Selasa, 19 Juni 2012

Monas, Karya Abadi Dua Arsitek Indonesia


Bagi warga negara Indonesia, khususnya warga Jakarta, Monumen Nasional atau yang lazim disebut Tugu Monas sudah tidak asing lagi. Meski demikian, tidak berarti semua warga Jakarta mengetahui asal-muasal berdirinya Monas, meski melintasinya hampir tiap hari.

Monumen lambang perjuangan yang berada tepat di jantung ibu kota negara dan pemerintahan Republik Indonesia ini menjulang tinggi mengalahkan kemegahan bangunan-bangunan di sekelilingnya.
Meski demikian, tidak berarti semua warga Jakarta mengetahui asal-muasal berdirinya Monas, meski melintasinya hampir tiap hari.
Monas, yang dibangun pada 1961 atas inisiatif presiden pertama Republik Indo­nesia Soekarno, mengalami lima kali penggantian nama, mulai Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, hingga Taman Monas.
Sebenarnya ide pemba­ngunan monumen ini sudah tertanam di benak Soekarno sejak 1950-an. Saat itu, pusat pemerintahan baru dikembalikan ke. Jakarta dari Yogyakarta, menyusul pengakuan Belanda atas kemerdekaan Indonesia. Di Jakarta, Soekar­no mulai memikirkan konstruksi sebuah monumen nasional yang mampu disejajarkan dengan Menara Eiffel di Paris, Francis.
Untuk merealisasikan ide ini pada 17 Agustus 1954, Komite Monumen Nasional dibentuk.  Kompetisi desain pun diadakan pada 195S dan berhasil menjaring 55 peserta,. Desain obelisk milik Frederich Silaban -laki-laki kelahiran Bonandolok, Sumatra Utara- dinilai memenuhi semua kriteria yang diajukan komite. Kendati begitu, desain Frederich tidak serta-merta digunakan.
Menurut komite, desain monumen yang diajukan ha­rus merefleksikan karakter bangsa Indonesia, di samping mampu bertahan selama berabad-abad. Pada 1960, Komite Monumen Nasional kembali menggelar kompetisi serupa. Namun, dari 136 de­sain yang masuk, tidak satu pun memenuhi kriteria.
Ketua komite kemudian meminta Frederich menunjukkan desainnya kepada Soekarno. Saat itu Soekarno tidak langsung menyukai desain yang diperlihatkan kepadanya. Pasalnya, Soekar­no menginginkan monumen tersebut dalam bentuk lingga dan yoni yang ramping, sedangkan desain Frederich berbentuk monumen yang sangat besar. Desain Freder­ich tidak mungkin diimplementasikan mengingat kondisi perekonomian Indonesia yang karut-marut kala itu. Frederich menolak mendesain monumen yang lebih kecil dan menyarankan agar konstruksi ditunda hingga perekonomian Indonesia membaik.
Namun, Soekarno tidak menyetujuinya dan kemu­dian meminta arsitek Raden Mas Soedarsono untuk memulai pembangunan menggunakan desain Frederich. Dengan arahan dari Soekar­no, Soedarsono pun mulai membangun proyek mercusuar itu.
Konstruksi dilakukan dalam tiga tahap. Periode per­tama (1961-1965) ditandai dengan peletakan batu per­tama oleh Soekarno untuk bangunan fondasi. Dibutuhkan 284 pasak untuk mem­bangun blok fondasi selama tiga tahun.
Pada periode kedua (1968-1969), pembangunan tersendat karena kesulitan finansial. Namun, pada fase tersebut dinding museum di dasar monumen akhirnya bisa diselesaikan. Pada periode akhir (1969-1976), pembangunan sejumlah diorama untuk mengisi museum di­selesaikan. Pada 12 Juli 1975, museum itu resmi dibuka untuk publik.
Monumen ini memiliki tinggi sekitar 132 meter de­ngan semua bagiannya dilapisi marmer asal Italia. Luas pelataran bawah 45x45 meter, sedangkan tinggi dari dasar Monas ke pelataran bawah 17 meter. Puncak Monas dibentuk layaknya lidah api dan dilapisi emas murni.
Bentuk Monas yang pipih dan menjulang tinggi ke langit merupakan simbol lingga dan yoni. Lingga melambangkan alu atau alat penumbuk beras dan yoni melambangkan lesung. Keduanya meru­pakan alat rumah tangga tradisional Indonesia.
Selain itu, lingga dan yoni juga merupakan simbol keabadian. Lingga yang ber­bentuk seperti phallus merepresentasikan maskulinitas, elemen-elemen positif, dan siang hari. Adapun yoni yang berbentuk seperti organ seksual perempuan merepresentasikan sifat feminin, elemen-elemen negatif, dan malam hari.

Keterangan gambar : sebagai ilustrasi (tambahan) yang diambil dari internet
Sumber : disalin dari tulisan pada Media Indonesia tgl. 18 Juni 2012)

Bacaan terkait : Wisata Jakarta, Monas

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar