Senin, 20 Desember 2010

Menguak Misteri Hilangnya Pesawat Adam Air

Pada tanggal 1 Januari 2007 pesawat Adam Air jenis Boeing 737-400 PK-KKW dengan nomer penerbangan DHI 574 yang dikomandoi oleh Captain pilot R. A Widodo dengan Copilot Yoga bak hilang ditelan bumi.
Pesawat berangkat dari bandara Juanda Surabaya jam 12.58 WIB (08.58 UTC) itu dalam penerbangan nya melalui jalur W-32. Di pesawat tersebut mengangkut penumpang sebanyak 85 orang dewasa, 7 anak-anak, 4 bayi dan 6 orang awak pesawat. Pesawat itu mengalamai musibah di tek Majene Sulawesi Selatan sebelum tiba di bandara Sam Ratulangi Manado jam 16.15 WITA (08.15 UTC).
Kronologis :
Untuk mengetahui lebih jauh mengenai hilangnya pesawat Adam Air tersebut baiklah kita lihat sejenak kronologis kejadiaannya melalui hubungan komunikasi antara pesawat tersebut dengan pemandu lalulintas udara (ATC) Ujung Pandang ACC.
Pada jam 14.12 WIB (06.12. UTC) pesawat Adam Air DHI 574 melakukan kontak pertama dengan Bali UTA saat pesawat melewati ketinggian 23.000 kaki menuju ketinggian 35.000 kaki. Pesawat telah terdeteksi oleh radar Ujung Pandang pada posisi poin KASOl. ATC memebrikan nstruksi kepada pesawat Adam Air untuk langsung menuju posisi poin DIOLA dan disetujui oleh pilot.
Pada jam 14.36 WITA (06.36 UTC) pesawat terlihat di radar pada radial 270 dengan jarak 192 dari MKS VOR dimana posisi pesawat keluar jalur yang telah diinstruksikan sebelumnya. Melihat kondisi tersebut ATC segera memebrikan instruksi ke pesawat Adam Air untuk kembali pada jalur yang yang telah diinstruksikan/disepakati sebelumnya, sehingga ATC mengkonfirmasikankembali kepada pilot. Hal itu dibenarkan oleh pilot karena ia sedang mendapat cross wind 74 knots dari arah kiri. Kemudian ATC menawarkan heading 070 untuk terbang kea rah poin DIOLA dan disetujui pilot.
Pada jam 14.58 WITA (06.58 UTC) pilot minta kepada ATC untuk memberitahukan dimana posisi sekarang. Dengan bantuan radar, ATC memberikan bahwa posisi pesawat pada radial 309 dengan jarak 120 NM dari MKS VOR yang dimengerti pilot. Selanjutnya…………………. Label Radar Track (pesawat hilang dari penginderaan radar). Upaya ATC untuk memanggil/mengadakan kontak berkali-kali dengan pesawat Adam Air baik melaluiradio frekuensi lain maupun minta bantuan pesawat lain seperti Garuda dan Merpati yang saat itu sedang melintas didaerah itu tapi tetap tidak ada jawaban.
Pada jam 15.16 WITA (07.16 UTC) pesawat Garuda dengan nomer penerbangan GA 603 berusaha mengadakan kontak dengan pesawat Adam Air namun tidak ada jawaban juga.
Pada jam 15.30 WITA (07.30 UTC) pesawat Lion Air dengan nomer penerbangan 777 berusaha mengadakan kontak dengaan pesawat Adam Air namun tidak ada jawaban. ATC juga berusaha menghubungi bandara-bandara sekitar yang dimungkinkan pesawat Adam Air akan mendarat disana, namun juga tidak ada informasi.
Langkah-Langkah
Dengan adanya kejadian Adam Air, maka diambil langkah-langkah sebagai berikut :
Jam 16.04 WITA (08.15 UTC) melaporkan kejadian hilangnya pesawat Adam Air kepada SAR.
Jam 16.15 WITA (08.15 UTC) mendeclare/menyatakan kondisi INCERFA (ada kekhawatiran terhadap pesawat) kepada ATS Unit lain.
Jam 17.08 WITA (09.08 UTC) mendeclare/menyatakan kondisi ALERFA (ada indikasi gangguan terhadap pesawat).
Jam 17.23 WITA (09.23 UTC) mendeclare/menyatakan kondisi DETRESFA (telah terjadi bahaya yang serius dan meminta bantuan segera).
Membuat Plotting Track pesawat berdasarkan Air Situation Display (ASD) sesuai keterangan pelaksana operasional yang tujuannya untuk memberikan petunjuk diposisi/area mana pesawat diperkirakan hilang/jatuh.
Membentuk POSKO dengan melibatkan managemen PT (Persero) Angkasa Pura I dan instansi terkait di MAATS Bandara Hasanuddin Makasar.
Terus memantau perkembangan kejadian dan koordinasi dengan instansi terkait.
Pendugaan
Dari kronologis kejadian di atas ada dugaan/pendapat yang menyatakan bahwa :


Pesawat Adam pada saat keluar dari jalur penerbangan yang telah ditentukan, mendapat dorongan angin dari sebelah kiri sebesar 74 knots (lebih dari 100 km) sedanhgkan kecepatan pesawat diperkirakan 480 knots pada ketinggian antara 20.000 kaki sampai 30.000 kaki. Dengan berat pesawat lebih dari 30 ton, angin dari arah kiri dan pesawat dari heading 355 menuju heading 054 dalam hal ini pilot berusaha menuju kearah angin namun pada saat melakukan manuver diperkirakan ada gangguan pada mesin sebelah kiri sehingga pesawat terlempar dan jatuh.
Pada saat pesawat Adam Air keluar jalur diperkirakan alat navigasi pesawat mengalami masalah/rusak, dan pesawat masuk turbulence/jet stream (angin berputar kencang) kemudian pesawat mengalami high speed stall (penurunan tiba-tiba dengan kecepatan tinggi) sehingga pesawat menukik ke bawah tanpa bias dikendalikan.
Benarkah dugaan atau pendapat seperti diatas ? Hal tersebut akan dapat dibuktikan apabila black box pesawat Adam Air sudah diketemukan.  Black box adalah suatu benda yang bentuknya kotak dan warnanya orange yang biasanya ditempatkan dibagian ekor pesawat yang berfungsi untuk merekam emua kegiatan aktivitas pilot di cockpit termasuk operasional peralatan di pesawat.
Kapal Amerika Serikat sudah berhasil mendeteksi keberadaan black box di kedalaman laut 1900 – 2000 meter.
Dua Kotak Hitam Adam Air Berhasil Diangkat
Dua kotak hitam pesawat AdamAir KI 574 yang celaka 1 Januari 2007 berhasil diangkat dari perairan Majene, Sulawesi Selatan. Flight Data Recorder (FDR) berhasil diangkat pukul 12.29 WIB, 27 Agustus di kedalaman 2.000 meter.
Sedangkan Cockpit Voice Recorder (CVR) ditemukan pukul 10.00 WIB, 28 Agustus di kedalaman 1.900 meter. Jarak antara FDR dengan CVR sekitar 1.400 meter atau mengalami pergeseran 21 meter.
FDR ditemukan pada koordinat 3.41 02S dan 118.08 53E. Sedangkan CVR 03.40 22S dan 118.09 16E. Lokasi diangkatnya kotak hitam itu sesuai dengan lokasi yang direkam sonar Mary Sears milik AS.
Hal itu diungkapkan Ketua KNKT Tatang Kurniadi dalam jumpa pers di Gedung Dephub, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (28/8/2007). Tatang juga menjelaskan, proses pencarian dilakukan dengan dua alat yang didatangkan dari luar negeri berupa kapal khusus berbendera Cyprus dan robot pendeteksi dari Phoenix, AS.
Penyimpangan Navigasi Penyebab Kecelakaan Adam Air di Sulawesi
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyimpulkan, kecelakaan pesawat Adam Air di Sulawesi pada Januari 2007 lalu dipicu adanya penyimpangan pada sistem navigasi di pesawat. Fokus konsentrasi pilot pada malfungsi IRS mengalihkan perhatian terhadap instrumen lain sehingga pesawat lepas kendali.
Ketua KNKT Tatang Kurniadi menjelaskan, dalam rangka tindakan koreksi sistem navigasi, IRS Mode Selector Unit Nomor 2 (kanan) dialihkan ke posisi mode attitude (ATT). Akibatnya, automatic pilot tidak berfungsi, setir kemudi netral di tengah dan pesawat mulai miring ke kanan.
Suara peringatan Bank Angle mulai terdengar saat pesawat miring ke kanan melewati 35 derajat. "Tapi hingga 100 derajat, pilot tidak melakukan roll agar kembali normal,"jelas Tatang dalam paparan di kantor Departemen Perhubungan, Selasa (25/3).
Dalam posisi demikian, pesawat diupayakan naik lagi (nose up). Pada kecepatan Mach 0,926, pesawat mengalami kerusakan struktur signifikan. Tekanan penerbangan berubah cepat dari positive 3,5g menjadi negatif 2,8g. "Saat itu pesawat kritis tidak dapat dikendalikan," kata Tatang.
Pesawat Adam Air dengan nomor penerbangan 574 Jakarta-Manado karam di Perairan Majene, Sulawesi Barat pada 1 Januari 2007. Pesawat hilang bersama 6 awak dan 96 penumpangnya. Namun baru pada 27 Agustus lalu kotak hitamnya diangkat dari kedalaman 2 ribu meter. Data kotak hitam sudah berhasil di baca di Amerika Serikat pada September 2007. Kesimpulan KNKT merujuk pembacaan flight data recorder (FDR) dan cockpit voice recorder (CVR) pada kotak hitam.

Sumber editing bacaan : http://bandara.web.id dan http://www.tempointeraktif.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar