Senin, 23 Desember 2013

Mencairnya Es Kutub dan Kehidupan Beberapa Jenis Hewan



Dikemas oleh : Isamas54
Perubahan iklim dengan mencairnya es di kutub sangat berpengaruh terhadap lingkungan kehidupan beberapa hewan.

Pusat Keragamanan Biologi AS (CBD) merilis data 17 jenis hewan Kutub Utara dalam bahaya dan terancam punah akibat mencairnya es (2010).  Dua diantaranya adalah beruang kutub dan serigala kutub (Alopex lagopus).  Hewan-hewan tersebut telah menjadi lambang perubahan lingkungan, karena populasi mereka terus berkurang seiring dengan mencairnya lapisan es.  Laporan baru dari lembaga konservasi terkemuka di AS menyebutkan bahwa terdapat hewan lain yang juga makin mendekati kepunahan.
Pendapat lain yang mendukung pengaruh mencairnya es di kutub ini adalah flora dan fauna tropis jauh akan lebih dahulu terkena dampaknya dikarenakan lingkungan di daerah khatulistiwa ini relatif sama setiap tahunnya,  maka cukup dengan sedikit perubahan (misal suhu naik sedikit atau curah hujan berkurang) dapat merusak ekosistem. Hal ini tidak seperti Arktik dan sekitarnya yang mengalami perubahan temperatur drastis saat musim panas dan dingin.
Selain ternyata banyak juga hewan lainnya yang akan terganggu dengan siklus hidupnya akibat dari mencairnya es Kutub utara, seperti pada tulisan berikutnya.

(1).  Spesies tropis rentan perubahan iklim
Hasil prediksi pemanasan itu berasal dari meta-analisis (pendekatan statistic yang biasa digunakan dalam kedokteran untuk mengumpulkan penelitian yang sudah ada dan memeriksa tren di data) Camilo Mora dan timnya, mahasiswa Uninversity of Hawaii terhadap 39 model yang dikembangkan ilmuwan iklim dari 12 negara.  Mereka melihat temperatur permukaan, bagaimana hewan, tumbuhan, dan manusia bereaksi terhadap pola iklim baru seperti pengasaman air laut, kenaikan air laut, dan perubahan pola hujan.
Sehubungan dengan hal tersebut mereka berpendapat :  (a).  Dalam 10 tahun mendatang flora dan fauna tropis akan terkena dampak perubahan iklim, jauh lebih dahulu sebelum giliran Arktik dan beruang kutub.  (b).  Hewan dan tumbuhan yang hidup dekat garis khatulistiwa tinggal di lingkungan yang relatif sama setiap tahunnya, cukup dengan sedikit perubahan (seperti suhu yang menghangat dan sedikit curah hujan) dapat merusak ekosistem. Hal ini tidak seperti Arktik dan sekitarnya yang mengalami perubahan temperatur drastis saat musim panas dan dingin,
(c).  Tahun terdingin nanti akan melebihi panas dari tahun terpanas selama 150 tahun terakhir.  Beberapa kota di dunia akan mengalami iklim ekstrem, contohnya kota New York yang  diperkirakan tahun 2047 akan mengalami cuaca terpanas bila emisi karbon dioksida berada di tingkat seperti saat ini.  (d).  Tahun 2050, antara 1-5 miliar orang, tergantung skenario mitigasi karbon, akan tinggal di area yang terkena dampak perubahan iklim. Adapun beberapa negara tropis akan terkena dampaknya sebelum tahun 2030, seperti Kepulauan Bahama (2029), Jamaika (2023), Haiti (2025), Indonesia (Manokwari, 2020), dan Palau (2023), Sierra Leone (2028), Kamerun (2025), Gabon (2024), dan Republik Demokratik Kongo (2028).  (d).  Ramalan perubahan iklim juga termasuk pengasaman laut, pola hujan, dan kenaikan air laut.
"Kami tidak mengecilkan dampak perubahan iklim di kutub. Kami menunjukkan fakta bahwa ada potensi dampak besar di kawasan tropis," kata Mora, seperti yang dikutip dari LiveScience (2013).  Tetapi mereka belum memiliki informasi bagaimana reaksi spesies tropis terhadap perubahan iklim.
Hasil penelitian tersebut sependapat dengan Jack Williams, ahli ilmu bumi dari University of Wisconsin-Madison (tidak terlibat penelitian) yang menyatakan : Ada bukti kuat kebanyakan spesies tropis menempati rentang iklim yang lebih sempit daripada spesies di garis lintang menengah dan lebih tinggi.  Sehingga ada alasan untuk menduga spesies tropis mungkin sensitif terhadap perubahan iklim, tetapi belum jelas berapa derajat yang akan menyebabkan risiko kepunahan.

SELINGAN
Suhu paling dingin di dunia
Para ilmuwan baru-baru ini mencatat suhu terendah di Bumi di satu dataran tinggi es di Antartika Timur.  Catatan suhu terdingin ini mengalahkan catatan yang dibuat pada 1983 dan sekaligus mengungkapkan teka teki baru mengenai benua tertutup es itu.
Ted Scambos, kepala ilmuwan pada Pusat Data Salju dan Es Nasional (NSIDC), dan timnya menemukan suhu antara minus 92 sampai minus 94 derajat Celsius pada sebuah petak sepanjang 1.000 km di bagian tertinggi Antartika Timur. Pengukuran suhu ini dibuat antara 2003 dan 2013 oleh sensor Spektroradiometer Pencitraan Resolusi Moderat (MODIS) pada satelit Aqua milik NASA dan selama musim dingin Belahan Bumi Selatan oleh Landsat 8, yaitu satelit baru yang diluncurkan awal tahun ini oleh NASA dan Badan Meteorologi AS (USGS).
Seperti dikutip science daily.com, dia melanjutkan, "Saya diberi tahu bahwa setiap tarikan nafas akan terasa menyakitkan dan Anda harus luar biasa hati-hati untuk jangan sampai membekukan bagian tenggorokan atau paru-paru saat menghirup udara."  kata Scambos. 
(Mohon maaf untuk Gambar, dua wanita tersebut bukan sedang mandi di wilayah kutub, namun lagi mandi di sebuah 'hotel es')

(2).  Beruang kutub
Para ilmuwan memperkirakan bahwa es di Samudra Arktik dapat benar-benar menghilang pada 2080 nanti, kondisi lingkungan ini tentu saja sangat berpengaruh sekali terhadap kelangkaan binatang yang tinggal di sana, misalnya saja beruang kutub yang saat ini sudah termasuk dalam daftar spesies hewan yang terancam punah beberapa dekade ke depan.  Namun keberadaan mereka dapat terhindar dari kepunahan apabila emisi gas rumah kaca dapat dikurangi.
Dikabarkan bahwa 3.000 spesies beruang salju yang hidup di sekitar perairan Norwegia dan North Police di Arktik terancam punah. 
Hal ini merupakan salah satu dampak kondisi lautan es menyusut, dimana musim panas yang berlangsung lama membuat laut es tidak membentang seluas biasanya, sehingga lahan berburu beruang kutub pun semakin sempit.
“Total populasi beruang kutub dibagi menjadi 19 unit. Data terbaru dari IUCN Polar Bear Spesialist Group menunjukkan bahwa delapan unit mengalami perubahan iklim yang membuat kelangkaan beruang salju terjadi,” demikian diungkapkan WWF.
Seekor beruang kutub dapat kehilangan 10-20 kilogram berat tubuhnya setiap minggu ketika ia tidak lagi mendapat asupan makanan.
Sekitar tahun 2007, es di Kutub Utara diproyeksi akan tergerus pada pertengahan abad ini, akibatnya populasi beruang kutub akan berkurang hingga dua pertiga dari total.  Beberapa dekade setelah itu, suhu terus naik dan terlalu sulit untuk mencegah cairnya es menjadi laut, dan beruang kutub akan hilang sama sekali.  akan menjadi sejarah ketika kenaikan suhu lebih dari 1,25 derajat Celcius.  Temuan ini menyebabkan beruang kutub masuk ke dalam daftar spesies yang terancam di tahun 2008.

Gambar : Beruang Salju Ini Hentikan Laju Kapal Raksasa. Seekor beruang salju terlihat sedang menghentikan laju kapal wisata raksasa yang datang mengunjungi wilayahnya di sekitar Samudra Arktik (2013). Beruang ini menggapai tubuh kapal karena penasaran dengan benda tersebut.

Namun, penelitian baru yang dipaparkan di jurnal Nature (2010) menentang prediksi tentang titik kritis tersebut karena mencairnya es ke laut sesungguhnya bisa dibendung. Dalam simulasi komputer, yang menghubungkan faktor hubungan antara beruang kutub dan lingkungannya, menunjukkan masih ada waktu untuk mencegah bencana ekologis di Arktika.
Penurunan emisi gas rumah kaca yang signifikan, yang mana dapat mempertahankan kenaikan suhu tidak lebih dari 1,25 derajat Celcius, di akhir abad ini masih memungkinkan beruang kutub untuk bertahan.
Penelitian ini sekaligus meralat hasil penelitian sebelumnya yang juga dipimpin oleh Dr Bitz. Penelitian terdahulu mengatakan bahwa peningkatan suhu tak terkendali menyebabkan hilangnya wilayah es di Kutub Utara dalam waktu kurang dari satu dekade.
"Penelitian kami sangat menjanjikan dan penuh harapan, tetapi juga menjadi insentif bagi manusia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca," kata Dr Cecilia Bitz, salah satu ilmuwan dari University of Washington, yang dikutip VIVAnews dari Daily Mail (17/12/2010).

(3).  Karibu (Rusa kutub)
Pelelehan lautan es Kutub Utara secara tidak langsung (perubahan waktu tumbuh tumbuhan) bisa menyebabkan penurunan kelahiran dan peningkatan kematian bayi karibu di Greenland, demikian menurut ilmuwan dari Penn State University, Amerika Serikat.
Hal tersebut berdasarkan hasil pengamatan hubungan antara waktu karibu beranak dan awal masa tumbuh tumbuhan di Greenland 20 tahun yang lalu. Dimana musim tumbuh-tumbuhan bermula lebih awal, satu perubahan yang tidak bersesuaian dengan musim karibu beranak di wilayah itu.
"Sampai studi ini, mengidentifikasi faktor lingkungan penyebab perubahan ini masih menjadi tantangan terbesar," kata Post seperti dilansir ScienceDaily (2013).

Penyusutan laut es saat ini dihubungkan dengan peningkatan suhu daratan lokal di beberapa bagian Kutub Utara.
Bukti arkeologi menunjukkan bahwa karibu telah menggunakan area tersebut untuk melahirkan anak selama 3.000 tahun lebih.  Pada akhir Mei sampai awal Juni, karibu biasanya datang dari perjalanan migrasi barat-timur ke wilayah itu untuk mencari tumbuhan muda saat mereka melahirkan.
Tim peneliti menjelaskan, bahwa tumbuhan merespons suhu yang menghangat dan perubahan iklim lain dengan menyesuaikan waktu tumbuh mereka, sedangkan karibu yang siklus reproduksinya tergantung pada perubahan lama siang dan bukan suhu tetap melahirkan pada waktu yang hampir sama selama musim semi seperti biasanya.
"Karena tumbuhan muncul lebih awal, mereka sudah akan lebih tua dan telah melewati nilai gizi puncak saat karibu datang untuk memakannya. Binatang-binatang itu berharap menemukan ladang pakan, tapi mereka menemukan kafetaria yang sudah tutup,"  kata Kerby.
"Skenario ini kami sebut trophic mismatch, ketidaksesuaian antara waktu ketika tumbuhan menghasilkan nutrisi paling banyak dan waktu ketika hewan sangat bergantung pada tanaman untuk mendapat nutrisi mereka," tambah Kerby.

(4).  Diet Sapi dan Domba
Perjuangan menghadapi pemanasan global dan mengurangi emisi gas rumah kaca ternyata bukan cuma urusan manusia, serta yang memerlukan diet itu yidak hanya didominasi manusia. 

Penelitian yang disponsori Departemen Lingkungan, Pangan, dan Urusan Pedesaan Inggris (Defra) memperlihatkan ‘menu diet untuk sapi dan domba juga bisa mengurangi emisi gas rumah kaca’.
(1).  Mengganti makanan ternak dengan jagung fermentasi, gandum, dan jenis rumput berkadar gula tinggi bisa mengurangi kandungan gas metan dari kotoran ternak. (2).  Sektor pertanian menyumbang 9% dari total emisi gas rumah kaca di Inggris, sebagian besar berasal dari peternakan sapi, domba, dan kambing.  (3).  Sektor peternakan di Inggris bertanggung jawab atas 41%  emisi gas metan yang merusak lingkungan.
Percobaan yang dilakukan memperlihatkan konsumsi setiap kilogram rumput berkadar gula tinggi me­ngurangi 20% emisi gas metan dan gandum mengurangi emisi gas metan dari domba sebanyak 33%. "Dalam jangka panjang, keuntungan yang diperoleh dengan mengganti menu makanan ternak harus dipertimbangkan. Tentu harus diperhitungkan juga biaya produksi dan kesulitan untuk menerapkannya," ujar Defra (2011).

(5).  Hewan-hewan yang terancam kepunahan
Ini terjadi karena permukaan laut di kutub utara terus turun hingga ke level paling rendah sejak 2007.
Hewan-hewan kutub utara ini telah mengalami penurunan jumlah populasi akibat kehilangan habitat dan sumber makanan serta tertekan oleh hewan-hewan predator yang berpindah ke arah utara. Pusat Keragamanan Biologi AS (CBD) juga menghawatirkan kondisi hewan-hewan Kutub tersebut jika aktifitas pengeboran minyak di kawasan kutub utara itu terus berlanjut.
Diperkirakan, delapan dari 19 jenis beruang kutub populasinya terus berkurang karena harus berjuang membesarkan anak-anaknya dan berburu makanan di area yang makin sempit.
Adapun 17 spesies yang menghadapi bahaya kepunahan akibat perubahan iklim adalah : Serigala Arctic, Beruang Kutub, Singa laut Pasifik, Tiga spesies ice sea-ringed (bearded, harp and ribbon), Empat spesies Paus (grey, beluga, bowhead and narwhal), Kupu-kupu laut, Tiga spesies burung laut (Kittlitz’s murrelet, spectacled eider and ivory gull), Rusa Kutub (Caribou/reindeer) , dan lembu prajuit (Musk ox).

Sebagai catatan akhir:
(1.1).  Apabila kita tidak peduli dengan perubahan lingkungan ini maka akan banyak lagi hewan yang menghadapi resiko kepunahan, beruang kutub adalah contoh korban paling nyata dari cepatnya proses mencairnya lapisan es di Arctic.
(1.2).  Sebagai upaya kita untuk melindungi dan memelihara lingkungan hidup kita ini – termasuk flora dan fauna -- antara lain dengan menghemat energi, mengurangi emisi dan hemat bahan bakar, meminimalkan polusi, stop pencemaran, serta stop perburuan ilegal.

Keterangan gambar : diambil dari internet
Sumber bacaan a.l : Kompas 9/4/2011, news.liputan6.com 2010/09/14, tempo.co 2013/07/08, teknologi.news.viva.co.id  2010/12/17, antaranews.com 2013/12/16, 10/02 &11.

Bacaan terkait :
10 Kesalahpahaman tentang Pemanasan global (lihat Topik/Label Lingkungan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar