Sabtu, 10 Desember 2011

Sejarah Indonesia (1) : Sekitar Proklamasi Kemerdekaan RI

Kemerdekaan Negara RI diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 yang tentunya mengalami proses dalam persiapannya.

Sebelum pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan, terdapat perbedaan pendapat antara golongan tua (Ir Soekarno dan Mohammad Hatta) dengan pendapat golongan muda (Adam Malik, Chairul Saleh, Sukarni dan Wikana).
Golongan tua sangat berhati-hati dalam mempersiapkan dan melaksanakan Proklamasi Kemerdekaan. Sebaliknya, golongan muda ingin agar Proklamasi itu segera dilaksanakan tanpa menunggu janji Jepang, kedua pendapat ini tidak salah tetapi justru harus dipadukan. Golongan muda sudah tidak percaya lagi kepada Jepang yang begitu banyak mengeluarkan janji tetapi banyak yang diingkarinya.
Pada tanggal 16 Mei 1945, golongan pemuda, yang didukung oleh Angkatan Muda Indonesia mengadakan sidang di Bandung Badan ini dibentuk oleh Jepang, tetapi kemudian berubah menjadi badan yang anti Jepang. Dalam pertemuan itu yang hadir BM Diah, Chairul saleh, Anwar Cokroaminoto, dan Harsono Cokroaminoto.
Pada tanggal 3 Juni 1945, pemuda mejagadakan pertemuan rahasia di Jakarta. Yang hadir adalah BM Diah, Sukarni, Sudiro, Syarif Thayeb, Wikana, Harsono Cokroaminoto, dan lain-iain.
temuan rahasia serupa diadakan lagi tanggal 15 Juni 1945 yang menghasilkan Gerakan Angkatan Baru Indonesia. Tujuanya adalah : (a).   Mencapai persatuan yang teguh di antara seluruh masyarakat Indonesia; (b).  Menanamkan semangat revolusioner kepada masyarakat atas dasar kesadaran sebagai rakyat yang berdaulat; (c).   Membentuk negara kesatuan Republik Indonesia, dan (d).   Mempersatukan gerakan bahu membahu bersama Jepang, dengan maksud mencapai kemerdekaan melalui kekuatan sendiri.
Sementara itu, kaum nasionalis tua yang juga sudah tahu bahwa saat kemerdekaan sudah dekat, bersikap hati-hati dan masih tetap memegang janji Jepang.  Bagaimanapun juga, kekuatan militer Jepang yang berada di Indonesia masih bisa menggagalkan rencana Proklamasi Kemerdekaan.
Sutan Syahrir mendesak agar kedua pemimpin nasional segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Sutan Syahrir mendengar berita menyerahnya Jepang kepada Sekutu dari radio gelap.  Pada saat itu, Ir. Sukarno dan Mohammad Hatta sedang dalam perjalanan pulang dari Dalat (Vietnam Selatan) atas panggilan Jenderal Terauci.

1.   Peristiwa Rengasdengklok
Desakan Sutan Syahrir sebagai wakil kaum muda ditolak oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Alasannya :  (a).   Kebenaran berita tersebut akan dicek dahulu lewat sumber resmi. (b).   Pelaksanaan proklamasi akan dibicarakan dengan seluruh anggota PPKI yang akan bersidang tanggal 16 Agustus 1945.
Tanggal 15 Agustus 1945, pukul 20.00 WIB, para pemuda mengadaaan rapat, dihadiri oleh Chairul Saleh, Wikana, Subadio, Johar Nur, Kusnandar, Subianto, dan tokoh-tokoh lain. Hasil rapat tersebut adalah sebagai berikut : (a).  Kemerdekaan Indonesia adalah urusan rakyat Indonesia sendiri. (b).  Memutuskan segala ikatan dengan Jepang. (c).  Mengabaikan semua janji Jepang. (d).   Mengadakan perundingan dengan Sukarno dan Mohammad Hatta.
Hasil rapat tersebut dibawa ke tempat kediaman Sukarno di Pegangsaan Timur No. 56. Di situ ternyata sudah berkumpul tokoh-tokoh nasionalis tua, seperti Buntaran, dr Samsi, Ahmad Subarjo, dan Iwa Kusumasumantri. Dalam rapat itu Wikana mendesak supaya proklamasi dilaksanakan esok pagi.
Bung Karno, selaku ketua PPKI harus bertanggung jawab sesuai kedudukannya. Oleh karena itu, perlu terlebih dahulu diadakan sidang untuk meminta persetujuan dari semua anggota. PPKI memang akan mengadakan sidang pada tanggal 16 Agustus 1945 pagi hari. Timbul ketegangan antara Sukarno dan wakil-wakil pemuda. Dalam suasana seperti itu datang Bung Hatta. la mengajak golongan tua berunding. Sesudah berunding, Hatta menyampaikan kepada wakil-wakil pemuda bahwa Sukarno dan Hatta tidak mau dipaksa. Kalau pemuda tetap pada pendirian mereka, pemuda dipersilahkan mencari tokoh lain.
Pukul 24.00, menjelang tanggal 16 Agustus 1945, para pemuda lalu mengadakan rapat di Cikini 71. Yang hadir adalah pemuda-pemuda yang sudah berkumpul sejak rapat pukul 20.00 ditambah Yusuf Kunto, Sukarni, Muwardi, dan Singgih. Akhirnya, rapat memutuskan membawa Sukarno dan Mohammad Hatta ke luar kota untuk menjauhkan mereka dari pengaruh Jepang. Tugas untuk membawa kedua pemimpin itu diserahkan kepada Singgih dan Latif Hendraningrat. Kedua-duanya adalah anggota Peta.
Pukul 04.00 WIB tanggal 16 Agustus 1945, Sukarno dan Mohammad Hatta dibawa dengan sebuah mobil ke Rengasdengklok, dekat Karawang, Jawa Barat. Dipilihnya tempat itu adalah dengan alasan keamanan. Rengasdengklok adalah salah satu tempat pemusatan pasukan Peta.
Satu hari penuh kedua pemimpin nasional itu berada di sana. Para pemuda terus mendesak dan menekan supaya mereka segera mau melaksanakan Proklamasi Kemerdekaan. Namun, rupanya wibawa kedua pemimpin itu begitu besar sehingga para pemuda yang masih berdarah panas itu tidak mampu berbuat apa-apa. Sementara itu di Jakarta, Ahmad Subarjo berhasil meyakinkan pihak pemuda supaya Sukarno dan Hatta dibawa kembali ke Jakarta. Subarjo menjamin bahwa kemerdekaan akan diproklamasikan esok harinya.
Sore itu juga, para pemuda membawa Ahmad Subarjo untuk menjemput Sukarno dan Mohammad Hatta ke Rengasdengklok. Pukul 17.30 rombongan tiba di Rengasdengkok. Rombongan segera mengawal kedua pemimpin itu kembali ke Jakarta.

2.   Perumusan Teks Proklamasi
Sekitar pukul 19.00, rombongan tiba di Jakarta. Setelah kembali ke rumah masing-masing, Sukarno dan Hatta segera pergi ke rumah Laksamana Maeda di Jalan Imam Bonjol No. 1, untuk menyusun naskah proklamasi.  Soekarno dan Hatta berpendapat bahwa di rumah Laksamana Maeda inilah keamanan dapat terjamin. Sebab, pembesar Jepang yang satu ini membantu perjuangan bangsa Indo­nesia untuk merdeka.
Dengan ditemani oleh Maeda, Sukarno dan Hatta pergi menemui komandan militer Jepang di Indonesia, Nishimura, untuk memberitahu tentang rencana tersebut. Tetapi Nishimura menolak. Alasannya, sebagai panglima yang sudah menyerah dia harus tetap menjaga keadaan di Indonesia karena kekuasaan sudah berada ditangan Sekutu. Permohonan Sukarno untuk mengadakan rapat PPKI yang sedianya dijadwalkan tanggal 16 Agustus 1945, juga ditolak oleh Nishimura.
Karena merasa tidak ada gunanya berbicara dengan Nishimura, Sukarno lalu mengajak rombongan kembali ke rumah Maeda. Di sana ia menyusun naskah proklamasi. Naskah proklamasi disusun di ruang makan.
Penyusun naskah proklamasi adalah Sukarno, Mohammad Hatta, dan Ahmad Subarjo. Ikut menyaksikan adalah BM Diah, Sukarni, Sudiro, Miyoshi (orang kepercayaan Nishimura). Kaum tua maupun pemuda lainnya menunggu di serambi depan.
Sukarno menulis, sedangkan Mohammad Hatta dan Ahmad Subarjo menyumbangkan pendapat secara lisan.
Dini hari, pukul 04.00 WIB, pertemuan dibuka dan Sukarno membacakan naskah proklamasi. Kemudian, Sukarno mengusulkan supaya semua yang hadir ikut menandatangani naskah proklamasi tersebut. Mohammad Hatta memperkuat usul Sukarno dengan mengacu pada Declaration of Independence pada saat negara. Amerika Serikat terbentuk. Tetapi para pemuda menolak usul tersebut. Akhirnya, Sukarni mengusulkan supaya yang menandatangani naskah proklamasi tersebut hanya Sukarno dan Mohammad Hatta saja atas nama Bangsa Indonesia. Semuanya setuju sebab mereka sudah mengetahui kedudukan kedua orang tersebut sebagai pemimpin nasional yang disegani.
Sukarno lalu menyuruh Sayuti Melik mengetik naskah tulisan tangan Sukarno dengan beberapa perubahan yang disetujui bersama. Selesai diketik, Sukarno dan Hatta segera menandatanganinya.
“Proklamasi.  Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan Kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.1.1. diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja”.

3.  Pelaksanaan Proklamasi

Persoalan kemudian timbul mengenai di mana pembacaan naskah akan dilaksanakan atau bagaimana caranya menyebarluas-kan naskah proklamasi tersebut ke seluruh Indonesia. Sukarni mengatakan bahwa lapangan Ikada sudah disiapkan bagi berkumpulnya masyarakat Jakarta untuk mendengarkan pembacaan naskah proklamasi. Tetapi Sukarno menjawab, bahwa berkumpulnya masyarakat di lapangan Ikada dapat menimbulkan bentrokan dengan tentara Jepang. Kemudian ia mengusulkan supaya pembacaan naskah proklamasi dilakukan di rumahnya saja, yaitu di Pegangsaan Timur No. 56. Akhirnya, usul itu disetujui dengan secara bulat dan pembacaan naskah proklamasi akan dilaksanakan pada hari Jum'at tanggal 17 Agustus 1945, pukul 10.00 WIB, bertempat di Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta.

Bersambung ke (2)

Keterangan gambar : sebagai ilustrasi yang diambil dari internet
Sumber editing bacaan : berbagai sumber.

Berita terkait : 
Ir. Soekarno
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar