Senin, 20 Desember 2010

Sampah Plastik Ancam Penyu Tempayan

Setumpuk tubuh penyu laut mati terdampar di pantai Laut Adriatik, laut yang memisahkan semenanjung Italia dengan semenanjung Balkan. Bagi nelayan setempat, pemandangan itu sudah semakin sering mereka lihat. Tak jarang tanpa sengaja tubuh-tubuh penyu yang telah tak bernyawa tersebut tertangkap kapal-kapal nelayan.
Saat diteliti oleh para peneliti dari University of Zagreb, bangkai penyu-penyu tersebut penuh dengan plastik di ususnya. Satu penyu bisa memakan 15 bagian plastik yang memenuhi perut mereka.
Padahal untuk membunuh satu ekor penyu hanya dibutuhkan beberapa gram puing plastik dalam usus penyu.
Setanjutnya, plastik-plastik tersebut memenuhi ruang usus yang mengakibatkan penyu tak dapat mencerna makanan mereka.
"0,71 gram plastik cukup untuk membuka peluang kematian setiap individu penyu," ucap salah satu peneliti, Romana Gracan kepada BBC (4/11/2010).


Penyu tempayan (Caretta caretta) merupakan hewan pemakan segala (omnivora) yang dapat mencari makan pada berbagai kedalaman laut yang berbeda. Saat dasar laut Mediterania terlalu dalam untuk diraih para penyu, mereka akhirnya memakan hewan-hewan yang mengambang.
Menurut Gracan kebiasaan tersebut dapat berakibat fatal. Pasalnya saat mencapai perairan pantai dangkal dari Adriatik penyu-penyu tersebut mengira dapat berpesta dengan hewan-hewan dasar laut.
Padahal justru penyu-penyu tersebut terjebak dengan sampah-sampah plastik, "Inti masalahhya ada pada puing-puing keras sampah plastic di Laut Adriatik." tandasnya.
Yang lebih mengkhawatirkan, lanjut Gracan, dari 54 penyu yang mereka periksa, lebih dari sepertiganya telah menelan sampah-sampah plastik, Kebanyakan penyu menelan sampah-sampah seperti tas plastik, pembungkus kertas perak, tali plastik, busa polystyrene, dan tali kail.

Rumah yang rusak
Konsentrasi sampah di dasar Laut Adriatik memang salah satu yang tertinggi di sepanjang pantai Eropa setelah barat laut Mediterania dan Laut Celtic.


Sampah-sampah tersebut dihasilkan dari sekitar 4 juta populasi jiwa di sepanjang lepas pantai. Jumlah tersebut dapat meningkat saat musim panas seiring dengan kedatangan turis yang mencapai 18 juta jiwa.
"Penyu tempayan adalah pencari makan yang oportunistis. Mereka akan memakan hampir semua yang ada di depan mereka. Padahal plastik berkeliaran di sekitar mereka untuk waktu yang sangat lama di laut," paparnya.

Padahal, Gracan menjelaskan Laut Adriatik merupakan rumah yang penting bagi pertumbuhan penyu tempayan.
Perairan pantai yang dangkal di bagian utara Laut Adriatik adalah salah satu tempat makan yang pa¬ling penting bagi penyu tempayan di Mediterania. Bagian Selatan Laut Adriatik juga penting bagi penyu untuk memulai perjalanan samudera.
“Penting untuk mengetahui lebih banyak tentang Laut Adriatik untuk membantu penyu tempayan untuk menyeberangi seluruh Mediterania.” Sahut Gracan.
Laut Adriatik sendiri merupakan laut kecil yang sebagian besar terputus dari lautan Mediterania dan hanya bergabung dengan Laut Ionian selebar 70 km dari Selat Otranto.
Pencemaran kimia di Adriatik telah dipelajari selama lebih dari 30 tahun. Pusat konservasi laut di Mediterania bahkan sudah didirikan.
Gracan menjelaskan air yang dangkal di Laut Adriatik merupakan faktor penting bagi tersedianya makanan dasar untuk pertumbuhan mereka menjadi dewasa.
"Suhu air di sini sesuai dengan para penyu dan karena (perairan) itu dangkal, penyu-penyu tersebut memiliki kesempatan untuk mendapatkan makanan jenis benthic di dasar laut," jelasnya.
Namun dengan rumah yang rusak, para penyu tempayan tersebut justru terancam kepunahan. Para peneliti berharap sekarang mereka telah menunjukkan bahwa penyu sangat rentan terhadap kotoran plastik.
"Ke depan kita harus berpikir lebih hati-hati atas apa yang kita masukkan ke dalam laut," kata Dr Gracan.

Bayang-bayang plastik
Pencemaran plastik tak hanya mengancam penyu. Para ilmuwan menemukan bahwa berbagai hewan laut, mulai dari hewan tak bertulang belakang hingga sebagian besar mamalia mengonsumsi sampah plastik. Para ilmuwan yakin hal itu dapat merusak kesehatan hewan-hewan laut.


Penelitian mengenai sampah plastik baru-baru ini yang dikeluarkan Sea Education Association (SEA) menemukan semakin meluasnya wilayah pencemaran plastik yang ada di bagian barat Samudra Atlantik Utara. Konisentrasi plastik tertinggi ditemukan pada lokasi 32 derajat lintang Utara dan meluas dari 22-38 derajat lintang utara.
Lebih dari 64,000 buah plastik secara terpisah dikumpulkan dari 6.100 lokasi yang menjadi sampel tahunan selama penelitian. Permukaan jaringan plankton digunakan untuk mengumpulkan puing-puing plastik serta organisme biologis.
"Data ini tidak hanya penting untuk mengatur perkiraan ilmiah pertama secara ketat dari peningkatan dan jumlah plastik mengambang pada skala laut basin, tetapi data tersebut juga memastikan bahwa bentuk fisik dasar laut menjelaskan mengapa plastik yang menumpuk di daerah ini sehingga jauh dari pantai," ucap peneliti SEA, Kara Lavender Law dalam laman resmi mereka.
Sebagian besar plastik tersebut berukuran milimeter dan terdiri dari bahan polyethylene atau polypropylene, yakni bahan yang mengapung dalam air laut. Penelitian SEA menemukan pertumbuhan biologis dapat mengubah karakteristik fisik plastik dari waktu ke waktu yang memungkinkan plastik dapat tenggelam.
"Analisis yang disajikan dalam artikel Science ini memberikan gambaran ilmiah yang kuat dari tingkat pencemaran plastik untuk saat ini.
Penelitian ini dapat digunakan untuk membuat manajemen dan pembuatan kebijakan yang lebih baik, serta untuk menginformasikan persepsi umum dari masalah plastik," papar peneliti SEA, Dean Paul Joyce.
Keterangan Gambar : ilustrasi yang diambil dari internet
Sumber artikel : Harian Media Indonesia tanggal  9 Nopember 2010 oleh : Vini Mariyane Rosya


Bacaan terkait :
Pengolahan Ulang Botol Plastik Bekas

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar