Rabu, 18 April 2012

Tumbuhan Hutan (2) : Ulin, Si Kayu Besi yang Terancam Punah

Dikemas oleh : Isamas54
Ulin merupakan pohon tumbuhan hutan tropika basah yang kayunya sangat keras dan kini terancam keberadaannya.

Pohon ulin (Eusideroxylon zwageri) termasuk famili Lauraceae, disebut juga kayu bulian atau kayu besi.

Penyebaran
Merupakan tanaman khas Kalimantan dan sebagian wilayah Sumatera bagian selatan (Jambi, Sumsel dan Babel).  Merupakan tumbuhan hutan tropika basah dengan tempat tumbuh di dataran rendah sampai 400 meter dari permukaan laut.

Pemanfaatan 

Kayu sangat keras dan dimanfaatkan untuk bangunan seperti rumah, jembatan, tiang listrik dan perkapalan
Batang kayu ulin sangat keras dan sangat berat bagai logam., walaupun sudah ratusan tahun tidak ada tanda kelapukan, sebagian luar kayu diliputi lapisan lumut tetapi bagian dalam gelondongan tetap padat.
Leluhur masyarakat Dayak belum merasa mantap membangun rumah betang (rumah adat) kalau tidak memakai kayu ulin, misalnya sudah digunakan untuk pembangunan rumah betang Dayak Tumbang Gagu (dibuat tahun 1870), termasuk di sini terdapat sisa bahan bangunan yang diletakkan di atas tanah, meskipun sudah 142 ta­hun ditebang  kayu ulin ini  tampak tetap utuh.  Rumah betang di Desa Tumbang Malahui, Kecamatan Rungan, Ka­bupaten Gunung Mas, Kalteng (dibangun tahun 1869), dan rumah betang Tumbang Apat di Desa Tum­bang Apat, Kecamatan Sungai Babuat, Kabupaten Murung Raya, Kalteng (sudah berdiri pada tahun 1828), kayu yang digunakan untuk bangunan rumah adat ini masih terlihat utuh walaupun sudah digunakan seratus tahun lebih.

Morfologi
Kayu
Zat tanduk ulin lebih ba­nyak dibandingkan dengan kayu lain, teras atau bagian luar ulin juga lebih kuat, setelah ditebang kayu ulin kering dan mengeras.
Sifat kayu ulin termasuk kelas kuat I dan kelas awet I.  Sebagai perbandingan misalnya : kayu jati yang termasuk kelas kuat II dan kelas awet II, kayu belangeran termasuk kelas kuat I-II dan ke­las awet III serta kayu cendana yang termasuk kelas kuat II dan kelas awet I-II.  Sedangkan berat jenis kayu ulin 0,88-1,20, sementara jati 0,62-0,82, belangeran 0,75-0,98, dan cendana 0,73-0,94.
Buah
Buah ulin berbentuk lonjong dengan panjang sekitar 15 sentimeter dan berdiameter sekitar tujuh sentimeter. Biji nuah besar dan berpelindung kuat semacam zat tanduk tebal se­perti batok kelapa, ketika jatuh ke tanah tidak langsung tumbuh, dan baru mengeluarkan tunas setelah enam bulan hingga satu ta­hun.
Jika ingin tum­buh lebih cepat buah dipecahkan, diperlakukan khusus dengan mengikir cangkang.  Untuk mempercepat perkecambahan buah digoreng dengan pasir.
Pertumbuhan
Tinggi pohon bisa mencapai 50 meter dengan diameter 120 cm.  Pertum­buhan kayu sangat lambat yaitu hanya 0,058 sentimeter per tahun, bandingkan dengan pertumbuhan rata-rata diameter pohon meranti yaitu lebih kurang satu sentimeter per tahun.
Butuh waktu lama untuk menanam ulin hingga layak ditebang, yakni sekitar 200 tahun, dimana dengan waktu selama itu diameter ba­tang ulin baru mencapai 60 sentimeter.

Di lapangan
(a).  Pengangkutan
Ulin tergolong kayu yang berat sehingga tenggelam dalam air (Berat jenis lebih dari 1).  Untuk pengangkutan kayu bulat di lapangan melalui tranportasi air/sungai maka harus digabungkan dengan kayu yang relative ringan agar tidak tenggelam.
(b).  Kelangkaan kayu
Dalam penebangan pohon ulin di hutan pada tahun 1970-an s/d 1990-an diambil untuk batang yang besarnya saja sehingga batang dan cabang pohon ditinggalkan yang kadang tertutup tanah atau tepi sungai.  Dikarenakan semakin langka dan permintaan tetap tinggi karena kualitasnya maka batang atau ranting yang sudah terbuang tadi diambil lagi untuk diperdagangkan sesuai kulaitas dan ukuran yang dibutuhkan.
(c).  Rawan pencurian
Keunggulan kayu ulin yang sangat kuat membuatnya menjadi incaran pencuri, harga ulin seukuran daun pintu saja bisa mencapai Rp 1,5 juta Tak heran jika ada jem­batan (menggunakan kayu ulin) rusak dikarenakan tiang, pagar, serta lantainya dipreteli,
(d).  Perdagangan lokal
Toko-toko kayu pun saat ini untung-untungan mendapatkan kayu ulin dimana pasokan ulin seret sejak lima tahun lalu, jika dulu stok ulin bisa datang harian, sekarang ini belum tentu sebulan sekali, sedangkan jika stok ulin dating maka langsung habis.  Banyak yang datang mencari kayu ulin, untuk mengganti fondasi rumah, mengganti papan penutup selokan air, atau untuk lantai.
(e).  Nilai harga
Harga satu batang ulin ukuran 10 sepanjang empat meter Rp 180.000.

Perlindungan
Pohon kayu ulin ini terancam punah dan dilarang diperjualbelikan, kelangkaan dipicu karena pertumbuhan ulin yang sangat lambat, sehingga perlu dipertimbangkan seperti halnya flora dan fauna yang dilindungi, atau ditingkatkan aturan pemanfaatannya.

Budidaya
Budi daya ulin (di Kalimantan Tengah) be­lum berhasil walaupun sejumlah penelitian sudah dilakukan, beberapa perusahaan kehutanan sudah pernah mencoba membudidayakan pohon ini, tetapi hasilnya belum signifikan.  Persoalannya, dikarenakan pertumbuhan ulin yang sangat lambat.
Pemerintah setempat berencana membuka kawasan konservasi ulin di Ka­bupaten Katingan seluas sekitar 200 hektar dengan program akan dimulai pada tahun 2012.
Peremajaan menjadi perhatian utama untuk mengembalikan pamor ulin sehingga kayu ini tidak lenyap selamanya.
Dari kebun
Sejak tahun 2000 kayu ulin dari hutan sudah dilarang untuk diperdagangkan, namun dalam kenyataannya masih tetap ada ulin yang beredar yaitu diambil dari kebun-kebun milik warga.
Ulin yang bisa diambil hanya yang berada di area pembuatan jalan, area tambang yang hendak dibuka, dan kebun warga, sedangkan jika keluar Kalimantan atau Sumatera (tempat tumbuh), ulin harus dilengkapi izin gubernur.

Selama masyarakat masih menggunakan kayu ulin yang kuat sebagai bahan bangunan atau kebutuhan lainnya (rumah, jembatan, pagar, kapal, dlsb), dengan harga yang tinggi serta pertumbuhan yang sangat lambat maka suatu saat tumbuhan ini hanya namanya saja, kecuali ditunjang dengan peraturan dan pelaksanaan untuk melindunginya, atau, kebutuhan tadi bisa diganti dengan beton atau bahan lainnya.

Keterangan gambar : sebagai ilustrasi yang diambil dari internet.
Sumber bacaan a.l : Harian Kompas tgl. 9 April 2011 dan 15 Maret 2012.

Bacaan terkait :
Tumbuhan hutan : Gaharu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar