Rabu, 04 Agustus 2010

KOTA PANGKEP SULSEL DENGAN DUNIA FANTASI-NYA

Oleh  :  Isamas54 
Nama Pangkep adalah merupakan nama sebuah ibukota Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan yang ada di Provinsi Sulawesi. (nama ibukota disingkat menjadi Pangkep).  Untuk menuju kota ini dari Jakarta atau kota-kota lainnya,  apabila menggunakan pesawat terbang tentunya harus melalui Bandara Sultan Hasanuddin Makassar Sulawesi Selatan.
 Makassar Pangkep
Perjalanan kami lakukan dari Makassar menuju Pangkep sekitar bulan April 2010 dimana sebagian jalan lintas tersebut sedang dalam tahap perbaikan yaitu sedang dalam tahap renovasi dengan pembuatan jalan yang lebar dengan beton bertulang.  Sepanjang jalan yang sedang dalam tahap renovasi disana-sini masih kondisi jalan lama sehingga terpaksa kendaraan agak turun naik (jalan yang lagi dibangun lebih tinggi kedudukannya), entah sampai kapan jalan tersebut seluruhnya selesai, mungkin setengah atau satu tahun lagi selesai.   Jarak antara Kota Makassar dengan Kota Pangkep sekitar 50 km (mohon koreksi apabila salah) dan bisa ditempuh sekitar satu jam lebih dengan kendaraan bermotor roda empat
Apabila jalan Makassar Pangkep tersebut seluruhnya telah selesai diperbaiki (beton bertulang, aspal hotmik, relative lurus dan tidak banyak kelokan, kendaraan masih belum ramai), maka mungkin saja jarak sekitar 50 km tersebut bisa ditempuh dalam waktu kurang dari satu jam kurang, tidak seperti sekarang dengan perjalanan agak santai ditempuh selama satu jam setengah.
Ketika waktu kami lewat jalan tersebut masih berdebu (kebetulan tidak hujan) dan di sana sini masih terdapat tanah berbatu dan jalan berlobang (karena dalam perbaikan).
 GAMBAR : Perbaikan jalan dengan jembatan yang belum selesai
Apabila jalan Makassar Pangkep tersebut seluruhnya telah selesai diperbaiki (beton bertulang, aspal hotmik, relative lurus dan tidak banyak kelokan, kendaraan masih belum ramai), maka mungkin saja jarak sekitar 50 km tersebut bisa ditempuh dalam waktu kurang dari satu jam kurang, tidak seperti sekarang dengan perjalanan agak santai ditempuh selama satu jam setengah.
Ketika waktu kami lewat jalan tersebut masih berdebu (kebetulan tidak hujan) dan di sana sini masih terdapat tanah berbatu dan jalan berlobang (karena dalam perbaikan).
Sepanjang perjalanan ditemui lapangan terbuka, semak, pemukiman penduduk dan sebagainya. Di daerah wilayah makssar yang dikenal dengan makanan Konro dan Coto Makassar-nya.
Setelah mendekati kota Pangkep kelihatan di kiri kanan jalan banyak areal perkampungan penduduk, tidak heran kalau di sini kelihatan suasana pedesaan dimana masih kelihatan kerbau atau sapi dengan gembalanya, nenek-nenek mengangkat kayu bakar, kakek-kakek mengendong cangkul atau membawa parang, gadis desa yang masih muda sambil menggendong anaknya yang masih merah serta nampak terhampar empang yang sangat luas.
Di sepanjang hamparan empang, biasanya terdapat satu bangunan khusus tempat memarkir kendaraan dengan kondisi bangunan itu sangat sederhana yaitu atasnya dari seng, dan sekelilingnya dibiarkan terbuka untuk memudahkan kendaraan diparkir dengan luas sekitar tiga kali empat meter. Nampaknya bangunan itu menjadi tempat parkir bersama untuk para pengelola empang, tentunya tanpa dipungut biaya alias parkir gratis.
Coba saja bisa Anda bayangkan, duduk di tempat yang agak teduh (relative tidak ditumbuhi pohon-pohon pelindung), dibuai angin yang tidak sepoi-sepoi atau kadang-kadang sangat kencang, disengat terik mentari menyengat kulit, kalau sekiranya tidak enjoy mungkin Anda akan merasa gimana gitu, namun perasaan tersebut bisa dikalahkan oleh rasa senang dengan kegembiraan membayangkan ikan bandeng bakar yang menggoda selera makan.  Ikan bandeng bakar ini biasanya sangat mendominasi hidangan di tempat semacam ini dengan kapasitas pada setiap piring terisi sekitar lima sampai enam ekor ikan bandeng
Mendekati Kota Pangkep kita bisa menyaksikan deretan bukit-bukit batu kapur khas Pangkep yang menjadi bahan baku pembuatan semen, dimana di daerah Pangkep ini  terdapat pabrik semen yang sangat terkenal, PT Semen Tonasa, sebuah BUMN yang mengeksplorasi bukit-bukit kapur Pangkep sejak era 1970-an. Tidak jauh dari Pangkep, yakni di Maros juga sudah berdiri megah perusahaan swasta nasional PT Semen Bosowa yang juga mengekplorasi bukit-bukit kapur yang memanjang dari Pangkep hingga Maros.

Memasuki kota Pangkep ………………
Didalam Kota Pangkep banyak kelihatan transportasi darat yang  melayani berbagai rute antar wilayah dalam kota Pangkep yaitu jenis mikrolet (pete-pete), bentor (becak motor), dokar, dan becak serja ojek, sedangkan untuk perjalanan darat untuk rute ke luar kabupaten atau kearah kota Makassar dapat  menggunakan angkutan minibus, mikrolet, dan bus kota.
Kami singgah dan nginap di sebuah rumah komplek perumahan yang jaraknya kurang lebih satu kilometer dari jalan raya, tempat pemukiman berupa komplek tersebut masih menggunakan sumur yang dipompa tetapi airnya agar berwarna (mengandung besi), mungkin ini juga yang perlu mendapat perhatian dari Pemerintah daerahnya, rupanya mengenai air bersih masih relative kurang, t idak tahu kalau ti kota tersebut telah ada Perusahaan Air Minum, karena kalau air berwarna tersebut dipakai untuk nyuci baju putih bisa kemungkinan baju tersebut berubah warna.
Di kota Pangkep kami sempat jalan-jalan ke sebuah Pasar Ikan, di sana terlihat kuli-kuli panggul membawa mengangkut ikan, maklum saja ikan-ikan tersebut bisa diperoleh langsung dari nelayan.  Seperti di pasar-pasar ikan lainnya bisa ditemui iakan, kakap, baronang, cumi, udang, kepiting, kerang dlsb.  Kami coba beli kerang mentah, ternyata harganya relative murah yaitu dengan uang sebanya Rp 5.000,- bisa diperoleh kerang sebanyak satu baskom ukuran sedang.
Selesai ke pasar kami singgah di warung makan, di sini hidangannya di dominasi makanan laut dengan porsi nasi satu piring, ikan bakar atau goreng satu atau dua potong kiranya bisa menentramkan Sang Perut yang mulai menagih.  Selain porsi ikan “paketnya” pun ditambah sayur atau sop daging, serta tidak ketinggalan sambel dan kecapnya. Dengan uang satu lembar warna merah bisa cukup untuk makan berempat, itupun masih ada kembaliannya.  
Berdasarkan data yang ada, panjang jalan di Kabupaten Pangkep pada tahun 2006 adalah 752.014 km dimana sepanjang 551,084 km sudah diaspal/beton dengan kondisi jalan baik sepanjang 422,680 km, sisanya berupa jalan kerikil dan tanah.
Sedangkan untuk potensi pariwisata di Kab. Pangkep terdiri dari wisata bahari (puau dan panorama bahwa laut), wisata purbakala dan prasejarah, serta wisata permandian alam, seperti berikut ini :
  • wisata bahari :  dan Pulau kapoposang dan Pulau langkadea
  • permandian : mattampa, tombolo dan leang surukang
  • taman purbakala : sumpang bita
  • prasejarah : leang elle, leang kajuara, leang cammingkana dan gua batanglamara
Sedangkan untuk  sarana transportasi laut dan sungai yang dipergunakan ada 3 (tiga)     jenis, yaitu perahu  kayu ukuran sedang / besar dan bermesin dalam untuk angkutan penyebarangan antar pulau atau dari pulau ke  daratan  kabupaten, sedangkan  jenis lainnya adalah kapal kayu yang lebih kecil dan biasa disebut Jolloro  serta perahu jenis speed boat yang biasanya terbuat dari serat fiber. 
Tempat penyebarangan menuju pulau /dermaga terdapat  beberapa tempat yang dapat digunakan, seperti : dermaga Maccini Baji, Dermaga Limbangan, Dermaga Kassi Kebo, Dermaga Pangkajene, serta  sebuah Dermaga yang berlokasi di Makassar, yaitu Paotere.
Mengenai pertumbuhan sektor industri di Kab. Pangkep dari tahun ke tahun cukup menggembirakan, hal ini di tandai dengan semakin maraknya perkembangan kegiatan di beberapa sektor industri.  Sekor industri yang paling menonjol adalah industri pengolahan semen tonasa yang dapat menghasilkan sekitar 3, 5 jutan ton semen pertahun dan pabrik marmer ( 29 perusahaan,  & 16 telah berproduksi) dengan produksi 1.200.000 m3/tahun  
Potensi perikanan khsususnya tambak udang/bandeng pada tahun 2006 seluas 9.556 Ha dengan produksi sebanyak 10.592,2 ton masing-masing 9.023,7 ton untuk bandeng, 846,7 ton untuk udang windu, dan sisanya 722,4 ton untuk udang putih dan campuran.  Selain potensi perikanan darat, juga terdapat potensi perikanan laut yang cukup besar.  Pada tahun 2006 hasil tangkapan yang diperoleh mencapai 10.040,7 ton (sumber BPS Pangkep).
Sarana perhubungan udara saat ini belum ada di Kab. Pangkep sehingga untuk perjalanan luar provinsi Sulawesi Selatan, masih menggunakan bandar udara yang berlokasi di daerah perbatasan antara Kabupaten Maros dan  Kota Makassar, yaitu Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.  Namun menurut informasi atau data di web bahwa Kota Pangkep termasuk yang akan dilintasi pembuatan jalan kereta api.
Dengan perjalanan selama lima hari dari ibukota menuju Pangkep di Sulawesi Selatan kiranya cukup mengesankan dimana ada suatu keasyikan tersendiri dengan perjalanan tersebut dan keadaan alamnya.  Tinggal pemerintah daerah setempat saja yang perlu berupaya untuk meningkatkan potensi sumber daya alamnya, yang antara lain obyek-obyek dan potensi yang kami peroleh datanya dari berbagai sumber.

TAMAN HIBURAN MATTAMPA
Taman Hiburan Mattampa -tepatnya di Kabupaten Pangkajene kepulauan , Sulawesi Selatan (Sulsel) yang jaraknya sekitar 50 kilometer dari Kota Makassar (Ibu Kota Provinsi Sulawesi Selatan) , selain terkenal sebagai pemasok ikan bandeng, juga menjadi satu-satunya daerah di Sulsel yang memiliki dunia fantasi (dufan) mirip Dufan di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta.  Taman Hiburan Mattampa, yang sangat menariknya dengan Dufan Mattampa ini yaitu. “Surga bermain” itu menyatu dengan alam pegunungan yang memberikan pesona tersendiri.
Taman Hiburan Mattampa - Surga bermain untuk berbagai/ segala usia. menikmati panorama alam dan gua-gua di pegunungan karst terpanjang kedua di dunia setelah pegunungan karst di China ini.
Lokasi sangat strategis, karena berada di jalan poros trans sulawesi, sangat mudah dicapai dengan segala macam kendaraan darat dan pintu gerbangnya langsung terlihat.  Dekat lokasi parkir, ditempatkan museum karst yang di dalamnya terdapat aneka batu-batuan karst dan fauna yang habitatnya di pegunungan batu kapur itu.  Masuk kawasan ini ,langsung disambut dengan dua patung replika kuda putih yang merupakan patung penyambut selamat datang. yang diiringi berbagai jenis pepohonan yang hijau dan embusan angin semilir.  Bunyi gemericik air dan suara anak kecil bermain terdengar riuh rendah, Permainan memanjat tali, meniti dan bergelantungan di atas anyaman tali, sampai dengan permainan yang menantang ketangkasan .  dan aneka permainan seperti komedi putar, kincir, bebek-bebekan, kereta gajah dan kereta wisata.  Terdapat dua kolam renang yang dikhususkan bagi dewasa dengan kedalaman 4,5 meter dan bagi anak-anak . Sumber air kedua kolam renang ini diperoleh dari pegunungan karst yang berada di sekitar kawasan Pangkep. dan sangat jernih. Kedua kolam renang ini juga difasilitasi dengan permainan air layaknya sebuah waterboom.
Gua-gua karst yang berada sekitar 100 meter dari arah sebelah kanan pintu gerbang Gazebo untuk bersantai bersama keluarga sambil menikmati makanan ringan. Terdapat juga pusat jajanan tradisional makanan khas Sulsel misalnya sop saudara dan ikan bakar.

Sulsel Segera Miliki Jalur Kereta Api
MAKASSAR – Impian masyarakat Sulsel memiliki jalur kereta api tidak lama lagi akan terwujud. Pemerintah Provinsi Sulsel telah memetakan jalur kereta api (KA) tersebut pada rancangan peraturan daerah (raperda) tentangrencanatata ruang wilayah (RTRW).
Sebelumnya, jalur KA ini telah dimuat dalam rencana pembangunan jangka panjang (RPJP) Sulsel. Jalur KA tersebut direncanakan melewati hampir seluruh daerah di Sulsel,kecuali Soppeng,Toraja,Toraja Utara,Enrekang dan Selayar. Rencana pembangunan stasiun utama KA juga sudah dibuat.
Stasiun utama itu akan dibangun di enam kota, yakni Makassar,Pangkep,Palopo, Parepare, Bulukumba dan Takalar. Sementara itu, stasiun pembantu akan dibangun di enam kota lainnya, yakni Gowa, Maros, Barru, Bone, Wajo, Luwu Timur.Jika pembangunan KA di Sulsel ini terwujud,maka itu menjadi jalur KA modern pertama di luar Pulau Jawa.
Hanya, saja pemprov belum bisa memastikan waktu dimulainya pembangunan jalur KA ini.Begitu pula dengan rencana panjang jalur KA yang akan dibangun. Kepala Sub Dinas Perencanaan Tata Ruang dan Program Dinas Tata Ruang dan Permukiman (Distarkim) Sulsel Darul Aqsa mengatakan, masih perlu dilakukan studi kelayakan.
”Dalam waktu dekat memang belum bisa karena masih perlu studi kelayakan.Hanya saja, jalur kereta api itu telah ada dalam sistem transportasi darat seperti dalam raperda,” ujar Darul kemarin. Sekretaris Panitia Khusus (Pansus) Raperda RTRW DPRD Sulsel A Burhanuddin Baharuddin mengatakan, pembangunan jalur KA sudah pasti karena telah termuat dalam RPJP.
Kendati RPJP Sulsel berlaku 2008-2028,Burhanuddin optimistis pembangunan jalur KA itu sudah bisa dimulai paling lambat 2012 mendatang.”Diharapkan pada akhir periode gubernur itu sudah mulai dibangun,” ujar Burhanuddin. Dia menambahkan, pembangunan KA tersebut juga tergantung dari keinginan gubernur yang sedang memerintah.
Rencananya,jalur KA ini dibangun melalui sharing pembiayaan antara pemerintah pusat dengan pemprov Sulsel. Selain itu, juga diharapkan ada bantuan luar negeri. Jalur KA ini direncanakan memanjang di jalur pantai barat Sulsel,yakni dari stasiun utama di Makassar, melewati sejumlah stasiun.
Salah satu jalur lain KA ini yakni rute Bulukumba-Bone, dengan melewati Sinjai.Adapun pertimbangan empat daerah yang tidak dilewati KA, yakni Soppeng, Toraja, Toraja Utara, Enrekang dan Selayar,karena alasan teknis. Toraja dan Enrekang merupakan daerah pegunungan, sedangkan Selayar merupakan kabupaten kepulauan.
Sedangkan Soppeng tidak dilewati karena dinilai berdekatan dengan Wajo. Burhanuddin menambahkan, moda transportasi KA sudah menjadi kebutuhan mutlak masyarakat Sulsel karena sangat murah dan bersifat massal. (SINDO-bakti m munir)

DATA POTENSI (alangkah baiknya kalau ada masukkan untuk perbaikan)

Letak Geografis dan Batas Kabupaten
Secara geografis, Kabupaten Pangkajene Dan Kepulauan (Pangkep) terletak di antara koordinat 119°55’27” dan 119°48’24” BT hingga 4°34’00” dan 4°58’17” LS,
Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan terletak antara 110Ý BT dan 4Ý.40’ sampai dengan 8Ý.00’ LS atau terletak dipantai Barat Sulawesi Selatan dengan batas-batas :  sebelah utara Kabupaten Barru, sebelah selatan  Kabupaten Maros, sebelah timur Kabupaten Bone, sebelah barat provinsi Kalimantan selatan, Jawa timur, NTB, Madura, dan Bali

Visi pembangunan Kab. Pangkep 2005 – 2010
Adapun Visi pembangunan Kab. Pangkep 2005 – 2010 adalah : "PANGKEP YANG UNGGUL, MAJU, MANDIRI DAN LEBIH RELIGIUS PADA TAHUN 2010" , dimana untuk mewujudkan visi tersebut maka beberapa misi yang diemban, adalah : mengembangkan potensi sdm, mengelola potensi sda, membangun struktur perekonomian yang didukung infra struktur, good governance dan pelayanan publik  prima, mengembangkan iklim politik yang demokratis, rule of law serta pembinaan   kemasyarakatan dijiwai nilai-nilai keagamaan, mengembangkan interkoneksitas antar wilayah,

Penduduk,  Pendidikan, Agama dan Kebudayaan
Jumlah penduduk Kabupaten Pangkep pada tahun 2006 sebanyak  293.221 jiwa, meningkat sebesar 1,34 % dibanding tahun 2005 yang berjumlah 289.347 jiwa, yang tersebar di 12 kecamatan yang antara lain di  Kecamatan Pangkajene 38.714 jiwa (13,20 %), Kecamatan Bungoro 35.878 jiwa (12,24 %) dan Kecamatan labakkang sebanyak 40.988 jiwa (13,,89 %). Berdasarkan data tahun 2006 penduduk perempuan lebih banyak dari laki-laki dengan rasio setiap 1000 orang perempuan terdapat 929 orang laki-laki, denga  kepadatan penduduk rata-rata 264 jiwa/km2 dengan jumlah anggota rumah tangga sebanyak 5 orang.
Sarana Pendidikan yang terdapat di Kab.Pangkep pada tahun 2004 mulai dari jenjang pendidikan dasar , menengah sampai perguruan tinggi sebagai berikut : TK 42 unit, SD Negeri 305 unit dan swasta 1 unit, SLTP Neg. 24 unit dan swasta 10 unit, SLTA Neg. 12 dan SLTA Swasta 7 unit, Perguruan tinggi Neg. 1 unit dan swasta Swasta 3 unit.  Dengan adanya program Pemkab Pangkep pada tahun 2005, yang memfokuskan peningkatan mutu pendidikan, sehingga angka penerimaan siswa di setiap sekolah akan meningkat. Dengan adanya program pendidikan gratis dari SD-SLTP lalu dilanjutkan dengan SLTA, pemkab mengharapkan tidak ada lagi warganya yang tidak melanjutkan pendidikan dasar hanya karena ketiadaan biaya. Semua itu telah dibebankan pada ABPN dan ABPD setempat.
Begitu juga dengan peningkatan kesejahteraan guru yang kini telah dilaksanakan sejak tahun 2005 ini, mulai dari pemberian THR pada setiap hari raya dan pemberian tunjangan khusus untuk guru atau PNS yang mengabdi di wilayah terpencil, serta pemberian baju dinas untuk semua guru.
Dari sisi budaya, secara umum penduduk Kab. Pangkep terdiri dari 2 (dua) etnis mayoritas, yaitu etnis Bugis dan Makassar, sedangkan sisanya adalah berasal dari beragam etnis lainnya, seperti Toraja, Mandar, Jawa.   Selain bahasa Indonesia, penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa komunikasi sehari-hari  oleh penduduk Kab. Pangkep adalah bahasa Bugis dan bahasa Makassar.  Sebahagian besar masyarakat masih menjunjung tinggi  nilai-nilai budaya lokal yang telah mengakar sejak lama, misalnya terlihat pada perayaan acara perkawinan, selamatan, maupun pada event besar lainnya, seperti peringatan hari kemerdekaan atau hari jadi kebupaten Pangkep.
Agama.  Secara umum penduduk Kab. Pangkep merupakan pemeluk agama islam. Dari 293.221 jiwa terdapat 292.157 orang atau 99,6 % merupakan pemeluk agama islam, selebihnya adalah pemeluk agama kristen protestan 472 orang, kristen katolik 542 orang dan hindu/budha 50 orang. Sarana peribadatan terdiri dari masjid 402 buah, mushollah 29 buah, langgar 28 buah dan  1 buah gereja.

Sumberdaya Alam
·           Potensi perikanan darat  (tambak udang/bandeng)  seluas 9.556 ha, dengan produksi sebanyak 10.592,2 ton, terdiri diri  Ikan bandeng : 9.023,7 ton, Udang windu : 846,7 ton, Udang putih dan campuran : 722,4 ton, Rumput laut : 7.174,2 ton, Potensi perikanan laut/tangkap mencapai 10.040,7 ton.
·           Luas areal pertanian (sawah) seluas  16.007 ha, terdiri dari : Sawah berpengairan teknis : 5.870   Ha, Setengah teknis : 1.408   Ha, Irigasi sederhana / desa : 443    Ha, Pengairan non PU : 1.873   Ha, dan Sawah tadah hujan : 6.413 Ha. Produksi panen : Padi sawah : 104.630   Ha, Kacang tanah : 2.067    Ha.
·           Kelompok tani sebanyak 840 kelompok yang tergabung dalam Gapoktan   (Gabungan Kelompok Tani) sebanyak 59 kelompok.
·           Luas areal perkebunan 18.179 ha, dengan komoditi unggulan  seperti : Jambu mete : 7.868  Ha dan Kelapa : 4.684 Ha, dengan produksi tahun 2006   :  Jambu mete : 3.039  Ha dan Kelapa 4.309 Ha.
·          Pertambangan : Batu Bara : 13.500.000   M3, Batu Kromik : 10.000.000   M3, Marmer : 12.625.000   Ha, Pasir Silika/Kuarsa : 28.500.000   Ha, Tanah Liat : 72.863   M3, Batu Gamping : 1.432.341   M3, Sirtu : 2.500.000   Ha, Kristal Kuarsa : 600.000   M3, Trakit : 13.000.000 Ha.
·           Pariwisata yang masih perlu terus dikembangkan : wisata bahari (Pulau .kapoposang, Pulau langkadea), permandian (mattampa, tombolo, leang surukang), taman purbakala (sumpang bita) dan prasejarah (leang elle, leang kajuara, leang cammingkana), serta gua batanglamara

Dikemas dari berbagai sumber antara lain :



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar