Senin, 10 Oktober 2011

Tumbuhan Paku-Pakuan (Bagian 1)

Tumbuhan paku atau paku-pakuan merupakan tumbuhan yang relative ‘sederhana’ terutama dalam perkembangbiakan yaitu melalui spora (bandingkan dengan dikotil dan monokotil) .  Tumbuhan ini hidup di hutan sampai ke pegunungan dan tidak jarang dipelihara sebagai tanaman hias.

Berdasarkan pengelompokkan Steenis (1992), kekompok Paku dan paku-pakuan ini terbagi menjadi 11Famili, dimana salah satu jenis/famili yang sering kita lihat dan familiar adalah Jenis  Paku-pakuan sejati (Famili Polypodiaceae).
Jenis Paku-pakuan sejati (Famili Polypodiaceae) ini adalah merupakan tumbuhan yang hidup di tanah atau secara epiphyt yang banyak tumbuh dari mulai hutan, pegunungan, dataran atau rawa, selain hidup liar juga dipelihara sebagai tanaman hias.


Morphologis
Tidak ada batang yang sesungguhnya di atas tanah, akar rimpang kerapkali bersisik, daun mempunyai hubungan beruas atau tidak dengan akar rimpang atau hubungan dengan tonjolan di atas akar rimpang (pendukung daun), tunggal atau majemuk; daun muda menggulung secara spiral. Sporangia (tempat spora/’buah/biji’) pada sisi bawah daun atau kadang-kadang di tepi daun, berturutan atau dalam kelompok (sori).
Sori berbeda-beda menurut penempatan, bentuk besar, telanjang atau tertutup oleh tepi daun selaput penutup. 



(1). Simbar menjangan - Jawa (Platycerium bifurcatum)
Nama lain : Hertshoornvaren, Ned. 

Ciri-ciri :
Epiphyt yang kokoh, kadang-kadang tumbuh di bukit berbatu. Daun yang bervariasi dari bentuk ginjal melalui oval yang lebar sampai bentuk baji; yang kecil dengan tepi yang keseluruhannya menempel, tidak bercangap atau bercangap tidak dalam, yang lebih besar dengan ujung daun yang menjauhi tempelan, melekuk dalam tetapi tidak teratur; duduk, melekat pada akar rimpang dan menutupi ini, menangkap
sampah, di mana akar menembus. Sporangia di sisi bawah atas dari ujung tajuk daun.
Tempat tumbuh :
Jawa Tengah dan Timur, di tempat kering 50 - 500 m, hutan, pohon tepi jalan, batang pohon di daerah perkebunan. Kerapkali menjadi tanaman hias.
Catatan  : Di Jawa Barat terdapat Platicerium coronarium dengan daun sejati yang panjangnya 1-2 m. yang berulang-ulang menggarpu. Sporangia terdapat pada tajuk daun khusus yang lebarnya 10-20 cm, dekat kaki daun fertil.

(2).  Paku acel/Paku ubi - Sunda (Nephrolepis cordifolia) – Gambar 4
Ciri-ciri :
Paku tanah atau epiphyt, akar rimpang tegak, berdaun rapat, umbi pengeram bersisik, panjang 1-3 cm. Daun duduk atau hampir duduk,25-100 kali 3-8 cm; poros dengan sisik coklat, berbentuk serupa rambut; tangkai daun 2,5 - 20 cm. Anak daun berjejal rapat, kerapkali tersusun serupa genting, dengan pangkal berbentuk jantung atau terpancung; pada tepi atas kerapkali bertelinga, yang terbawah sangat kecil, beringgit bergerigi tidak dalam, urat daun sejajar yang berakhir dalam sorus atau pori air. 
Tempat tumbuh :
Kerapkali dipelihara menjadi tanaman pot, di batang pohon, tanaman pegunungan, 1000-2.400 m, hutan belukar dan rimba rumput, lereng dan hutan kampung,

(3).  Paku Harupat - Sunda (Nephrolepis biserrata)

Ciri-ciri :
Epiphyt atau paku tanah, tinggi 0.6 - 4,5 m. Akar rimpang tegak, berdaun rapat. Tangkai daun 10-50 cm, kuat, tertutup oleh sisik coklat muda dan mudah rontok; helaian daun 50-400 kali 15-40 cm, kerapkali melengkung sampai menggantung. Anak daun duduk atau hampir duduk, berjarak satu dengan yang lain, bangun lanset garis, pangkal bentuk atau terpancung dan pada tepi atas kerapkali bertelinga lemah, menyempit, lancip; anak daun muda berambut halus.
Urat daun sejajar, berdekatan rapat, dan berakhir sori atau pori air.
Tempat tumbuh :
Di daerah tidak begitu kering, mulai dari mangrove sampai 1.000 m, batang pohon, rumpun bambu, tepi hutan, belukar dan rimba rumput, atau pagar.
Catatan :
Sebagai tanaman hias diketemukan juga, kecuali type ini, suatu jenis dengan anak daun yang menggarpu dan kadang-kadang ujung poros daun yang menggarpu.

(4).  Davallia divaricate Gambar 5.

Ciri-ciri :
Epiphyt, tinggi 0,75 - 1,30 m. Akar rimpang memanjat atau me­rayap, panjang, bersisik rapat, sisik besar, pada pangkal lebar 1,5-4 mm, dengan ujung yang berambut pendek, panjang 8-20 mm. Daun bulat telur segi tiga, 60-100 kali 40-70 cm, seperti kulit, menyirip rang­kap 3-4; tangkai 15-60 cm; anak daun bulat telur memanjang, beringgit bergerigi. Ujung dari tajuk daun kerapkali muncul tinggi di atas tepi atas dari pada sorus; selaput penutup terikat sepanjang pangkal daun tepi samping, berbentuk piala, membuka keluar.
Tempat tumbuh :
Mulai dari mangrove sampai 1.300 m, di atas batang pohon di hutan atau daerah perkebunan.

(5).  Stenochlaena palustris  -Gambar 7 di atas

Ciri-ciri :
Paku tanah, panjang 5-10 m. Akar rimpang memanjat tinggi, kuat, pipih persegi, telanjang atau bersisik sangat jarang, kerapkali dengan tunas merayap, yang kadang-kadang merayap di atas permukaan atau ta­nah ke arah batang dekatnya, di mana mereka dapat lagi memanjatnya naik ke atas.
Tempat tumbuh :
Di atas daerah yang lembab, becek dan teduh hutan rawa atau yang lain, tepi hutan, tepi selokan, dengan penyebaran dari pantai sampai 900 mdpl. Kerapkali membentuk selimut batang yang rapat.
Catatan  : Tunas dan daun muda adalah lalab yang disukai di Jawa Barat.

Bersambung ke Bagian 2
 
Keterangan gambar : sebagai ilustrasi yang diambil dari buku (hitam putih) dan internet
Sumber editing bacaan : buku Flora (Van Steenis, 1992) Pradnya Paramita Jkt

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar