Senin, 25 Oktober 2010

GUNUNG BERAPI, PENYEBAB KESUBURAN, WISATA ATAU BENCANA (Bagian 2 - TAMAT)

Bentuk gunung berapi pada umumnya merupakan bagian bumi yang muncul dan cukup tinggi (tidak semua, bisa saja di laut) sehingga bagian sekitarnya terdapat wilayah yang subur, sejuk, indah, sumber penghasilan, dan tempat wisata, tetapi tidak jarang juga menjadi sumber bencana ketika meletus. Tidak semua gunung berapi sering meletus, gunung berapi yang sering meletus disebut gunung berapi aktif.

Letusan gunung berapi
Gunung berapi meletus adalah merupakan peristiwa yang terjadi akibat endapan magma di dalam perut bumi yang didorong keluar oleh gas yang bertekanan tinggi.
Magma adalah cairan pijar yang terdapat di dalam lapisan bumi dengan suhu yang sangat tinggi, yakni diperkirakan lebih dari 1.000 °C. Cairan magma yang keluar dari dalam bumi disebut lava. Suhu lava yang dikeluarkan bisa mencapai 700-1.200 °C. Letusan gunung berapi yang membawa batu dan abu dapat menyembur sampai sejauh radius 18 km atau lebih, sedangkan lavanya bisa membanjiri sampai sejauh radius 90 km.
Tidak semua gunung berapi sering meletus. Gunung berapi yang sering meletus disebut gunung berapi aktif.

Tipe Gunung Berapi
Berbagai tipe gunung berapi yaitu : (1). Gunung berapi kerucut atau gunung berapi strato (strato vulcano). (2). Gunung berapi perisai (shield volcano), dan (3). Gunung berapi maar

Ciri-ciri gunung berapi akan meletus
Gunung berapi yang akan meletus dapat diketahui melalui beberapa tanda, antara lain : Suhu di sekitar gunung naik, Mata air menjadi kering, Sering mengeluarkan suara gemuruh, kadang disertai getaran (gempa), Tumbuhan di sekitar gunung layu, dan Binatang di sekitar gunung bermigrasi

Aktifitas gunung berapi
Aktifitas gunung berapi diklasifikasikan menjadi 3 golongan yaitu : Golongan A yaitu gunung api yang pernah meletus atau memperlihatkan kenaikan aktivitas magnetik di hitung sejak tahun 1680, jumlahnya 76 buah. Golongan B yaitu Gunung api yang memperlihatkan aktivitas fumarola tetapi sejak tahun 1600 tidak meletus, jumlahnya 29 buah, dan Golongan C yaitu Lapangan Solfatara atau fumarola tetapi tidak memperlihatkan bentuk gunung api, jumlahnya 24 buah

Bahaya dan materi letusan
Bahaya akibat letusan gunung berapi yaitu bahaya primer dan sekunder. Adapun bahaya langsung (Primer) terjadi karena lemparan batuan seperti lemparan bom, aliran lava, dan hembusan letusan seperti hembusan awan pijar, gas beracun dan pekatnya hujan abu, sedangkan bahaya Ikutan (sekunder) yaitu bahaya yang timbul karena aliran lumpur yang tercampur dengan batuan.
Secara singkatnya ancaman gunung api itu dapat diuraikan lebih lanjut sebagai berikut :
(1). Lava dan aliran pasir serta batu panas. Lava adalah cairan magma dengan suhu tinggi (sampai 1200 0 C) yang mengalir dari dalam Bumi ke permukaan melalui kawah melalui lereng dan dapat mencapai beberapa kilometer. Semua benda yang di lalui hancur terbakar. Lava dapat melongsor dan menimbulkan awan pijar serta letusan gas (degasing). Lava encer akan mengalir mengikuti aliran sungai sedangkan lava kental akan membeku dekat dengan sumbernya. Lava yang membeku akan membentuk bermacam-macam batuan.
(2). Bom Gunung Api : Bom gunung api dapat terlempar dari pusat letusan sejauh radius 10 Km. Bom ini berukuran dari 10 0C lebih sampai ukuran 1/2 atau 2 sampai 3 m; biasanya panas atau pijar dan dapat menimbulkan kebakaran, baik pada rumah maupun hutan.
(3). Pasir dan Lapili : Pasir dan lapili adalah lemparan material letusan yang lebih kecil dari bom. Pasir berukuran lebih kecil dari 2 mm sedangkan lapili lebih besar dari pasir sampai berukuran beberapa cm. Selain menghancurkan atap rumah karena bebannya, juga pasir dan lapili dapat menghancurkan hutan dan pepohonan.
(4). Lahar adalah lava yang telah bercampur dengan batuan, air, dan material lainnya. Lahar sangat berbahaya bagi penduduk di lereng gunung berapi.
(5). Awan Pijar : hasil letusan yang mengalir bergulung seperti awan Awan Pijar ini adalah Suspensi dari material yang halus yang dihembuskan oleh suatu gunung api dan merupakan campuran yang pekat dari gas uap dan materi yang halus tadi, dengan suhu lebih besar dari 600 °C. Di Gunung Merapi, Jawa Tengah awan pijar disebut juga "Wedus Gembel" terjadi karena keluarnya gas dan lemparan material halus dari longsoran kubah yang membara (Jenis Merapi). Awan panas ini mencapai jarak sampai 10 km dari pusat longsoran. Awan panas dapat mengakibatkan luka bakar pada tubuh yang terbuka seperti kepala, lengan, leher atau kaki dan juga dapat menyebabkan sesak napas
(6). Abu Gunung Api dan Gas beracun : Abu merupakan lemparan material yang paling halus dari suatu letusan gunung api. Pada umumnya suhunya tidak panas lagi. Kadar gas yang keluar terlampau tinggi dari letusan suatu gunung api dapat pula menyebabkan kematian. Gas tersebut antara lain Karbonmonoksida (CO), Karbondioksida (CO2), Hidrogen Sulfide (H2S), Sulfurdioksida (S02), dan Nitrogen (NO2). Karena sangat halus, abu letusan dapat terbawa angin dan dirasakan sampai ratusan kilometer jauhnya.

Mengapa Terjadi Gunung Berapi?
Pengetahuan tentang tektonik lempeng merupakan pemecahan awal dari teka-teki fenomena alam termasuk deretan pegunungan, benua, gempabumi dan gunungapi. Planet bumi mepunyai banyak cairan dan air di permukaan. Kedua faktor tersebut sangat mempengaruhi pembentukan dan komposisi magma serta lokasi dan kejadian gunungapi.
Panas bagian dalam bumi merupakan panas yang dibentuk selama pembentukan bumi sekitar 4,5 miliar tahun lalu, bersamaan dengan panas yang timbul dari unsure radioaktif alami, seperti elemen-elemen isotop K, U dan Th terhadap waktu. Bumi pada saat terbentuk lebih panas, tetapi kemudian mendingin secara berangsur sesuai dengan perkembangan sejarahnya.
Pendinginan tersebut terjadi akibat pelepasan panas dan intensitas vulkanisma di permukaan. Perambatan panas dari dalam bumi ke permukaan berupa konveksi, dimana material-material yang terpanaskan pada dasar mantel, kedalaman 2.900 km di bawah muka bumi bergerak menyebar dan menyempit disekitarnya.
Pada bagian atas mantel, sekitar 735 km di bawah muka bumi, material-material tersebut mendingin dan menjadi padat, kemudian tenggelam lagi ke dalam aliran konveksi tersebut. Litosfir termasuk juga kerak umumnya mempunyai ketebalan 70 120 km dan terpecah menjadi beberapa fragmen besar yang disebut lempeng tektonik.
Lempeng bergerak satu sama lain dan juga menembus ke arah konveksi mantel. Bagian alas litosfir melengser di atas zona lemah bagian atas mantel, yang disebut juga astenosfir. Bagian lemah astenosfir terjadi pada saat atau dekat suhu dimana mulai terjadi pelelehan, kosekuensinya beberapa bagian astenosfir melebur, walaupun sebagian besar masih padat.
Kerak benua mempunyai tebal lk. 35 km, berdensiti rendah dan berumur 1 2 miliar tahun, sedangkan kerak samudera lebih tipis (lk. 7 km), lebih padat dan berumur tidak lebih dari 200 juta tahun. Kerak benua posisinya lebih di atas dari pada kerak samudera karena perbedaan berat jenis, dan keduanya mengapung di atas astenosfir.
Model penampang bumi. Kerak yang menindih mantel hampir seluruhnya terdiri dari oksida yang tidak melebur. Proses vulkanik membawa fragmen batuan ke permukaan dari kedalaman lk. 200 km melalui mantel, hal tersebut ditunjukkan dengan adanya mineral-mineral olivine, piroksen dan garnet dalam peridotit pada bagian atas mantel. (Modifikasi dari Krafft, 1989; Sigurdsson, 2000).

Materi yang dikeluarkan dari magma pada waktu letusan banyak mengandung materi dan mineral sehingga apabila sudah dingin dan "melapuk" dimakan waktu maka merupakan wilayah yang kaya materi untuk dimanfaatkan seperti pasir, jenis batuan, tanah yang subur, dlsb.

Demikian uraian singkat mengenai gunung berapi
TAMAT.

Sumber editing bacaan :Wikipedia, catatanagoes.wordpress.com, dan khatulistiwa.info

Catatan :
Bagi Penjelajah, Petualang atau Pendaki gunung supaya lebih mengetahui mengenai "ciri-ciri gunung akan meletus",  juga penduduk sekitarnya serta instansi yang berwenang.
Tks.

Tulisan terkait :
Gunung Berapi ... (Bagian 1)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar