Senin, 03 Juni 2013

Bertengkar Dengan Pasangan


Dikemas oleh : Isamas54
Betulkah cinta adalah perbedaan? Apakah pasangan Anda normal apabila tidak terjadi pertengkaran?.  Jawabannya ada di sini.


Bertengkar atau ‘Cekcok’ dengan pasangan merupakan hal yang dianggap wajar sehingga ada istilah ada pasangan tanpa perbedaan selisih (kata halus dari cekcok) maka pasangan tersebut dianggap tidak wajar.  Tentu saja apabila bertenggkar tersebut ke arah  yang positif tentu sangat baik – bahkan ada pasangan suami istri yang untuk meningkatkan gairahnya harus cekcok dahulu.  Tetapi kalau permasalahan tersebut sudah mengarah kepada adanya UFO (piring terbang), atau sudah adanya ‘make up lain’ alias salah satu lebam, tentu sudah di luar kewajaran, apalagi kalau sering mungkin untuk hal ini orang hanya bilang ‘hobi ngkali!’
Kita mulai ke inti persoalan …
Kata-kata apa yang paling banyak keluar dari seorang suami pada istrinya? Jawabannya ternyata adalah “makan-mandi-tidur!”.  Karena hal tersebut maka sebuah pasangan hidup bisa bertengkar sebanyak 7 kali dalam sehari?.  Bukan itu saja, karena tidak tahan dengan omelan istrinya maka dia nekad mencuri agar dipenjara ‘ternyata omelan seorang istri lebih keras dari teralis besi atau lebih menyiksa dari kehidupan di penjara’. 
Tidak cukup sampai di sana, si Pria coba melirik wanita lain yang ada dihadapannya ternyata hal ini juga mengakibatkan petaka,  ditambah dengan dengkuran pasangannya sehingga menurunkan mood-nya.
Bagaimana kelanjutannya apabila Anda dengan pasangan sudah siap-siap di tempat tidur untuk menciptakan  ‘gempa lokal’ tetapi gara-gara seekor nyamuk bisa berantakan dan menjadi ‘kiamat’ sehingga hanya punggung yang berhadapan atau salah satu pindah tempat.
Adakah cerita tersebut? Ikuti tulisan berikut.

(1).  7 Kali dalam sehari  

Sebuah survei yang dilakukan perusahaan asuransi Inggris mencatat, rata-rata pasangan bertengkar 2.455 kali dalam satu tahun, atau kalau dihitung setara dengan hampir tujuh kali sehari.
The Sun (2011) mengungkapkan angka-angka pertengkaran dari berbagai jenis pertengkaran yang didasarkan atas hasil survei perusahaan asuransi rumah Esure terhadap dari 3.000 orang, baik pasangan menikah maupun yang masih berpacaran.
Adapun jenis pertengkaran dan frekuensinya per tahun : (a).  pertengkaran kecil atau seseorang tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh pasangannya (112 pertengkaran pertahun. (b).  Kejengkelan mengenai belanja yang berlebihan terutama pada pembelian yang impulsif atau tidak penting (108).  (c).  Rasa malas (105), (d).  mendengkur saat tidur (102).  (e).  Perselisihan atau perbedaan apa yang akan dimakan untuk makan malam (92). (f).  Masuk ke rumah dengan alas kaki kotor atau terkena lumpur (80).  (g).  Menyetir terlalu kencang, dan apa yang akan ditonton di televisi (>1 kali seminggu).  (h).  Seks, terutama karena kurang atau waktunya, (88).  (i).  berbeda pendapat mengenai mendisiplinkan anak-anak (88),  memanjakan mereka (79).  (j).  Yang paling menarik adalah karena seseorang diantara pasangan tidak cukup mengatakan "Aku mencintaimu."  (69)
Jadi bertengkar setiap hari merupakan hal yang normal dan sehat?.

(2).  Cekcok dan merawat anak
Menurut hasil penelitian psikologi dipimpin Mark E Feinberg di Pennsylvania-AS yang menyurvei 156 orangtua dalam tiga waktu yang berbeda yaitu ketika bayi mereka baru lahir lalu pada usia enam bulan dan 13 bulan,  menyimpulkan bahwa pasangan suami-istri yang sering cekcok sejak bayi mereka masih dalam kandungan akan mengalami kesulitan sebagai tim kala merawat anak.
"Penemuan ini sangat menolong untuk membuktikan harmonisasi orangtua akan berpengaruh penting pada emosi anak dan hubungan sosialnya," kata Feinberg yang laporan penelitiannya dipublikasikan lewat Journal of Family Issues (2012).
Hati-hati yakh, bagi orang tua atau calon orang tua.

(3).  Keluarga di Jepang
Apa yang keluar dari mulut seorang suami Jepang sehari-hari pada istrinya, "meshi-furo-neru" (makan-mandi-tidur). Tapi, stereotipe itu agak berubah sekarang. Paling tidak pasangan di Jepang lebih banyak bercakap-cakap.
Menurut sebuah survai yang dilakukan oleh perusahaan asuransi, rata-rata setiap pasangan (usia 40 tahunan) berbincang-bincang selama satu jam 51 menit sehari, sedangkan pasangan muda masih kerap bicara dengan rata-rata dua jam 21 menit.  Kendati demikian. menurut juru bicara perusahaan itu hari (28/12/1993) para istri masih mengeluh bahwa dirinya lebih banyak bicara ketimbang suaminya. Para suami lebih banyak bergumam atau mengangguk untuk memberi persetujuan. Topik yang paling banyak dibicarakan adalah soal anak dan menyusul kemudian soal kejadian sehari-hari. 
Tidak tahu kalau perkembangannya sekarang ini?

(4).  Tak Tahan Diomeli

Karena tidak tahan mendengar omelan istrinya setiap hari, seorang pria Taiwan bernama Bai (36), lebih memilih hidup di dalam penjara yaitu dengan sengaja melakukan perampokan agar dipenjara. Demikian seperti diberitakan Nanyang Siang Pau dan dilansir The Star (22/11/2012).
Pria ini berniat melakukan perampokan di sebuah toko kelontong yang ada di kawasan Taichung-Taiwan, padahal pria ini memiliki penghasilan sendiri yaitu sebagai pemilik sebuah restoran.
Namun Bai nekat mendatangi toko tersebut bersikeras agar si penjaga toko memanggil polisi dan langsung berteriak: “Saya di sini untuk merampok. Tolong panggil polisi!”
Dia kemudian membeli sebungkus rokok dan merokok di luar toko, sembari menunggu kedatangan polisi.  Beberapa saat kemudian polisi pun datang dan menangkap Bai, namun dia kemudian dilepaskan kembali karena polisi menyatakan bahwa Bai tidak berniat serius untuk melakukan tindak kriminal.
Diketahui kemudian bahwa motif Bai melakukan hal ini adalah demi semata-mata untuk menghindari sang istri yang kerap mengomel dan marah-marah pada dirinya. 
Rupanya omelan lebih keras daripada teralis besi.

(5).  Ingin Rekonsiliasi dengan Istri?
Ingin Rekonsiliasi dengan Istri?  Maka bermainlah dengan Anak-anak Anda
Hasil penelitian (2011) yang telah dilakukan The Ohio State University, menyimpulkan bahwa dalam keluarga di mana ayah bermain lebih banyak dengan anak-anak mereka, hubungan orang tua akan lebih berkualitas. Tapi pasangan yang merawat anak-anak prasekolah mereka bersama-sama mungkin memiliki perbedaan pendapat lebih sering dari pasangan di mana ibu adalah pengasuh utama.
Metode penelitian :
Penelitian dilakukan melalui studi terhadap  112 pasangan di  Midwestern dengan seorang anak berusia 4 tahun. Pasangan menyelesaikan kuesioner yang menanyakan seberapa sering orang tua masing-masing bermain dengan anak dan seberapa sering orang tua masing-masing terlibat dalam kegiatan perawatan, seperti memandikan anak.  Para peneliti kemudian mengamati setiap pasangan selama 20 menit sementara mereka membantu anak mereka menyelesaikan dua tugas: menggambar gambar keluarga dan yang menggunakan suatu jenis mainan yang ditetapkan untuk membuat rumah.
Hasil penelitian :
Studi ini menemukan bahwa pasangan memiliki  hubungan yang lebih kuat dan lebih mendukung ketika ayah menghabiskan lebih banyak waktu bermain dengan anak mereka. Namun pasangan cenderung untuk tidak saling mendukung  jika ayah berpartisipasi lebih dalam memberikan kasih sayang.
Penelitian ini membuka secara ilmiah satu cara untuk berbagi tugas orangtua dalam keluarga mereka.
Penulis studi Sarah Schoppe-Sullivan, seorang profesor perkembangan manusia dan ilmu pengetahuan keluarga, menyatakan : "Temuan ini mengejutkan para peneliti dan mungkin mengecewakan bagi orang yang percaya pengasuhan harus dibagi sama rata oleh ibu dan ayah,"

SELINGAN (sebelum baca yang berikutnya!)
Anda semakin jarang tertawa?
http://banjarmasinpost.co.id/photo/2010/10/9a569a2fc5978325a29e6b8489f7bb11.jpg
Tertawa adalah ungkapan kebahagiaan yang bisa membuat kita lebih rileks, tertawa juga diyakini punya kekuatan menyembuhkan. Tapi tahukah Anda bahwa makin bertambahnya usia, makin jarang kita tertawa?
"Setiap periode usia memiliki skala tertawa sendiri. Kelompok usia yang paling jarang tertawa adalah di usia 50-an," kata Dr.Lesley Harbidge, peneliti dari Universitas Glamorgan.
Penelitian
Dalam penelitian yang dilakukan Harbidge, balita dan anak-anak pada umumnya tertawa 300 kali dalam sehari karena hidup bagi mereka sangatlah menyenangkan. Sementara itu kelompok remaja rata-rata tertawa 6 kali dalam sehari, dimana hal yang bisa memicu mereka tertawa adalah kesialan orang lain.
Di usia dewasa, jumlah kita tertawa makin sedikit lagi yakni tinggal 4 kali dalam sehari. Namun di usia 30-an jumlahnya akan meningkat menjadi 5 kali sehari dan terus bertambah ketika memiliki anak.  Ketika kita memasuki usia 50-an, para peneliti dari Inggris menemukan paling banyak mereka tertawa 3 kali dalam sehari dan jumlahnya menyusut menjadi 2,5 kali di usia 60 tahun. Mereka juga jarang menceritakan lelucon.
Padahal, tertawa adalah obat stres yang paling manjur. "Saat tertawa tubuh akan mengeluarkan hormon endorfin. Hari-hari yang dilengkapi dengan tawa akan membuat kita jarang terkena stres," kata Harbidge.
Para ahli juga menemukan, sifat suka marah dan mengeluh yang dialami orang tua, atau disebut Sindrom Victor Meldrew ini lebih sering dialami pria dibanding wanita.

Kita lanjutkan …

(6).  Saat liburan
Liburan seharusnya menjadi saat paling santai, terutama bagi pasangan suami istri yang sibuk dengan pekerjaan kantor, merupakan momen untuk menemukan kembali kemesraan di antara suami istri, dimana semua orang memiliki bayangan mereka sendiri tentang liburan yang sempurna.  Tetapi apabila dalam liburan tersebut terjadi perdebatan maka semua ‘keindahan’ yang dibayangkan tadi bisa berubah menjadi petaka, yang tentunya membutuhkan rekonsiliasi.
Penelitian :
Sebuah hasil survei (2012) yang melibatkan seribu warga Inggris menunjukkan bahwa penyebab yang dapat memicu pertengkaran suami istri saat liburan yaitu dari mulai suami yang memperhatikan perempuan lain secara tak sengaja sampai adanya perbedaan keinginan.
Hasil penelitian :
Sebanyak 79% pasangan mengaku mengalami dua kali pertengkaran besar saat liburan, 62% mengaku berselisih setiap hari selama liburan bahkan 6%-nya dari pasangan itu memilih pindah kamar karena bersitegang dengan pasangan.
adapun pemicu umumnya seperti suami kesal dengan kebiasaan perempuan yang terlalu lama berdandan untuk makan malam, menghabiskan banyak uang, hingga perjalanan ke bandara yang tepat waktu.
Berikut adalah 10 daftar teratas penyebab pertengkaran suami-istri saat liburan yang menjadi 'Petaka' : (1). Pria melirik perempuan lain.  (2). Satu pihak ingin melakukan kegiatan, satunya lagi ingin santai. (3). Di mana dan apa yang dimakan (4). Minum alkohol terlalu banyak (5). Membaca peta dan mengemudi (6). Mengepak (suami membawa barang terlalu sedikit, istri terlalu banyak) (7). Perempuan terlalu lama bersiap-siap untuk makan malam (8). Menghabiskan terlalu banyak uang (9). Tiba di bandara tepat waktu (10). Mata uang (berapa banyak dan di mana mendapatkannya).
mudah-mudahan ini sangat bermanfaat bagi yang saat ini akan atau sedang berlibur dengan pasangan?

(7).  Bagaimana kalau di Tempat Tidur?
Tempat tidur seharusnya adalah tempat yang paling romantis bagi pasangan untuk menghabiskan malam. Apa jadinya jika tempat ini dinodai oleh konflik-konflik kecil yang justru membuat pasangan jadi berseteru.
Penelitian :
Sebuah penelitian yang dilakukan dalam rangka menyambut Pekan Nasional Berhenti Mendengkur di Inggris telah dilakukan terhadap 2.000 orang yang sedang menjalin hubungan dengan komitmen.  Rata-rata pasangan bertengkar di kamar tidur sebanyak 167 kali dalam setahun, adapun penyebab yang paling banyak adalah karena berebut selimut dan mendengkur, sebanyak 1 dari 10 pasangan tersebut mengaku bertengkar setidaknya 2 kali dalam seminggu.
Hasil penelitian
Hasil penelitian menunjukkan : (a).  Banyak orang yang sangat terpengaruh akibat pasangannya yang mendengkur dan memonopoli selimut di tempat tidur. 
(e).  Pertengkaran lainnya adalah mengeluh tentang suhu kamar yang terlalu panas, mengijinkan anak-anak ikut tidur di ranjang, dan karena masalah suasana hati saja.
"Penelitian kami menunjukkan sebagian besar pertengkaran pasangan yang terjadi di kamar tidur berasal dari kebiasaan yang mudah diatasi seiring berkembangnya hubungan," kata Claire Haigh dari hotel Premiere Inn yang melakukan penelitian seperti dilansir Daily Mail (20/11/2012).
Masalah lain yang menyebabkan perseteruan di kamar tidur adalah pasangan yang terlalu banyak mengambil tempat di atas ranjang. Tersentuh kaki pasangan yang dingin juga dapat menyulut pertengkaran. Lucunya, berpelukan terlalu lama juga dapat menyebabkan perselisihan.

SELINGAN
Dengkuran
Masih dari hasil penelitian tersebut, tapi diutamakan tentang masalah dengkuran : (a).  Sebanyak separuh di antara seluruh peserta mengaku bahwa pasangannya mendengkur,  (b).  lebih dari setengah responden menyalahkan pria sebagai pihak yang sering mendengkur. (c).  39% responden mengaku baik pria ataupun wanita sama-sama harus disalahkan.
Jajak pendapat juga mengungkapkan bahwa rata-rata responden terganggu sebanyak hampir 2 kali dalam seminggu oleh dengkuran pasangannya, tapi pendengkur ini juga rata-rata terbangun dari tidurnya dengan napas berat hampir sekali dalam seminggu.
"Orang-orang menderita karena dengkuran dalam tingkatan yang bervariasi. Penelitian menunjukkan bagaimana sesuatu hal seperti mendengkur dapat berdampak pada kehidupan sehari-hari, terutama jika salah seorang pasangan sedang amat membutuhkan tidur," kata Haigh.

Kita lanjutkan …

10 Hal yang Paling Sering Membuat Pasangan Bertengkar di tempat tidur adalah : (1). Memonopoli selimut (2). Mendengkur (3). Kamar terlalu panas (4). Tidak 'mood' (5). Membiarkan anak-anak tidur seranjang (6). Tidur di sisi ranjang yang salah (7). Kamar terlalu dingin (8). Tersentuh oleh kaki pasangan yang dingin (9). Waktu tidur yang tidak kompak (10). Menyalakan lampu untuk membaca.

Catatan penulis :  
Memang cinta adalah perbedaan,  tetapi mempunyai komitmen yang tulus untuk saling mengisi atas segala kelebihan dan kekurangan, sehingga cekcok atau bertengkar adalah merupakan ‘bumbu’ untuk mengarah pada keseimbangan komitmen, asal dalam batas kewajaran. (milsafat, nikh ye!)
Mudah-mudahan sangat bermanfaat bagi Anda.



Keterangan gambar : sebagai ilustrasi yang diambil dari internet
Sumber editing bacaan :  health.detik.com 2012/11/20,  metrotvnews.com 2012/08/14, id.news.yahoo.com 2011/2/4, gayahidup.liputan6.com  2011/5/21, Kompas 29/12/1993, hariansib.info  22/11/12,mediaindonesia.com 2012/03/06, banjarmasinpost.co.id 2010/10/13

Tidak ada komentar:

Posting Komentar