Jumat, 13 Januari 2012

Ancang-Ancang Menuju 2014


Sejak sekarang seharusnya sudah ada pemikiran tentang kriteria menjadi pemimpin masa depan dan bagaimana sosialisasinya. Pendewasaan rakyat mengenai konsep demokrasi.

Oleh : Toeti Prahas Adhitama - Anggota Dewan Redaksi Media Group
Itulah politik! Ungkapan itu sering diucapkan kalangan politisi secara defensif, atau kalangan masyarakat secara sarkastis, bila mereka kehabisan akal untuk menganalisis teka-teki ataupun turbulensi politik yang sedang terjadi. Itu tentu menyederhanakan sekaligus melecehkan persoalan politik yang ada. Dalam rangka poli­tik transaksional, situasinya begitu kompleks, penuh intrik dan sarat tarik-ulur. Akibatnya, banyak yang memilih berdiri di pinggir menjelang 2014. Mudah-mudahan golput tidak merajalela.
Tahun baru membuka lembaran baru. Layak bahwa masing-masing menentukan sikap politik. Betapa besar pun perhatian politik yang dirasakan orang, suasana perpolitikan sekarang cenderung menimbulkan rasa tak nyaman. Mereka terpaksa angkat tangan bukan karena tidak peduli, melainkan terutama demi kepentingan politik itu sendiri. Untuk apa berpolitik bila tidak memberi kontribusi. Menerjunkan diri untuk sekadar berbangga ter­libat dalam politik, sedangkan mereka belum selesai dengan urusan sendiri, malah akan merugikan partai.

Orang muda dan politik
Perasaan yang dipaparkan tersebut mungkin ada pada kebanyakan orang muda masa kini tidak seperti kalangan muda di zaman revolusi yang penuh antusiasme melibatkan diri demi ideologi. Umumnya kalangan muda sekarang merasa lebih senang berjuang demi karier yang konkret. Dalam kehidupan sosial-ekonomi yang stabil, mereka tidak ingin repot berpolitik, sekalipun mereka tahu politik. Ini menjelaskan mengapa kalangan muda menjanjikan tidak muncul dalam arena pertarungan poli­tik. Sekitar satu dasawarsa yang lalu, ketika diwawancarai Media Indonesia, Perdana Menteri ke-3 Singapura Lee Hsien Loong, 59, yang merupakan putra perdana menteri pertama Lee Kuan Yew, memberikan penjelasan senada tentang problem perekrutan orang-orang muda Singapura untuk masuk partai politik.
Pada waktu ini, di luar arus politik, ada saja orang-orang muda Indonesia yang bersuara keras para aktivis yang oleh masyarakat disebut radikal. Mereka ingin terlibat langsung dalam masalah-masalah politik kemasyarakatan. Mereka gelisah melihat kekacauan yang ada. Mereka mengekspresikannya dalam bentuk protes, konfrontasi, dan gerakan-gerakan sosial yang awalnya eksperimental. Yang eksperimental itu bisa saja menjadi besar. Tetapi, orang muda berbuat pro-aktif itu bukan yang pertama dan bukan yang terakhir. Lagi pula untuk negara demokrasi, percikan-percikan yang menyuarakan aspirasi wajar saja.

Panggilan masa depan
Masih banyak pekerjaan rumah penting yang harus diselesaikan seperti digambarkan media massa pada bulan-bulan terakhir ini. Korupsi dan gangguan ketertiban umum yang beruntun di banyak tempat, yang disebabkan alasan sosial-politik maupun ekonomi, membuat aura pemerintahan SBY semakin redup. Tanpa hasil survei LSI pun kita merasakannya, Penegasan LSI bahwa penilaian buruk/sangat buruk mencapai 43% dari yang disurvei ibarat lonceng peringatan keras bagi RI-1.
Namun, janganlah hasil survei membuat masyarakat lalai akan tugas menghadapi masa depan. Berkutat pada persoalan-persoalan yang mungkin masih akan merongrong sampai mendekati pemilu 2014 hanya akan merugikan masa depan bangsa ini. Jangan pula kita sibuk dengan tradisi melemparkan kesalahan kepada para pemimpin apabila terjadi kegagalan. Tidak perlu berlebihan. Toh sejarah yang akan mencatat kebenaran.
Bung Karno, yang dengan kawan-kawannya berjuang hebat membangun NKRI, mendapat celaan dan hinaan pada ujung pemerintahannya. Begitu pula Pak Harto, yang berhasil dengan program pembangunannya, akhirnya bernasib serupa. Tetapi pada akhirnya prestasilah yang mengibarkan bendera keberhasilan kepemimpinan. Gajah mati meninggalkan gading.
Tahun 2012 seyogianya mencanangkan awal penyiapan para calon yang akan bertarung pada 2014 untuk menja-ring tokoh yang kita butuhkan raemimpin negara dan bangsa selama 5-10 tahun berikutnya. Tantangannya pasti jauh lebih hebat. Sejak sekarang seharusnya sudah ada pemikiran tentang kriteria menjadi pemimpin masa depan dan bagaimana sosialisasinya. Pendewasaan rakyat mengenai konsep demokrasi belum selesai. Pencerahan masih terus mereka perlukan.
Sejauh ini rakyat umumnya terkesanbersikap laisserfaire, laisser passer, sementara kalangan politik repot menawarkan wajah-wajah lama.
Partai-partai politik, sebagai pengusung dan penyalur para calon, belum kelihatan mulai mengadakan perburuan un­tuk menjaring tokoh-tokoh alternatif yang menjanjikan sesuai tuntutan regenerasi.
Menurut Lee Kuan Yew, 88, tokoh politik Singapura dan penulis buku terkenal From Third World to First (2000), untuk regenerasi, persyaratan seorang pemimpin ialah muda, berpendidikan, berotak cemerlang, mampu, dina-mis, bertanggung jawata, dan pekerja keras. "Kepemimpin­an adalah gabungan antara keberanian, tekad, komitmen, karakter, dan kemampuan yang membuat orang mengikuti kepemimpinannya...."
Sekelompok intelektual muda Indonesia dalam diskusi soal ini menyatakan para calon bisa diambil dari kalangan militer, birokrasi, universitas, profesional, dan politik. Ada yang menambahkan, un­tuk kekayaan batin, dia hendaknya memiliki kepedulian yang mengalir seperti air dan bersikap merendah seperti tanah, yang mengatur sumber penghidupan bagi semua tanpa banyak keluh kesah.

Kereangan gambar : sebagai ilustrasi (tambahan) yang diambil dari internet
Sumber : Media Indonesia tgl 13 Januari 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar