Sabtu, 16 April 2011

Payung Geulis Tasikmalaya


Kerajinan Payung Geulis ala Tasikmalaya ini diambang kepunahan karena secara ekonomis bisnis usaha ini sudah tidak menjanjikan lagi, namun Maskot Kota Tasikmalaya lambangnya masih menggunakan payung geulis. 
Mereka yang saat ini berusia 40 tahun ke atas mungkin masih memiliki memori masa kecil ketika sebagian payung saat itu gagangnya dibuat dari kayu dan pelindung kepalanya dibuat dari kertas semen dengan desain lukisan cat.  Payung geulis ini sangat khas dan tradisional, dimana rangka dan batang terbuat dari kayu dan bambu, tudungnya terbuat dari kertas yang diberi berbagai lukisan indah dan semarak. Ada lukisan bunga teratai, burung merak, dan gambar-gambar indah lainnya.
Payung geulis punya peran yang lebih membuatnya sangat dihargai, dimana payung ini pada masa lalu adalah kelengkapan mode mojang Tasik yang cantik, sehingga berkebaya tak akan sempurna kecantikannya bila tidak menggenggam payung jenis ini untuk melindungi wajah ayunya dari sengatan matahari yang terik. Sehingga untuk ini ada istilah “payung geulis” yang berarti payung yang bikin penampilan tambah geulis alias cantik.
Maskot Kota Tasikmalaya lambangnya menggunakan payung geulis karena payung ini sangat khas pembuatannya masih tradisional,rangka dan batangnya menggunakan bambu.  Penutupnya menggunakan kertas yang kemudian di cat sebagai hiasannya di lukis tangan oleh seorang ahli yang terampil yang sudah terbiasa dan lihai, salah seorang yang sudah terbiasa puluhan tahun tersebutlah Mak Cicih ( 82 thn ) di usianya yang sudah renta Mak Cicih masih tetap berkarya.
Kini hanya tinggal empat perajin yang masih bertahan hidup dari pesanan saja.

Sejarah
Payung geulis punya peran yang lebih membuatnya sangat dihargai, dimana payung ini pada masa lalu adalah kelengkapan mode mojang Tasik yang cantik, sehingga berkebaya tak akan sempurna kecantikannya bila tidak menggenggam payung jenis ini untuk melindungi wajah ayunya dari sengatan matahari yang terik. Sehingga untuk ini ada istilah “payung geulis” yang berarti payung yang bikin penampilan tambah geulis alias cantik.

Tahun 1929, warga Desa Panyingkiran hampir seluruhnya merupakan perajin payung geulis, begitu pula di Babakan Payung dan Empang, semua punya mata pencaharian membuat payung. Puncak kejayaan payung geulis Tasikmalaya berkisar antara 1955 hingga 1968 sampai akhirnya tergeser payung impor, puncaknya dimulai film "Pengantin Remaja" yang dibintangi Widyawati dan Sophan Sophiaan digandrungi penonton remaja dimana Sang pengantin remaja bernama Romi dan Yuli dalam ada adegannya menggunakan payung hitam produksi impor dari Jepang.    Mungkin itu hanya kebetulan saja dimana saat ini payung geulis ini sudah “ditinggalkan” penggemarnya, sehingga hal ini berakibat pula pada produsennya, di Babakan Payung malah sudah tak ada sama sekali.
Aod Sahrod (almarhum, antara lain cucunya Ny. Asri 30 tahun), semasa hidupnya boleh dikata sebagai pendekar paying, dari tangannyalah lahir kreativitas payung tradisional dengan berbagai corak gambar, bahkan pernah ikut misi kebudayaan ke Thailand sekaligus sebagai peserta tim pembanding. 

"Menurut kakek, di Thailand payung tradisional diwajibkan dipergunakan. Kalau ada perusahaan menggunakan payung untuk iklan, harus payung tradisional khas Thailand. Di kita, banyak perusahaan pasang label pada tudung payung, tetapi payung modern yang jari-jarinya terbuat dari kawat itu. Payung Tasik diabaikan," tutur Ny.Asri.
Yang membuat Asri lebih prihatin, pemerintah pun sama tak memberi perhatian lebih. "Padahal payung geulis Tasik dipakai sebagai lambang Kota Tasik. Akan tetapi anehnya, kelangsungan hidup industri payung Tasik tidak digubris," tuturnya. "Memang sih ada ajakan-ajakan singkat, misalnya ikutan pameran. Tapi kalau dibawa serta, hanya pinjam beberapa jenis payung. Sebab yang berpameran ya mereka-mereka saja, kami sebagai produsen tak dibawa-bawa. Sekalinya boleh ikut disuruh bayar, mana kami punya uang untuk bayar pameran?" kata Ny. Asri.
Namun jangan salah, walau tidak menggebu, payung geulis buatan Tasik tetap dibeli orang. Perayaan Imlek beberapa waktu lalu, datang pesanan dari panitia Imlek. Minimal bila dipajang di hotel, puas sudah. Di objek-objek wisata Pulau Bali pun dijual. Hanya yang bikin nyinyir produsen, payung dari Tasik dibawa ke Bali tanpa label Tasik.
"Jadi kalau Anda beli payung seperti ini di Sanur atau Tanah Lot, hanya akan dikenal sebagai cenderamata khas Bali," tutur Ny. Asri. Penyebabnya, bandar-bandar cenderamata membeli payung Tasik blong tanpa lukisan. "Nanti orang Bali saja yang melukisnya dengan gaya dan corak mereka," tuturnya.
Payung geulis Tasik dengan khas Tasikmalaya sesekali dibeli kelompok lingkung seni buat acara kawinan, atau dipajang di etalase kios suveniran di Rajapolah, sedangkan untuk dipakai sehari-hari di kala terik atau hujan.
Walaupun pamor payung geulis Tasikmalaya sudah menurun tetapi Pemerintah Kota Tasik menerakan payung geulis sebagai lambang kota, dengan demikian, bila industri paying ini telah bangkrut dan mati tetapi payung Tasik ini masih “tetap abadi”.  
Apakah payung geulis ini bisa seperti pamor payung Jepang? memang rasanya agak berat, tetapi sampai sekarang tetap exist untuk bertahan.

Pemasaran dan pameran
Pada pameran diselenggarakan pameran Bentara Budaya Jakarta ( (5 s/d 10 April 2011) yang  menggelar pameran dan penjualan ke­lom dan payung geulis. Tak perlu harus menyusuri pasar antik di Singapura dan Malaysia untuk menemukan payung kertas, paying geulis Tasikmalaya menanti Anda...

Karya dalam pameran …
Yayat Sudrajat (42), pengusaha pa­yung geulis, mewarisi keterampilan membuat rangka bambu sampai melukis motif payung dari kakeknya. Motif khas payung geulis adalah lulusan bu­nga warna-warni "Motif tradisional ini terdiri dari bunga keliling, bunga tiga tangkai, dan bunga gunduk," kata Yayat yang dalam sebulan bisa memproduksi ratusan potong payung, baik dari ma­teri kain maupun kertas.
ilustrasi
Namun, nasib payung geulis tak seindah kemolekannya. Si cantik ini kalah bersaing dengan payung modern. Jumlah perajin payung geulis terus menyusut dari tahun ke tahun hingga hitungan jari. Kini, para kolektor memburu payung geulis karena kelangkaannya

Keterangan gambar : sebagai ilustrasi yang diambil dari internet
Sumber :  Harian Kompas tanggal 10 April 2011 dan  wartawantasik.multiply.com , 2 /7/07 , niecoll.multiply.com 20/11/2008,  dan imahtasik.com 14/12/2006

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar