Rabu, 11 Februari 2015

Stroke, Gejala dan Pencegahannya



Dikemas oleh Isamas54
Stroke bisa terjadi berulang kali akibat kurang kontrol yang baik terhadap faktor-faktor risi­ko.

Data
Pria lebih berisiko Kasus stroke lebih sering, dua kali lipat, terjadi pada kaum pria ketim-bang kaum wanita. Karena, kebiasaan hidup kaum pria lebih dekat dengan faktor-faktor pencetusnya.
Otak manusia hanya 2% dari total berat tubuhnya, namun merupakan organ tubuh yang membutuhkan oksigen le­bih banyak dibanding organ lainnya, yaitu mendapat 15% curahan darah dari jantung dan menggunakan 20% dari kebutuhan oksigen seluruh tu­buh.
Stroke banyak disebabkan oleh pola hidup dan pola makan yang tidak sehat.
52% penderita stroke tidak menyadari kalau mereka berisiko tekanan stroke.
Sekitar 10-30% dari penderita stroke dimulai dengan gejala serangan otak yang ringan, bahkan dapat pulih kembali sepenuhnya.
Stroke menempati urutan ketiga sebagai penyakit mematikan setelah penyakit jantung dan kanker, dimana tanpa pengobatan, 62% penderita stroke akan mengalami kecacatan sedang sampai berat.
Stroke merupakan penyakit yang dapat dicegah layaknya penyakit jantung, sebetulnya stroke itu bukan penyakit, tetapi merupakan sindrom, dengan ridiko penderita cacat atau mati.
Gelombang pikiran penderita stroke biasanya akan melambat, sebelumnya gelombang pikiran mencapai 8 -12 second, setelah terkena stroke menjadi 4-7 second.

Umum
Stroke adalah merupakan pembunuh ketiga di dunia setelah penyakit jantung dan kanker, angka kejadian stroke pada usia muda (di bawah usia 45 tahun) saat ini semakin meningkat.
Ketika stroke menyerang, 1,9 juta sel neuron di otak mati untuk  tiap menit serangan stroke yang berlangsung.  Sebagian penderita yang dapat bertahan hidup berpotensi menyandang kecacatan yang berdampak pada kualitas hidup penderita dan ketergantungan pada orang lain.  
Karena itu, diagnosis dan penanganan yang cepat akan mencegah stroke berulang dalam waktu dekat dan mengurangi derajat potensi kecacatan.
Penyebab
Stroke disebabkan oleh terjadinya penyumbatan dan penyempitan pembuluh darah yang mengakibatkan pecahnya pembuluh darah yang menuju ke otak secara mendadak.  Hal ini bisa disebabkan oleh penyakit jantung, hipertensi
(berisiko li­ma kali lipat), diabetes mellitus (tiga kali lipat), kolesterol tinggi, obesitas (tiga kali lipat), infeksi, keturunan, dan gaya hidup tak sehat, seperti kebiasaan merokok, minum minuman beralkohol, atau konsumsi obat terlarang. Selain akibat penyumbatan, stroke juga dapat diakibatkan oleh perdarahan pembuluh darah yang biasanya disebabkan karena aneurisma (kelainan pembuluh darah), tekanan darah tinggi (hipertensi), kelainan darah, dan penggunaan obat-obatan tertentu.
Gejala
Fase awal yang paling mudah dikenali adalah timbulnya rasa kesemutan, kebas, atau tidak bisa menggerakkan anggota badan. Tanda-tanda lainnya yang biasanya muncul pada serangan stroke adalah mulut mencong, bicara pelo, salah satu lengan lebih rendah saat direntangkan, mendadak nyeri kepala, kelumpuhan pada anggota gerak atau sebagian otot wajah, kejang, kulit pucat atau kebiru-biruan, meracau atau tidak dapat bicara, penglihatan kabur, pupil mata tidak sama antara kiri dan kanan, kehilangan kontrol saluran kemih dan pembuangan, serta keringat dingin berlebih.

Serangan
Serangan stroke bisa terjadi kapan saja seperti ketika tidur, bekerja, berolah raga, mengendarai mobil, duduk santai menonton televisi, dan sebagainya.  Sehingga untuk hal ini perlu diwaspadai, dimana kejadiannya sering bisa tanpa ada peringatan, bahkan ketika orang merasa sehat-sehat saja.
Stroke terjadi apabila penyumbatan aliran darah (yang membawa oksigen dan nutrisi) ke otak akibat adanya gumpalan (plak) di pembuluh darah, yang biasanya disebabkan oleh menumpuknya kadar kolesterol dalam darah.  saat serangan terjadi, sel-sel otak akan mati, dalam istilah kedokteran disebut infarction, hal ini dapat mengakibatkan gangguan kerja organ-organ yang berhubungan dengan sel-sel otak tersebut.
Di dalam otak terdapat area sensor dan motorik, otak kanan untuk kognitif dan otak kiri untuk berbicara. Selain itu ada bagian-bagian di dalam otak ini yang bertugas  memberi perintah ke seluruh anggota tubuh, seperti untuk tangan, lengan, kaki dan sebagainya.
Apabila yang diserang otak kanan maka akan terjadi kelumpuhan pada anggota badan sebelah kiri, sebaliknya, bila otak kiri yang diserang maka tubuh bagian kanan yang diserang. 
Demikian juga pada anggota tubuh lainnya, sehingga dapat mengakibatkan menurunnnya kemampuan berbicara, bergerak, gangguan daya ingat, sampai kelumpuhan sebagian tubuh.  Ganggua ini bergantung pada jumlah sel otak yang mati, serta lokasi di otak tempat terjadinya infarction.

Tanda dan gejala
Tanda-tanda dan gejala secara berurutan dapat terjadi seperti berikut :
(a).  Biasanya diawali dengan gejala-gejala seperti tubuh terasa lemah, bahkan sulit digerakkan (lumpuh) pada satu sisi (kanan atau kiri). Tangan atau kaki di sisi yang diserang juga terjadi kehilangan fungsi, sulit digerakkan, kaki juga sulit digunakan untuk melangkah.
(b).  Terjadi ’kelumpuhan’ pada otot-otot bagian wajah, juga di salah satu sisi (kanan atau kiri). Garis mulut menjadi miring. Terasa kebas (hilang kepekaan) di sisi wajah yang ’lumpuh’, yang biasanya diawali dengan rasa kesemutan.  Biasanya juga diiringi dengan rasa pusing, mual, dan ingin muntah.
(c).  Sulit bicara, yaitu bila kondisi yang sudah cukup berat, yang bia­sanya kemudian dibarengi dengan kesulitan bicara.
(d).  Gangguan terjadi pada fung­si mulut, selain akan berbentuk menyong (turun atau naik sebelah), penderita juga biasanya akan sulit mengunyah dan menelan.
(e).  Mati sebelah.  Apabila yang dise­rang otak bagian kiri, maka gangguan yang terjadi adalah pasien akan sulit untuk berpikir bahkan jauh menurun, mengingat otak kiri berfungsi sebagai 'pemikir’.  Sedangkan kalau yang diserang otak bagian kanan, maka pasien akan mengalami kesulitan untuk mengingat sesuatu, atau akan menjadi pelupa, karena otak bagian kanan (penyimpan data).
(f).  Mati sebelah ini juga secara otomatis akan memengaruhi fungsi mata dan telinga (kiri atau kanan tergantung sisi mana yang di­serang). Pandangan menjadi kabur atau ganda, dan kepekaan pendengaran pun menjadi jauh berkurang, bahkan terasa tuli sementara.
(g).  Pada  stadium lanjut (II),  mulai salah mengenali anggota keluarganya, dan tidak mengingat lagi nama mereka. Pada stadium lebih lanjut penderita sudah sangat tergantung pada orang lain untuk hal yang mendasar dan kehilangan substansi  kepribadiannya.

Catatan : Namun ironisnya mereka sudah terserang stroke baru dibawa ke rumah sakit.

Pencegahan
Ingat pencegahan Stroke mungkin tidak dapat disembuhkan, tetapi bisa dicegah yaitu dengan menjalani pola hidup sehat dan rajin melakukan kontrol kesehatan (tekanan darah, kolesterol) secara teratur, mengatur diet dan pengobatan.  Selain itu juga perlu memahami gejala-gejala awal agar dapat dilakukan tindakan pendahuluan.  Stroke adalah serangan yang cepat dan butuh penanggulangan segera.


Untuk meminimalkan risiko terkena stroke di usia muda, maka diperlukan pengendalian faktor risiko stroke sebanyak mungkin, seperti menghindari kebiasaan merokok, mengurangi garam dan menghindari makanan yang mengandung kolesterol jahat, mengatur pola makan dengan kalori seimbang, serta berolahraga secara teratur. Tak hanya kesehatan jasmani, stroke juga dapat dicegah dengan mengembangkan pikiran yang positif serta menghindari stres. Perasaan positif yang dimiliki seseorang dipandang dapat menurunkan kadar hormon stres (kortisol) yang punya andil timbulnya stroke. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of Michigan, Amerika Serikat, terhadap 7.000 orang, menunjukkan, mereka yang punya arah dalam hidupnya punya kecenderungan 70% lebih sedikit terkena stroke

Penanganan
Di berbagai negara di dunia te­lah terbukti penanganan secara terpadu ini terbukti mampu mencegah dan meminimalkan keca­catan, komplikasi, dan kematian.
(a).  Apabila stroke ditangani secara terpadu dari beberapa unsur kesehatan (dokter, perawat, terapis, ahli gizi), ternyata untuk risiko mati dan cacat dapat dikurangi hampir sepertiganya. 
(b).  Terjadinya stroke berulang disebabkan karena kontrol faktor ri­siko yang tidak baik seperti tensi darah tinggi, gula darah naik, dsb.  Oleh karena itu orang yang sudah terkena stroke harus mendapatkan perawatan yang tepat.
(c).  Kalau terlambat dalam menanganinya bisa berubah serangan itu atau semakin luas wilayah otak yang diserang sehingga jangan sampai stroke berulang karena bila sudah berkali-kali bisa menyebabkan kualitas fisik menurun,  menjadi pelupa, daya pikir menurun serta bicara cadel (pelo).
(a).  Orang yang sudah terkena stroke pada otak kiri bila pola hidupnya tidak dikontrol bisa terjadi serangan stroke pada otak kanan. Apabila terjadi terus-menerus, selain cacat, harapan hidup pun semakin tipis.

Perkembangan
Berdasarkan data tahun 1990-an, stroke lebih sering dijumpai pada umur 45 tahun ke atas dibanding kelompok umur di bawahnya, dengan kata lain makin tinggi umur seseorang makin besar kemungkinan kena serangan stroke.  Sebanyak 60-180 orang dari 100.000 penduduk berusia 45 - 54 tahun mengalami stroke, sedangkan kelompok umur 65-74 tahun meningkat menjadi 600-1.200 per 100.000 penduduk, menderita stroke. (Kompas, 4/10/1993).


Namun dalam perkembangannya, terdapat kecenderungan jumlah pasien stroke khususnya di Indonesia yang meningkat.  Hal ini disebabkan oleh banyak factor,  seperti : umur harapan hidup semakin panjang, faktor urbanisasi (pindah ke kota) yang berakibat pada perubahan gaya hidup - antara lain kegemaran masyarakat kota makan makan fastfood (cepat saji) - dan kebiasaan merokok.
Dari hasil penelitian, gaya hidup masyarakat kota memiliki risiko 4x lebih besar dari-pada mereka yang hidup di desa. Selain itu kecenderungan penderita stroke saat ini adalah orang kaya atau kelas menengah ke atas.

Catatan akhir :
Terdapat mitos yang menyatakan bahwa stroke tidak dapat dicegah, tidak dapat diobati, hanya menyerang manula, terjadi pada jantung, penyakit kambuhan.  Namun dalam fakta atau relaitasnya, bahwa stroke sangat dapat dicegah, dapat disembuhkan dengan perawatan serius, menyerang siapa saja, terjadi di otak, dan dapat disembuhkan secara total.

  
Keterangan gambar : diambil dari internet

Sumber bacaan : femina.co.id  2013/07/23; Kompas 4/10/1993

Media Indonesia 11/6/2003; Media Indonesia 27/3/2013

Bacaan terkait : Stroke, resiko  dan Penangannya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar