pengangguran masih tinggi yaitu 7,14% yang artinya, 116,5 juta angkatan kerja Indonesia masih menganggur (EPS, Agustus 2010).  Sedangkan indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia berada di peringkat 124 dari 189 negara pada 2010 atau berada di urutan ke-6 dari 10 negara ASEAN.

Faktor penyebab
Ketiadaan pertolongan tenaga kesehatan merupakan salah satu faktor risiko penyebab kematian ibu saat melahirkan.  Hal ini tentunya sangat berkaitan dengan keadaan social ekonomi masyarakat, seperti data berikut : (a).  Kematian balita di kalangan keluarga miskin tiga kali lipat daripada di rumah tangga kaya.  (b).  Risiko kematian ibu dan anak tertinggi ada pada golongan sosial ekonomi bawah, (c). Di kalangan tidak berpendidikan, hanya 15% ibu yang melahirkan difasilitasi kesehatan. 

Perkembangan
Sejak tahun 1990, angka kematian ibu dan anak Indonesia setiap tahunnya sudah menurun lebih dari setengah, namun risiko kematian ibu dan anak di Indonesia ini dinilai masih tetap tinggi.
Indonesia telah membuat kemajuan penting untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak, sejak membuat komitmen pada a World Fit for Children di sidang khusus PBB tentang anak-anak pada 2001. 

Kendala
Kendala dalam masalah persalinan yaitu AKI dan AKB di Indonesia masih tinggi (walau program KB sudah ada kemajuan) dikarenakan persalinan masih banyak yang dilakukan di rumah dan usia ibu melahirkan yang terlalu muda.  Sedangkan factor lainnya antara lain masalah kemiskinan dan assesibilitas (keterjangkauan lokasi).
Penyebab utama kematian pada ibu melahirkan  adalah perdarahan dan infeksi yang tidak tertolong karena banyak yang masih memilih melahirkan di rumah, tidak di rumah sakit atau puskesmas. Perdarahan ini banyak terjadi pada ibu usia muda, 15-16 tahun sudah melahirkan. Kemudian biasanya di daerah yang cukup terpencil, jarak dari rumah ke puskesmas jauh.

Target MDG
Dalam Peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) 2012 telah memberikan perhatian terhadap kesehatan ibu dan anak karena kedua indikator MDGs itu masih jauh dari target yang harus dicapai pada 2015, AKB yaitu baru mencapai 34 per 1.000 kelahiran hidup (2011) dan AKI 228 per 100.000 kelahiran hidup (2007).  Sedangkan target
ke-5 MDGs tahun 2015 sesuai kesepakatan yaitu AKB 24 per 1.000 kelahiran hidup dan AKI 102 per 100.000 kelahiran hidup. 

Upaya
Menurut UNI­CEF, Indonesia harus fokus pada sistem yang bisa mengatasi problem di semua komponen, meliputi sektor sumber daya manusia, pendidikan kesehatan dan gizi, akses ke perawatan, kualitas pelayanan, peraturan dan standardisasi pelayanan, dan penargetan pembiayaan.
Upaya dari Kementerian Kesehatan RI yang dinilai telah berhasil menekan risiko kematian tersebut, antara lain : (a).  telah menempatkan bidan-bidan di puskesmas pembantu di desa-desa. (b).  Memberi insentif bagi dokter dan dokter spesialis yang bersedia bertugas di daerah terpencil. (c).  Merilis program Jaminan Persalin­an (Jampersal) yang menjamin masyarakat miskin dapat menjalani persalinan di sarana kesehatan tanpa membayar. (d).  Program sistem penanggulangan kegawatdaruratan terpadu (SPGDT).
Sekarang ada yang kita sebut sister hospital, dimana rumah sakit di daerah sulit seperti daerah terpencil atau perbatasan, maka dibantu oleh sister hospitalnya di kota besar, dengan mengirim tim lengkap ke daerah-daerah yang angka kematian ibunya tinggi.  Sister hospital itu telah dilakukan oleh beberapa rumah sakit di kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, Medan dan Makassar

Prioritas
Pemerintah memprioritaskan 20 provinsi dengan 150 kabupaten dalam mengatasi masalah kematian ibu dan anak, menjadi prioritas karena tingginya AKI dan akaba. Tanpa upaya lebih, dikhawatirkan target Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) 2015 tidak tercapai.  Provinsi yang dimaksud adalah Sumatera Utara, Lampung, Sumatera Selatan, Riau, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Maluku, Papua Barat, dan Papua.
Dengan demikian maka penurunan angka kematian ini dapat dijadikan salah satu tolok ukur keberhasilan dari kinerja kepala daerah.

Keterangan gambar : sebagai ilustrasi yang diambil dari internet
Sumber bacaan : Media Indonesia 16 &18/6/2012, Kompas 17/9/ 2012, antaranews.com (2012/11/12 & 2012/12/13),  kesehatanibu-anak.blogspot.com/2012/05, nasional.kompas.com/read/2012/05/12.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar