Rabu, 21 Desember 2011

HIV/AIDS (2) : Data Penderita dan Penyebarannya

Dikemas oleh Isamas54
Saat ini tercatat ada sekitar 5,2 juta penderita HIV/AIDS seluruh dunia (WHO). Padahal pada tahun sebelumnya hanya tercatat 1,2 juta kasus.

Masa epidemi HIV-AIDS telah berjalan selama lebih dari satu decade dimana dengan pengobatan yang inovatif, peningkatan pelayanan kesehatan, dan komitmen politik, penderita HIV bisa hidup lebih lama dan lebih baik. 


Gambar tersebut untuk keadaan 10 tahun yang lalu
 
Harus belajar dari pengalaman dan berupaya untuk memastikan bahwa tidak ada lagi anak yang lahir terinfeksi HIV (Direktur regional WHO untuk Asia Tenggara, 1/12/2011).  Disamping itu dengan perubahan status HIV-AIDS dari wabah menjadi infeksi kronis yang dapat dikelola, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) (30/11/2011) mendesak negara-negara di Asia Tenggara fokus untuk pemusnahan infeksi terutama di kalangan anak-anak pada 2015.

Asia Tenggara
Antara tahun 2001 dan 2010, jumlah orang yang baru terinfeksi HIV menurun tajam sebesar 34 persen di Asia Tenggara. Menurut WHO, dengan perluasan fasilitas serta penyediaan layanan pengujian dan konseling, sekitar 16 juta orang telah diuji untuk HIV di seluruh Asia Tenggara.
Menurut Laporan Kemajuan WHO tentang HIV/AIDS di Asia Tenggara 2011, 3,5 juta orang diperkirakan hidup dengan HIV AIDS di 2010, termasuk 140 ribu anak-anak dan perempuan (37% dari populasi ini).  Di Indonesia, kasus epidemi penyakit ini masih terus meningkat, meskipun jumlah infeksi baru menunjukkan tren penurunan di Myanmar, Nepal, dan Thailand.
Indonesia merupakan negara dengan penularan HIV/AIDS tercepat di Asia Tenggara. Data Kemenkes menunjukkan saat ini ada sebanyak 26.400 pengidap AIDS, dan lebih dari 66.600 orang telah terinfeksi HIV positif.  66.600 orang terkena HIV positif tersebut, terdapat lebih dari 70% di antaranya generasi muda usia produktif berkisar 20-39 tahun.  Angka tersebut belum mencerminkan data yang sebenarnya. HIV/AIDS bagaikan fenomena gunung es, di mana yang terlihat hanya sekitar 20% saja. (Kepala BKKBN, 11/2011).

Kesadaran penderita
Laporan lain mengatakan, bahwa sebagian besar orang yang hidup dengan HIV tidak menyadari status mereka atau hanya 1 dari 5 ibu hamil yang memiliki akses untuk tes HIV dan konseling. Dua dari 3 ibu hamil yang terinfeksi HIV bahkan tidak menerima antivirus profilaksis.
Hanya sepertiga dari penderita HIV lanjut yang menerima perawatan antiretroviral sesuai kriteria WHO terbaru. Namun, 4 dari 5 orang yang telah memulai pengobatan masih hidup selama 12 bulan setelah dimulainya terapi.

Di Indonesia
Jumlah pengidap HIV/AIDS di Indonesia dilaporkan terus meningkat, meski secara nasional, tingkat kematian akibat virus itu menurun dari yaitu dari 3,7% pada 2010 menjadi 1,0% di 2011 (mediaindonesia.com 1/12/2011).
Perkembangan kasus AIDS di Indonesia dari tahun ke tahun yaitu :  2000 (500 orang), 2001 (219 orang), 2002 (345 orang), 2003 (316 orang), 2004 (1.195 orang), 2005 (2.639 orang), 2006 (2.873 orang), 2006 (2.873 orang), 2007 (2.947 orang), 2008 (4.969 orang), 2009 (3.863 orang), 2010 (4.158 orang), 2011-s/d juni (2.532 orang).
Jumlah orang meninggal akibat AIDS di Indonesia saat ini masih signifikan, yaitu sekitar 3.000-5.000 orang per tahun atau sekitar 10 orang yang meninggal setiap hari akibat AIDS.
Jumlah kumulatif kasus sampai juni 2011 adalah : AIDS 26.483 orang dan HIV positif 66.693 orang, dengan rincian di beberapa provinsi yaitu : Sumut 509 orang, DKI Jakarta 3.997 orang, Jawa barat 3.809 orang, Jawa Tengah 1.336 orang, DIY 637, Jawa Timur 3.775 orang, Bali, 1.747 orang, Kalbar 1.125 orang, sulut 557 orang, Sulsel 995 orang, dan Papua 3.938 orang.
ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS)  menurut pekerjaannya (tahun 2011) yaitu :  tenaga nonprofesional atau karyawan menempati urutan tertinggi yaitu 283 orang, ibu rumah tangga 147 orang, wirausaha 139 orang, serta tenaga profesional nonmedis 39 orang.  Berdasarkan data Kementerian Kesehatan 2006,  jumlah laki-laki pekerja yang menjadi pelanggan pekerja seks komersial (PSK) mencapai 3.241.244 orang dan sekitar 60% diantaranya telah menikah.
Jumlah ODHA, menurut faktor risiko tertinggi yaitu : heteroseksual sebanyak 651 orang (54,8%), diikuti penggunaan narkoba suntik sebanyak 431 orang (36,2%) serta biseksual sebanyak 39 orang (3,2%), sedangkan lainnya tidak diketahui 3,1%, lelaki heteroseksual 2,9%, perinatal 2,8%, dan transfusi darah 0,2%

Peringatan
Setiap negara memperingati hari AIDS sedunia pada tanggal 1 Desember yaitu untuk mengingatkan bahaya penyakit ini sekaligus memberantasnya. Peringatan Hari AIDS Sedunia 2011 mengambil tema “Lindungi Pekerja dan Dunia Usaha dari HIV dan AIDS”.
Wapres Boediono mengungkapkan diperlukan kerja keras untuk memberantas penyakit HIV/AIDS di Indonesia karena masih ada 10 orang per hari meninggal akibat virus tersebut. 
Selain itu diperlukan peningkatan akses penderita terhadap fasilitas kesehatan untuk mengurangi tingkat kematian. Selain itu, dibutuhkan juga mobilisasi dana dari semua pihak untuk membantu penderita kurang mampu.

Selingan
HIV di Perancis - Sejak skandal terkontaminasinya darah transfusi oleh virus HIV tahun 1985 dan sempat memasuki tubuh penderita hemofili, maka pemahaman orang Perancis telah bergeser.  Menurut pengumpulan pendapat yang disiarkan Harian L Figaro (edisi 6/4), 5% warga Perancis saat itu menakutkan AIDS sebagai penyakit paling berbahaya, menggeser ketakutan semula terhadap penyakit kanker.
Bila spektrumnya dipersempit hanya untuk mereka yang berumur 18 - 24 tahun tak kurang 71% warga Perancis yang memomokkan AIDS sebagai penyakit pembunuh yang pertama.  Ketakutan ini wajar saja. Dari seluruh negara di Eropa, kasus AIDS terbanyak di Perancis. Sejak epidemi AIDS tahun 1981, terdapat 32.000 kasus AIDS dan 110.000 orang yang positif terinfeksi virus HIV di negeri itu. Yang lebih mengenaskan, rata-rata 15 orang penderita AIDS meninggal di sana. 
Jadi saat itu yang paling ditakuti orang Perancis bukan kanker lagi, melainkan AIDS, dimana satu dari tiga orang khawatir terkena penyakit ini. (Harian Kompas, 11/4/1994).
Tidak tahu kalau sekarang, karena berita tersebut telah cukup lama.

Dilanjutkan ….

Penderita di Jakarta
Kasus penderita HIV dan AIDS diperkirakan mencapai 42.000 orang, kendati hingga Juni  2011 baru terdata 675 kasus HIV dan 509 kasus AIDS, dengan angka kematian 109 orang (Dinas Kesehatan DKI, 11/2011).  Sebagian besar proses penularan melalui jarum suntik, yaitu 27.852 kasus dan sisanya  6.715 tertular melalui pasangan seksual.
Berdasarkan profesi :  Jumlah penderita Aids menurut profesinya terdiri dari 283 karyawan, 139 wiraswasta, 147 ibu rumah tangga, 48 narapidana, 32 buruh, 27 mahasiswa/mahasiswi, 18 TNI/Polri, 17 PNSdan 14 supir.
Cara penularan (periode 2011 hingga Juni) : heteroseksual sebanyak 651 orang, penggunaan narkoba suntik 431 orang, biseksual 39 orang dan perinatal 36 orang.

Bali
Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Denpasar menyatakan, peningkatan terus-menerus kasus HIV dan AIDS di Bali menyebabkan epidemi AIDS menjadi populasi umum. (Media Indonesia, 25/9/2010).
Data HIV dan AIDS tahun 2009 yang tercatat 3.047 kasus, pertengahan tahun 2010 sudah bertambah mencapai 3.531 kasus, penularannya masih didominasi melalui hubungan seksual berganta-ganti pasangan atau 'hetero' sebesar 69 persen. Terbesar dialami oleh kaum laki-laki dengan usia antara 20-40 tahun. Sebanyak 509 laki-laki berusia antara 20-29 tahun terserang AIDS dan 164 orang adalah perempuan. Sedangkan, pada usia 30-39 tahun sebanyak 618 laki-laki dan 129 perempuan.
Penyebab banyaknya kasus HIV dan AIDS kemungkinan karena banyak orang yang baru menyadari terserang penyakit tersebut setelah memasuki fase parah karena penderita HIV baru diketahui gejalanya dalam jangka lima sampai sepuluh tahun.

Selingan
Gara-gara menulari penyakit kelamin -  Seorang polisi di Bangkok telah dituntut ke pengadilan oleh istrinya gara-gara menulari penyakit kelamin. Polisi yang tidak disebutkan identitasnya ini, kata sang istri telah menulari dirinya dengan pentakit kelamin. Akibatnya, ia mengalami penderitaan dan beban mental. Sang istri menun­tut cerai dari suaminya dan minta ganti rugi senilai Rp 20 juta. Bahkan ia juga minta suaminya diberhentikan dari dinas kepolisian, karena tidak mempunyai etika. Di depan pengadilan (4/7)  suami itu mengaku telah "jajan" seks dengan seorang “p” dan kemudian ”ml” dengan istrinya di rumah. Jadi dalam kasus ini  istrinya selain menuntut cerai juga minta agar suaminya diberhentikan dari dinas kepolisian  (Harian Kompas, 7/7/1994).  Berita selanjutnya tidak termonitor lagi.

Dilanjutkan ….
Tes atau Himbauan
Kasus penderita HIV/AIDS ini seperti gunung es yang terlihat relatif kecil jumlahnya pada bagian atas sehingga harus terus diwaspadai dengan berbagai upaya melindungi masyarakat dari virus tersebut.
Dia berharap warga yang merasa berperilaku kurang aman atau melakukan hubungan seks berisiko, sedini mungkin memeriksakan diri supaya nantinya tidak terlambat dan sudah masuk fase AIDS.
Pemeriksaan untuk mengetahui penyakit ini dinamakan 'Voluntary Counseling and Testing' (VCT).  VCT adalah tes HIV yang dilakukan secara sukarela karena pada prinsipnya tes HIV tidak boleh dilakukan dengan paksaan atau tanpa sepengetahuan orang yang bersangkutan.  Untuk Bali bisa dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah dan Puskesmas 2 Denpasar.
Siapa aja yang sebaiknya melakukan VCT, adalah orang yang melakukan hubungan seksual berisiko atau kelompok berisiko.

Kelompok berisiko
Adapun kelompok berisiko penularan penyakit HIV/AIDS adalah orang yang sering berganti pasangan melalui heteroseksual, biseksual,  pengguna narkoba suntik, dan perinatal dari ibu penderita.  
Hubungan berisiko ini bukan hanya dengan pekerja seks, gigolo ataupun waria tetapi juga orang yang melakukan hubungan seksual dengan yang tidak diketahui status HIV-nya. Selain itu pengidap HIV/AIDS bukan hanya dari kelompok berisiko tinggi saja, tetapi juga menjangkau keluarga dan masyarakat biasa termasuk ibu-ibu rumah tangga (yang tertular oleh suaminya).
Menurut (Sek. Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, 30/11/2011), (a).  Peningkatan risiko penularan baru HIV/AIDS di lingkungan kerja meliputi sektor pertambangan, perkebunan, perhubungan, dan konstruksi yang berlokasi di daerah-daerah terpencil Indonesia, Mereka umumnya berhubungan seks tanpa kondom.  (b). peningkatan kasus HIV di kalangan pekerja tergambar dari hasil pemetaan yang dilakukan KPAN pada sejumlah areal perkebunan yang selalu disertai dengan pertumbuhan industri rekreasi seks cukup pesat.
Informasi dari Kemenakertrans, bahwa belakangan ini muncul kecenderungan banyaknya industri hiburan yang menempel di sejumlah kawasan industry, sayangnya, kondisi itu tidak diimbangi dengan peningkatan akses informasi dan pelayanan terkait HIV/AIDS kepada pekerja.
Bersambung ke HIV/AIDS (3)

Keterangan gambar : sebagai ilustrasi yang diambil dari internet

Sumber : www.bisnis.com  20,24&27/11/2011 dan www.mediaindonesia.com  1/12/2011

Bacaan sebelumnya HIV/AIDS (1)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar