Selasa, 31 Agustus 2010

TEMPA-TEMPO BAGIAN 3 : KADIPATEN MENUJU MAJALENGKA, MAKIN MENOR MAKIN MANIS

Rute perjalanan yang kami kisahkan adalah merupakan rute dari Jakarta atau Bogor dlsb. menuju rute Bandung (tidak ditulis), sesampainya di Bandung mengikuti trayek Bandung – Sumedang (Tempa-Tempo Bagian 1), selanjutnya Sumedang – Kadipaten (Tempo-Tempo Bagian 2), serta untuk Bagian 3-nya adalah trayek Kadipaten – Majalengka (11 km). Trayek tersebut merupakan Jalur Alternatif jalan tengah dari Jawa Barat ke Jawa Tengah. Di sepanjang trayek atau tempat di sekitarnya banyak kisah dan cerita yang menarik. Mungkin tulisan ini bisa membantu untuk Pemudik Lebaran atau yang mau wisata di daerah ini.
Trayek Kadipaten – Majalengka bisa ditempuh 10 s/d 15 menit kendaraan dengan kecepatan sedang-sedang saja (bukan “Pelan-Pelan Saja” seperti lagunya Kotak) dengan jalan aspal yang bagus .
Jalan ini merupakan Jalur Alternatif menuju Cirebon dan ke Jawa Tengah yaitu ketika jalur pantura macet, pemudik asal Jakarta biasanya diarahkan melewati Subang-Cikamurang-Kadipaten, kemudian melewati Majalengka menuju Cirebon selanjutnya ke Brebes.
Kalau dari Sumedang, setelah sampai di simpang Pertigaan Tol (Sumedang –Sadang/Purwakarta lewat Cikamurang– Kadipaten/Cirebon, selanjutnya menuju Kadipaten akan melewati Jembatan Tomo (Sungai Cimanuk) dan Jembatan Sungai Cilutung dan barulah sampai di Kadipaten.
Sebelum masuk wilayah Tomo di pinggir jalan banyak terdapat lapak/gubuk jualan yang apabila pas musimnya dijual Mangga Gedong Gincu yang “Makin Menor Makin Manis”. Sayang sekali kalau kita lewatkan, tapi coba dulu satu atau 2 buah karena kalau bukan musimnya terkadang kurang memuaskan.
Kadipaten
Kadipaten berasal dari nama Kadipatian, dimana dalam sejarahnya berkaitan erat sekali dengan Kerajaan Sumedang Larang. Lihat Sejarah Kadipaten.
Begitu kita masuk Kota Kadipaten tepatnya di perempatan lampu merah kita melintasi bekas jalan kereta api (namun rel nya relatif lebih kecil dari yang biasa, gk tahu rel tersebut sekarang masih ada tidak ada lagi). Dulu memang ada Jalur Kereta Api Cirebon – Palimanan – Kadipaten yang diutamakan waktu itu mungkin untuk pengangkutan hasil panen tebu menuju Pabrik Gula Kadipaten, tetapi angkutan kereta api tersebut sudah lama mati (sejak sekitar tahun 1970-an), mungkin hal ini dikarenakan kalah bersaing dengan kendaraan umum atau Pabrik gulanya yang kurang produktif lagi. Pabrik Gula Kadipaten tersebut saat ini telah jadi “Mall”-nya Kadipaten yang letaknya disebelah kiri jalan bila kita dari Kadipaten menuju Majalengka.
Di Daerah Kadipaten yang termasuk Kabupaten Majalengka terdapat sentra produksi Bola Sepak PT. Tri Star yang telah men “dunia”, disamping itu terdapat Pusat Pengembangan Produksi Mangga Gedong Gincu.
Keluar dari Kadipaten menuju Majalengka disebelah kanan jalan dan agak masuk ke dalam sedikit terdapat Bendungan Air Sungai (namanya?), selanjutnya sepanjang trayek ini melewati jalan yang mulus, dimana sekitar daerah Panyingkiran terdapat pengolah / industry rumahan Raginang / Ranginang (agak masuk ke dalam), selain itu di pinggir jalan banyak dijual semangka, timun suri, mangga gedong (yang kadang-kadang jenis buah-buahan yang dijual tergantung musim). Kiri kanan jalan terhampar pesawahan dan kebun mangga yang semakin lama semakin tergusur dengan penggunaan lahan untuk non pertanian dan pemukiman
Istilah “Makin Menor Makin Manis” khususnya bisa coba untuk dibuktikan, malahan kalau kita kebetulan pas musim mangga-mangga –nya, mangga yang masih bergetah (Harumanis atau Gincu) dikupas dalamnya seperti telor asin yang mengkal dari luar tetapi dalamnya matang dan rasanya manis sekali, karena tidak diperam atau langsung dari pohon-nya ke pedagang”.
Kita melewati jembatan Sungai Cijurey keadaannya sekarang mah agak datar, kalau dulu jembatan kecil menurun atau berada dibawah sehingga enak sekali untuk ajang pertempuran, kedaraan merayap di bawah dilihat dari atas dataran yang agak tinggi. Mirip di film-film deh. Hal ini tidak sekedar cerita ………………
Jaman Penjajahan Belanda dan Jepang
Di jembatan daerah Jatipamor ini pada Jaman Penjajahan Belanda pernah menjadi ajang pertempuran dan pernah di bom (mungkin granat), namun korbannya berapa-berapanya kurang ada data (habis waktu itu belum ada HP dan Internet).
Cerita soal Jaman Balanda ini jadi merambat … Nikh
Untuk wilayah Majalengka ini waktu itu terdapat 3 (tiga) kekuatan yaitu Tentara RI, Belanda dan DI/TII yang ketiganya kalau bertemu bisa saling baku tembak/perang, jadi seru juga kalau lihat, asal tidak kena.
Waktu Jaman Penjajahan Jepang maupun Belanda, rakyat biasanya mengungsi atau “Pakoasi” ke kampung-kampung pedalaman dengan membawa sanak family dan peralatan seadanya. Bagi rakyat yang biasa-biasa saja sih tinggal pergi (easy going) and menetap untuk beberapa waktu sampai situasi aman, tapi bagi yang punya harta “kaya” alias Orkay mereka serba salah : kalau mengungsi siapa yang jaga harta (dagangan, hewan peliharaan, rumah bagus dlsb-dlsb) tetapi kalau tidak mengungsi menjadi sasaran baik oleh Tentara RI maupun oleh Belanda yang sama-sama mencurigai sebagai mata-mata, sehingga tidak jarang memberi “tip” atau sumbangan khususnya kepada tentara RI.   
Kalau DI/TII waktu itu (sekitar 1950-1960-an ?) tidak berani masuk kota mereka senengnya bergerilya di hutan-hutan, ke kota atau perkampungan kalau mereka perlu untuk cari makanan (kalau sekarang mah sekali-kali lihat Mall ngkali - tks).  Memang daerah hutan wilayah Majalengka waktu itu khususnya daerah lereng Gunung Ciremay bersambung ke hutan-hutan daerah selatan berupa hutan lebat or "Leuweung Ganeaan".
Adapun bukti-bukti Belanda telah singgah dan menetap di Majalengka terdapat kuburan orang Belanda disebut Kerkov yang antara lain terletak di daerah Sindangkasih Majalengka. Karena kuburan Belanda ini sebagian sebagian “relief tulisan nama yang dikubur” antara lain terbuat dari bahan marmer” tidak jarang dipecahin oleh anak-anak untuk dibuat bahan kelereng –dibikin bulat- (mungkin sejak tahun 1960-an sudah terjamah dan kurang tahu keadaan sekarang). Selain itu di kota (sampai sekarang?) terdapat juga rumah-rumah perkantoran atau rumah tinggal dengan arsitektur ke Belanda-Belanda-an.
Sedangkan bukti Tentara Jepang antara lain di suatu tempat terdapat Bangunan buatan Jepang (untuk menyimpan peluru) yang dibangun dengan batu bata yang dulu antara lain terletak di sebuah ladang rimbun sebelah Utara Kota Majalengka (sampai tahun 1970-an masih ada bekasnya, entah kalau sekarang mungkin sudah rata dengan tanah).
Memasuki Kota Majalengka …
Di kota ini kalau only atau cuma sekedar cari “Mangga” relative mudah karena tinggal bilang “Punten” mau masuk ke suatu rumah atau lewat di depan banyak orang maka akan ada jawaban “Mangga” (arti di sini Monggo, Silahkan, please dst-dst). Desa Munjul (Desa Sub Urban Majalengka) terdapat tugu di tengah bundaran jalan yang kalau malam relative indah walaupun tidak semegah Tugu Monas atau Tugu Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia Jakarta.
Di Majalengka terdapat beberapa penginapan yang antara lain Hotel Putrajaya, Hotel Sederhana 1 dan 2.
Keadaan Kota Majalengka biasanya tidak panas tidak dingin, namun kalau musim kemarau Angin Majalengka relative kencang (belum tahu berapa knot/jam) sehingga ada istilah Kota Angin yang kalau dulu sering disebut “Angin Lalakina” atau angin jantan atau lelaki karena sering nyingkap-nyingkapin perempuan yang pakai rok. Sekarang mah jarang yang tersingkap karena perempuannya banyak yang pakai celana panjang dan berjilbab, atau nyingkap sendiri karena mode sehingga kelihatan udel. Memang angin kencang tersebut sepanjang hari dan malam bertiup kencang dari lubang/Liang Angin berupa lembah yang diapit Pengunungan Margatapa dan Gunung Panten yang terletak sebelah selatan Kota Majalengka.
Pusat Kota majalengka berupa Alun-Alun Majalengka (lapangan), sebagaimana ciri khas (dulu) biasanya kalau alun-alaun khususnya di Pulau Jawa dilengkapi atau berdekatan dengan mesjid, kantor pusat pemerintahan/bupati dan pohon beringin. Cuma pohon beringin besarnya sudah tidak ada sejak dulu, yang masih ada adalah Kantor Bupati dan Mesjid ditambah ... Mall berupa toserba di pojoknya..
Kota Majalengka.ini merupakan kota bersejarah dan mempunyai potensi sumber daya yang masih perlu dikembangkan dimana “Majalengka laksana mutiara terpendam yang kilap cahayanya mulai nampak kepermukaan”., kata Pak Bupatina mah, misalnya saja di wilayah Kabupaten Majalengka berpotensi penghasil Mangga Gincu, terdapat Perusahaan Bola Sepak kualitas internasional, akan dibangun Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB), pembangunan infrastruktur ruas jalan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu), dan yang tidak kalah penting adalah pembangunan Waduk Jatigede yang diperkirakan akan selesai tahun 2014.  Nakh tinggal tunggu saja mainnya.
Mohon koreksi bila ada data yang kurang tepat.
Serta … serta …. untuk tulisan ini kami cukupkan dulu sekian yang selanjutnya disambung ke Bagian 4.
Disusun dari berbagai sumber.
Tulisan terkait :
Sejarah Desa Kadipaten
Sejarah Kota Majalengka
Mangga Gedong Gincu
Bola Sepak Kadipaten Majalengka
Bandara Internasional Kertajati Majalengka 
Juga :
Tempa-Tempo Bagian 2 : Asyiknya Antara Sumedang Kadipaten
Tempa-Tempo Bagian 1 : Ada Apa Selepas Kota Bandung Menuju Sumedang
INFORMASI PETA DAN FASILITAS LAIN DALAM RANGKA MUDIK LEBARAN 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar