Senin, 27 September 2010

ISTANA BOGOR, MENGALAMI PERJALANAN SEJARAH YANG CUKUP PANJANG (Bagian 1)

Dikemas oleh Isamas54
Istana Bogor bediri di atas tanah seluas 28 hektar dengan luas bangunan 14.800 m2. Sebelum bangsa barat masuk. wilayah ini menjadi kekuasaan Kerajaan Pakuan Pajajaran yang memindahkan pusat kekuasaannya di Batutulis dari Kawali daerah Ciamis (Raja Pakuan disebut Prabu Sri Baduga Maharaja atau yang lebih dikenal sebagai Prabu Siliwangi). Istana ini merupakan salah satu dari enam Istana Presiden Republik Indonesia yang mempunyai keunikan tersendiri dikarenakan aspek historis, kebudayaan, dan fauna yang ada di sini yaitu Rusa dan dikelilingi flora bernilai ilmiah (Kebun Raya Bogor).
Sejarah dan Perkembangannya
Sebuah catatan tahun 1702 mengungkapkan, bahwa letusan Gunung Salak yang terjadi pada lahun 1699, mengakibatkan hutan lebat lokasi Pakuan Pajajaran berubah menjadi lapangan luas tanpa pepohonan sama sekali. Pada tahun 1703 ekspedisi Belanda yang dipimpin Abraham Van Riebeck menemukan ladang di lereng sungai Cipakancilan yang menandai adanya kehidupan baru di lahan bekas Pakuan Pajajaran.  Ini merupakan tahapan sejarah berdirinya Kota Bogor dimana Istana Bogor berada.
  • Istana Bogor bediri di atas tanah seluas 28 hektar dengan luas bangunan 14.800 m2. Sebelum bangsa barat masuk. wilayah ini menjadi kekuasaan Kerajaan Pakuan Pajajaran yang memindahkan pusat kekuasaannya di Batutulis dari Kawali daerah Ciamis. Raja Pakuan disebut Prabu Sri Baduga Maharaja atau yang lebih dikenal sebagai Prabu Siliwangi.
  • Kejayaan raja ini tidak lama. Pengaruh Islam – diusul dengan berdirinya Kerajaan Banten yang terus ingin memperluas wilayah di daerah pedalaman - menimbulkan pertikaian dengan Kerajaan Pakuan, bahkan hingga mengalahkannya. Tahun 1522. Surawisesa, salah satu pengganti Pakuan bekerja sama dg Portugis mengembalikan kekuasaaan Pakuan. Upaya ini gagal. Banten semakin berkuasa. Riwayat Kerajaan Pakuan tamat.
  • Munculnya IstanaBogor diawali dengan keinginan pasukan VOC membuka wilayah pedalaman tahun 1687 di bawah kepemimpinan Letnan Tanuwijaya. Hal ini dilakukan setelah mendapat persetujan dari Cirebon (1681) dan Banten (1684). Bahkan Sersan Wisnala salah pasukan VOC. Makin gencar dan berhasil mendirikan kampung Parung Angsana yang sekarang disebut Kampung Tanah Baru. Sepak terjang pasukan VOC makin gencar hingga berhasil mendirikan berbagai kampung seperti Bantar Jati, Babakan, Sempur, Bantar Kemang, dan Panaragan.
  • Mereka kemudian menyebar ke arah hulu, sehingga muncul Kampung Babakan Peundeuy dan Lebak Pasar diseberang Kali Ciliwung. Wilayah yang sangat indah ini banyak dihuni warga Sumedang dan Banten. Tahun 1744, wilayah ini menjadi semakin penting setelah Gubernur Jenderal Baron von Imhoff mengambil alih menjadi hak milik pribadi karena terkesan oleh keindahannya. Wilayah itu beli seharga 33.500 ringgit dan dinamakan Particuliere Landrijn Nangeueer en Campoeng Baroe.
  • Keindahan wilayah ini memberi inspirasi Baron van Imhoff untuk mendirikan rumah peristirahatan seperti layaknya Bonheim Palace kediaman Duke of Marlborough, nenek moyang Diana. Putri Wales, di dekat Oxford Inggris. Permohonan Van Imhoff ituy baru diterima 10 Agustus 1745. Baron menyebut tempat peristirahatan itu Buitenzorg atau ‘Terlepas dari kesulitan’.
  • Selepas Imhoff kepemilikan bangunan ini diteruskan Gubernur Jacob Mossad dengan surat keputusan Juni 1751. Di masa pemerintahan Mossel (1750-1761), Buitenzorg dibakar habis oleh Kerajaan Banten yang melancarkan serangan sekitar tahun 1750-1752 di bawah pimpinan Ratu Bagus dan Kyai Tapa. Mossel berusaha mendirikan bangunan itu kembali seperti keinginan Baron van Imhoff. Bahkan Mossel memperluasnya dengan mendirikan rumah sakit dan gereja di sekitar wilayah peristirahatan tersebut. Hanya, kepemilikan ini tidak lama. Ahli waris Mossel menjual wilayah ini kepada van de Parra seharga 33.500 ringgit.
  • Tahun 1774, wilayah ini dijual lagi kepada Regen (Bupati) Cianjur seharga 60.000 ringgit, kecuali Buitenzorg. Setelah van de Parra meninggal tahun 1775, seluruh wilayah itu, termasuk Buitenzorg, Nangewer, dan Kampung Baru dijual kepada Gubernur Jenderal van Reimsdijk seharga 41.500 ringgit. Tanggal 6 Juli 1776, wilayah itu diserahkan kepada pemerintah Belanda.
  • Jual beli terus berlanjut. Dari tangan Gubernur Jenderal van Overstiaten (1796-1801) berpindah ke Siberg (1801-1804). Sebelum VOC dibubarkan tahun 1879, wilayah ini diserah¬kan kepada Wiese (1804-1808), yang lalu menjual kepada Gubernur Jen¬deral Wellem Daendels, mewakili pemerintah Belanda yang menggantikan VOC, seharga 39.000 ringgit.
  • Di masa pemerintahan Daendels (1808-1811), bangunan Buitenzorg disempurnakan. la menambah bangunan samping kiri dan kanan Gedung Utama dengan bangunan bertingkat, masa ini tidak lama. Pemerintah Belanda jatuh ke tangan Inggris. Daendels pun digantikan Letjen Thomas Stamford Raffles dari Inggris yang berkuasa tahun 1811-1816.
  • Di tangan Raffleslah, Buitenzorg mengalami perombakan total. Raffles memperbaiki gedung induk yang semula gudang penyimpanan bahan bangunan. la juga memperindah taman dengan mengambil pola taman Inggris. Untuk melengkapinya, di halaman dilepas 3 kawanan rusa bertanduk panjang dan bebercak putih yang didatangkan dari daratan Asia. Raffles pun memperindah Istana Bogor dengan membangun Kebun Raya Bogor tahun 1817. Kebun ini seluas 85 hektar dan memiliki 16.000 spesies tumbuh-tumbuhan. Salah satu yang kini terkenal adalah bunga Rafiesia yang langsung mekar dari tanah.
  • Hanya, tak lama kemudian, situasi berubah. Kekuasaan dikembalikan lagi kepada pemerintah Belanda yang lalu mengangkat Gubernur Jenderal van der Capellen. Capellen memperindah gedung induk dengan sebuah menara, lengkap dengan kubah.
  • Sayang. keindahan ini runtuh, karena gempa dahsyat akibat letusan Gunung Krakatau tahun 1834. Untuk itu, selu-ruh bangunan yang tersisa diratakan. Penerus Capellen. Gubernur Jenderal Twist, menaruh perhatian khusus pada pembangunan kembali peristirahatan Bogor. Namun rencana itu baru terlaksana dan terselesaiakan di era pemerintahan Gubernur Jenderal Pahud de Montanger tahun 1850, dengan gaya dan corak abad ke-19 di Eropa.
  • Waktu terus bergulir. Situasi pemerintahan pun berubah, khususnya di Hindia Belanda. Tahun 1941, negeri itu jatuh ke tangan Jepang akibat serang¬an kilat Jepang. Gubernur Tjarda Starkemborgh Stachouwer menyerah tanpa syarat dan meninggalkan Buitenzorg. Sayang seribu sayang, pemerintah Jepang sama sekali tidak peduli pada keindahan Buitenzorg. Yang mereka cari hanyalah kekayaan. Karena itu di era pemerintahan Jepang hingga sekitar tahun 1945, Buitenzorg dibiarkan terbengkalai, setelah melarikan segala harta kekayaannya. Dari emas, permata, hingga tirai penutup jendela menjadi rampasan balatentara Dai Nippon. Yang tertinggal hanyalah "kaca seribu" yang berumur sekitar 130 tahun dan kaca besar lain, serta dua patung dada dari marmer.
  • Dalam keadaan porak-poranda itulah akhirnya pemerintah Belanda menyerahkan Buitenzorg kepada pemerintah RI tahun 1949, setelah berhasil merebut kembali Hindia Belanda dari tangan Jepang. Secara resmi Buitenzorg disebut Istana Bogor, namun baru resmi digunakan sebagai Istana Kepresidenan tahun 1950, setelah Belanda mengakui kedaulatan RI.
  • Presiden Soekarno yang akan menempati istana itu harus membawa sendiri tempat tidur besi model kuno dari Jakarta. Juga, melengkapi peralatan istana dengan membeli meubel dari Javahout dan tirai penutup pintu dari van der Pal. Tahun 1954, Presiden Soekarno menambah beranda depan gedung induk yang ditopang 10 tiang dengan gaya Ionia, dan serambi yang ditopang enam tiang. Selain itu, juga menambah 5 paviliun. Tahun 1964, dibangun pula Paviliun Dyah Bayurini atas permintaah Presiden Soekarno. Nama Dyah Bayurini sebenarnya dipersiapkan Presiden Soekarno untuk menyambut putri yang akan dilahirkan Nyonya Hartini. Namun karena yang dilahirkan adalah bayi lelaki, nama Dyah Bayurini digunakan seba¬gai nama paviliun tersebut. Sedang nama Bayu tetap digunakan sebagai nama putra Soekarno. Paviliun ini sekarang sering digunakan keluarga Presiden Soeharto saat berlibur di Istana Bogor.
  • Kini Istana Bogor terdiri dari Bangunan Utama, mencakup serambi depan, Ruang Teratai, Ruang Kaca Seribu, Ruang Garuda, Ruang Makan Presiden, Ruang Salon, Ruang Raja, Ruang Film, Ruang Supersemar, Ruang Konferensi Panca Negara. Lalu Sayap Kanan yg terdiri dari ruang makan, ruang tidur, serta bangunan Sayap Kiri.
  • Presiden Soekarno melengkapi istana ini dengan berbagai patung dan lukisan. Saat ini di Istana Bogor terdapat 219 lukisan dan 136 patung. Di antaranya patung "Si Denok" pahatan Trubus di halaman depan dan "Te¬ratai" di halaman belakang, yang melambangkan wanita ideal. Juga, reproduksi patung The Hands of God dari Swedia tahun 1956, serta lukisan "Sarinah" yang dilukis Bung Karno tanggal 12 November 1958.
APEC di Istana Bogor.
Sejarah terukir di Istana Bogor yaitu pada tanggal 15 November 1994 di Istana Bogor digunakan sebagai tempat Pertemuan Para Pemimpin Ekonomi APEC atau APEC Economic Leaders Meeting, yang disingkat AELM. Pertemuan dihadiri 18 pemimpin ekonomi anggota APEC. Ke-18 pemimpin ekonomi APEC itu berkumpul, membicarakan upaya peningkatan kerja sama ekonomi di kawasan Asia Pasifik, sekaligus memprediksikan dan mengantisipasi cara menghadapi perkembangan ekonomi abad 21. Karena itu. untuk kesekian kalinya. Istana Bogor menjadi saksi bisu sejarah perjuangan dan perkembangan bangsa Indonesia di kancah pergaulan regional maupun internasional.
Keterangan gambar : sebagai ilustrasi yang diambil dari internet

Sumber a.l : Istana Bogor - Dari Imhoff, Raffles, Soekarno. Kompas, 15 Nopember 1994. (pun/scl/osd/rie, dari berbagai sumber)- APEC 1994

2 komentar:

  1. postingan yang bermanfaat,semoga bermanfaat juga untuk masyarakat luas.
    bila ada waktu kunjungi juga blog saya di http://imaniar.blog.stisitelkom.ac.id/
    Terimakasih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas komentarnya. alangkah baiknya kalau jadi pengikut di blog saya. 1x tks

      Hapus