Selasa, 25 Agustus 2015

Kaki Hewan, yang Penuh Misteri



Dikemas oleh : isamas54
Kaki binatang atau hewan mempunyai misteri yang menantang bagi para meneliti untuk menguaknya.

Hewan atau binatang mempunyai anggota tubuh berupa ‘kaki’ yang fungsinya antara lain untuk bergerak, alat makan, perlindungan dan senjata. 

Sesuai habitat dan jenis makanan
Adapun hewan yang tidak mempunyai kaki secara fisik (hanya kaki semu) adalah ular, siput, dsb., yang mempunyai dua kaki seperti ayam, burung, dsb., yang mempunyai kaki empat seperti sapi, kuda, anjing, dsb.  Sedangkan binatang yang mempunyai kaki banyak (lebih dari empat) seperti berkaki enam disebut Hexapoda, berkaki delapan seperti labah-labah, sepuluh disebut oktophoda seperti kala jengking, dan yang berkaki banyak (kelompok Myriapoda) seperti kaki seribu/"lipan" (Diplopoda dlm Inggrisnya Millipede), kelabang (Chilopoda atau Inggrisnya Centipede), luwing/keluwing/Pill millipedes atau juga dikenal sebagai "potato bugs", dlsb.

Kaki elang memiliki empat jari dan setiap jari memiliki kuku yang sangat kuat. Bentuk kaki seperti ini sesuai untuk mencengkeram mangsanya dan bentuk tersebut sesuai untuk bertengger di pohon, burung elang digolongkan ke dalam burung pencengkeram.

SELINGAN : Flamingo dengan kaki palsu


Seekor flamingo mengenakan kaki palsu ketika beraktivitas di Kebun Binatang Sorocaba, Sorocaba-Brasil (1/7/15).  Flamingo Chile tersebut dipasangi kaki palsu karena bagian bawah kaki kirinya yang mengalami patah tulang telah diamputasi.
Kita lanjutkan …..

Kaki burung gelatik memiliki empat jari dan ukurannya kecil, ini memudahkan gelatik untuk bertengger pada batang padi, sehingga digolongkan ke dalam burung petengger.
Kaki bangau memiliki kaki yang panjang, jari-jari sedikit berselaput sehingga memudahkan bangau untuk berjalan di atas lumpur ketika mencari makan.
Bebek memiliki kaki yang berselaput sehingga memudahkan berjalan di atas tanah berlumpur, juga untuk berenang. Bebek termasuk ke dalam burung perenang.

Kaki-kaki yang misterius
Selain jenis-jenis kaki yang telah disebutkan sebelumnya, beberapa binatang mempunyai kaki yang ‘sedikit misterius’ seperti berikut.

(1).  Badak
http://www.mediaindonesia.com/spaw/uploads/images/article/image/20120110_113344_Badak.jpg
Badak merupakan binatang darat yang berat, namun hanya bertumpu pada empat kaki pendek dan kecil.  Misteri ini mengundang perhatian para peneliti dari Royal Veterinary College (RVC), Universitas London (2012).



Penelitian dilakukan di kebun binatang Colchester-Inggris yaitu dengan membuat jalur yang telah diberi bantalan bertekanan dan bersensor. Saat badak tersebut melewati jalur tersebut, akan diketahui mekanisme tekanan dari berat badan ke kaki mereka.
Selain itu, para peneliti membandingkan badak dan gajah, dimana gajah dan badak memiliki kesamaan dalam hal berat badan. Kaki gajah pun harus menahan berat yang luar biasa.
"Ada perbedaan dalam distribusi berat badan antara gajah dan badak pada kaki mereka,  Tekanan tertinggi di gajah ada pada bagian luar kaki, sedangkan pada badak ada di bagian dalam," kata salah seorang peneliti. 

SELINGAN : Sepatu kaki binatang

http://www.pikiran-rakyat.com/ffarm/www/imagecache/625x350/ffarm/www/2012/03/14/1403sepatu.jpg

Schieferstein (45) pernah membuatkan sepasang sepatu dari kaki kuda untuk Lady Gaga seharga 3.900 poundsterling atau Rp 56 juta.  Jenis sepatu atau alas kaki yang diciptakannya tidak lazim, lainnya adalah high heel kaki kuda, stilettos dari kulit ular, dan sendal burung dara.

Dia mengumpulkan bahan-bahan di rumah jagal di Berlin-Jerman.  Selama beberapa pekan memisahkan sisa-sisa daging dan tulang dari kaki hewan sebelum kulitnya diserahkan kepada penyamak untuk dilembutkan.  Kulit yang masih memiliki bulu tersebut kemudian dibuatkan model sepatu, diberi sol dan dijahit. "Saya menyukai kuda dan saya suka sepatu, jadi saya pikir (penggabungan) ini akan sempurna. Kuda memiliki langkah yang indah dan saya ingin menciptakannya lewat sepatu saya," tuturnya.

Bahkan perjuangan Iris di awal kreasinya membuat dia hampir dipenjara selama sepuluh tahun. Iris semula menggunakan hewan mati yang ditemukan di sisi jalan, namun hukum di Jerman melindungi hewan tersebut dengan ancaman penjara hingga sepuluh tahun. "Sekarang saya menggunakan jasa jagal. Membuat sepatu ini adalah pekerjaan kotor, memisahkan daging sungguh tidak menarik," cetusnya.  (pikiran-rakyat.com  14/03/2012 )
Kita lanjutkan …..

(2).  Gajah
Ternyata hewan gajah yang bertubuh raksasa tersebut memiliki enam jari di masing-masing kakinya.  Jari keenam ini diyakini memilki fungsi untuk membantu menahan berat tubuh gajah.  demikian hasil penelitian dari Royal Veterinary College-Inggris (2011).

Jari keenam yang sebelumnya diyakini hanya sebagai tulang rawan itu, ternyata merupakan tulang walaupun bentuknya tidak biasa, jari ini muncul seiring dengan evolusi yang dialami hewan berkuping lebar tersebut.   Lima jari konvensional pada masing-masing kaki lebih berfungsi untuk berjalan. Sedangkan jari keenam berfungsi seperti tumit untuk membantyu menahan berat tubuhnya.
Misteri seputar jumlah jari pada kaki gajah tersebut akhirnya terungkap, yaitu seperti kembali ke masa ketika untuk pertama kalinya seekor gajah dibedah oleh ahli dari Skotlandia pada 1706 lalu.

(3).  Ular
Binatang jenis ular meskipun tidak memiliki tangan dan kaki namun bisa bergerak dengan sangat mudah.  Binatang ini bisa bergerak ke atas atau ke bawah dengan bantuan berbagai benda seperti batu, batang pohon, dan lain-lain. Namun sebenarnya benda-benda sekitar tersebut hanya mempermudah ular untuk bergerak, bukan dan tidak menjelaskan bagaimana ular bergerak.  Demikian penelitian dari Institut Teknologi Georgia dan Universitas New York-AS (2009).
Percobaan dilakukan dengan meletakkan ular dalam kain yang telah diikat, ternyata ular tetap saja bisa bergerak keluar dan masuk tanpa kesulitan.
Dengan menggunakan pergesaran alat berupa struktur tulang dan skala tubuh ular dapat bergerak dengan mudah, meskipun tanpa alat bantu.  Tipe pergeseran pun berubah-ubah tergantung dari tempat ular berada.

(4).  Burung unta
Burung unta bisa berlari begitu cepat dan efisien, yaitu dengan menggunakan separuh dari energi yang diperlukan manusia pada saat berlari dalam kecepatan paling tinggi.  Demikian hasil eksperimen biomechanics ini dijelaskan dalam majalah ilmiah Royal Society Journal Interface (2010), yaitu setelah membandingkan manusia dan burung unta dalam satu lomba lari.
Dalam penelitian tersebut, menggunakan obyek 5 ekor burung unta yang "sangat jinak", kemudian mengukur gerakan berbagai anggota badan serta persendian tulang termasuk kekuatan pijak pada waktu kedua kaki burung unta menyentuh tanah.
Burung-burung unta ini lari pada jalur-lari sepanjang 50 meter yang sengaja dibuat. Pada persendian tulang unggas-unggas tersebut dipasang alat-alat reflektif serhingga gerakan hewan tersebut bisa direkam secara rinci.  Obyek penelitian lainnya yaitu 5 orang relawan melakukan hal yang cara yang persis sama, kemudian diteliti dengan bantuan beberapa kamera yang merekam mereka dari berbagai sudut pengambilan gambar.
Hasil penelitian menunjukkan, bahwa rahasianya terletak pada kelenturan atau daya lenting hewan tersebut, dimana otot-otot burung unta ini bisa menyimpan "energi elastis" dua kali lebih banyak per langkah bila dibandingkan dengan manusia.

(5).  Cecak
Rambut berbentuk spatula mikroskopik (setae) yang menyelimuti seluruh kaki cicak, membantu reptil ini bisa menempel pada permukaan apapun dengan mudah.   Setae yang lunak ini membantu kaki cicak berpegangan dengan cepat dan bebas dengan mudah.  Demikian hasil penelitian dari University of Washington-AS (2010), yang menguji pegangan cicak guna mencari tahu bagaimana peningkatan kelembaban dapat membantu mereka berpegangan erat. 

(6).  Kaki seribu
Binatang yang disebut “kaki seribu”, sebenarnya tidak memiliki kaki sebanyak seribu tetapi paling banyak hanya memiliki 200 pasang (400 kaki), sedangkan jenis lainnya hanya memiliki 20 pasang (40 kaki).  Khususnya kaki seribu, kaki-kakinya bergerak secara terkoordinasi dalam bentuk gelombang yang bergerak dari depan ke belakang sehingga menyebabkan tubuhnya berpindah.

(7).  Serangga air
Anggang-anggang berasal dari gerakannya yang maju mundur sambil mengapung , merupakan sekelompok serangga pemangsa yang semuanya termasuk dalam suku Gerridae, terdapat ada sekitar 340 jenis yang banyak dan sulit dibedakan.  Dalam literature dikenal juga sebagai ‘laba-laba air’, walau sama sekali bukan jenis laba-laba.

Kemampuan mengapung berasal dari adanya rambut-rambut sangat kecil  (microsetae) tersusun dengan arah tertentu dengan lekukan-lekukan dalam ukuran nanometer pada ujung tungkainya dan dilengkapi dengan lapisan malam (lilin), tetapi efek hidrofobik lebih disebabkan oleh struktur fisik tungkai daripada lapisan malam yang ada.  Karena rapatnya rambut-rambut kecil serta lekukan-lekukan yang ada, udara terperangkap pada struktur itu dan berfungsi sebagai ‘bantalan’ pada permukaan air.
Kemampuan bergerak dengan cepat, bertengger, dan menekan permukaan (pond skater) dengan pasangan tungkai tengahnya tanpa menembus permukaan, membentuk cekungan di permukaan yang cukup dalam untuk mendorong tubuh serangga ke depan.
Binatang carnivore ini dapat dijadikan bioindikator pencemaran air karena ia tidak bisa hidup di perairan yang tercemar, memakan serangga-serangga lain yang ada di air.  Seandainya sungai tercemar dan serangga-serangga mati maka akan kekurangan makanan dan mati, selain itu hanya dapat berdiri di air yang bersih karena air bersih memiliki tegangan permukaan, seandainya air tercemar maka molekul-molekul aiar akan terpisah, hal ini dapat terjatuh dan tenggelam, hal ini mungkin juga bisa dimakan oleh anggang-anggang yang lainnya.

SELINGAN : Terinspirasi kaki binatang air

Pembuatan materi super ringan selama ini dilakukan dengan menggunakan selulosa tanaman. Kemampuannya mengapung memungkinkannya diberlakukan seperti spon untuk membantu membersihkan tumpahan minyak di lautan.

Materi super ringan yang tengah dibuat merupakan salah satu tipe aerogel -- zat yang cairan didalamnya digantikan dengan gas tapi komponen strukturalnya dibiarkan seperti semula. Aerogel yang paling ringan masih sedikit lebih padat dibanding udara dan disebut "asap padat".  Demikian hasil penelitian yang terinspirasi dari kaki serangga air dari Helsinki University of Technology, diterbitkan pada Journal of Experimental Biology edisi 15/10/ 2010.

Aerogel yang dibuat menggunakan serat tipis dari selulosa tanaman -- polimer alami-- yang terkadang menyerupai plastik. Selulosa biasanya digunakan untuk membuat kertas dan kain.

Uji coba awal yang dilakukan pada selulosa aerogel yang dibentuk dari rancangan yang terinspirasi dari kaki serangga air menunjukan betapa ringannya materi tersebut. Mereka memperkirakan sepotong selulosa berbobot 500 gram dapat menyokong sekitar lima tumpuk lemari es berukuran standar yang bobotnya sekitar setengah ton. 

Penelitian awal juga menunjukan bahwa material tersebut merupakan spon yang sangat efisien yang dapat membantu upaya pembersihan tumpahan minyak. Aerogel berbentuk tikar mengapung dapat diseret di atas permukaan air untuk mengumpulkan tumpahan minyak yang kemudian dapat dipulihkan kembali. (Sumber: BBC)

(8).  Jejak kaki purba
Tentu tidak mudah melacak pemilik jejak-jejak kaki binatang buas purba, apalagi kalau usia jejak tersebut 250 juta tahun.  Yang kita ketahui,  yaitu pernah terjadi kepunahan besar-besaran di permukaan Bumi, yang membuat 96% spesies musnah, fenomena yang biasa disebut Kepunahan Massal Permian.  Selanjutnya menurut para ahli terjadi lagi kepunahan massal (tidak sebesar pertama), beberapa juta tahun setelahnya.
Archosauriform

Mereka yang bertahan dari Kepunahan Massal Permian dengan cepat berkembang, satu di antaranya adalah binatang berukuran besar archosauriform yang dalam bahasa Yunani berarti “kadal-kadal yang berkuasa”.  Cepat berkembang karena tidak punya kompetitor yang menghalangi kelangsungan hidupnya. 
Archosauriform berevolusi menjadi makhluk dengan tengkorak besar, beberapa di antaranya punya leher yang sangat panjang, dan ada yang bisa berdiri dengan posisi tegak.
Ketika berkembang dan mendominasi daratan, mereka berubah bentuk dari seperti kadal menjadi lebih mirip buaya seperti yang kita saksikan sekarang. Walau ada perbedaan besar antara archosauriform dan buaya.
Fosil tulang makhluk sangat sulit ditemukan yang mendorong para ahli menggunakan jejak-jejak kaki purba untuk meneliti mereka guna mendapatkan petunjuk bagaimana mereka berevolusi.

SELINGAN : Ditendang Kuda!

Seorang pria yang berasal dari negara bagian Mexico, Hidalgo, Cirilo Castillo (45), punya perilaku seks yang menyimpang senang berhubungan intim dengan binatang. Dia sudah pernah ditahan sebelumnya 270 hari pada tahun 2012 dan 180 hari pada tahun 2013 karena melakukan tindak kekerasan seksual terhadap binatang seekor kuda di sebuah peternakan sekitar Hidalgo, seperti dilansir Huffingtonpost (2015).

Namun, kali ini ia kembali melakukan tindakan yang sama dengan sebelum-sebelumnya. Hanya saja kondisinya sedikit berbeda, karena ia harus menanggung luka parah akibat tulang kakinya patah, karena seekor kuda menendang dan menginjaknya saat ia berusaha melakukan tindakannya pada binatang tersebut.

Saat kejadian, seorang deputi sheriff setempat menerima laporan dari pemilik peternakan kuda di sekitar Hidalgo. Ia menerima laporan adanya seorang pria asing yang terluka di peternakannya. Setelah mendatanginya, sheriff menemui orang yang sama dengan pelaku kekerasan seksual terhadap binatang beberapa tahun yang lalu.

Sontak, ia langsung membawa Castillo untuk mendapat perawatan di rumah sakit setempat sambil mempersiapkan berkas tuntutan dan melakukan penangkapan segera setelah pelaku pulih kembali. Pria ini diketahui sudah punya kecenderungan aneh tersebut sejak tahun 2012 kini harus menjalani hukuman kembali dan membayar denda sebesar 1000 dollar (Rp 13 jutaan). Wah, pria dengan kecenderungan ini harus diterapi nantinya supaya sembuh total.
Kita lanjutkan ……. (masih mengenai archosauriform)

Metode gabungan
Para ahli menggunakan metode gabungan dengan meneliti data tulang (skeletal) dan jejak fosil, seperti jejak kaki. Biasanya kedua data ini dipelajari terpisah, hal tidak masuk akal.  Maka dengan menggabungkan dua data, para peneliti bisa menunjukkan, ternyata jenis archosauriforms -- binatang ini bertahan dari kepunahan massal di era Permian dan mereka terus hidup ke era Triassic-- lebih banyak dari perkiraan semula,
Dimana varian dari archosauriform diyakini melahirkan dinosaurus.  Demikian seperti menurut Massimo Bernardi dari Museum Sains Muse di Trento-Italia, yang melakukan penelitian di taman geologi Bletterbach-Italia dan menemukan beberapa jejak kaki baru, seperti
dimuat dalam jurnal ilmiah PLos One (2015). 

Jejak kaki binatang purba ini diyakini sebagai nenek moyang dinosaurus.

Disimpulkan oleh peneliti tersebut bahwa jejak-jejak ini milik archosauriforms dengan bentuk anatomi yang jauh lebih maju, yang biasa ditemukan pada zaman Triassic, sekitar 10 juta tahun (setelah era Permian),  dimana archosauriforms berkembang menjadi beberapa variasi jauh lebih tua (bukan setelahnya).

Catatan akhir penulis :
Betapa maha kayanya alam semesta ini dengan berbagai misterinya.

Keterangan gambar : diambil dari internet
Sumber bacaan a.l : bbc.com (2010/10/31, 2015/07/06) ; nationalgeographic.co.id (2012/03, 2015/07/06); scribd.com; inilah.com  2010/10/19; nasional.news.viva.co.id 2009/06/10, mediaindonesia.com (2011/12/24 & 2012/01/11);  plus.kapanlagi.com 2015/06/14.

1 komentar: